Suamiku pria dewasa

Suamiku pria dewasa
bab 15


__ADS_3

Kini semuanya telah berkumpul di ruangan lebih besar daripada yang sebelumnya, masih terlihat keheningan di dalam ruangan tersebut.


Dengan wajah syok keluarga Amy yang baru datang dan mendengar segala keterangan para saksi juga kedua polisi.


Tentu saja keluarga besar gadis itu terkejut, dengan masalah yang kini putri mereka melakukan kasus yang akan membuat nama baik keluarga tentu saja jadi bulan-bulanan para warga julid dan menjadi santapan lezat buat tetanggaku adalah musuhku.


Baba dan abah kini hanya bisa merenung, memikirkan semua masalah ini, ingin mengambil langkah damai pun akan percuma, karena desakan para saksi begitu membuat bimbang.


Begitupun dengan Alexander, yang di buat pusing dan tidak mengerti dengan kejadian ini.


Pria berkebangsaan Inggris itu, didesak untuk bertanggung jawab atas gadis yang bersamanya di dalam mobil, bagaimanapun ia harus mengikuti aturan juga sanksi yang masih berlaku dalam kehidupan warga Indonesia. Pria itu dikecam akan kehilangan identitas dirinya apabila menolak, semua saksi dan kedua polisi itu akan menahan paspor miliknya juga akan melakukan sanksi lebih berat.


Baba kini menatap lebih lekat wajah pria asing itu yang terlihat cukup dewasa, baba bisa menebak usai pria asing itu di atas 30 tahun. Membuat pria berwajah tenang dan pendiam itu hanya bisa menghela nafas panjang.


Begitu juga dengan abah, terus melirik sang pria bule juga cucunya.


"Kayak angka 10, yang satu tinggi, lah yang satu pendek bundar." Abah Mahmud berkata dalam hati yang masih melirik cucu perempuannya yang tampak beringsut takut di belakang Abangnya, sedang Alexander terlihat berkacak pinggang dengan wajah begitu stres.


Sedangkan emak dan bibi Lilis, terus memandangi sosok menjulang tinggi di hadapan mereka dengan wajah yang begitu menyilaukan kedua mata keduanya itu


"Masya Allah, ini bule satu bijik, cakep amat, ya," gumam bibi Lilis dengan tatapan berbinar.


Emak mengikuti arah pandang si adik dan benar, Alexander begitu tanpa.


"Lu, kira biji kedondong, lu katain nih bule bijik." emak berkata sinis.


"Lah, pan, dia punya bijik Mpok," ujar bibi Lilis dengan wajah biasa saja.


"Bijik ape?" tanya emak penasaran.


"Bijik lato-lato," seloroh bibi semaunya.


Emak pun menghadiahi sang adik dengan pukulan di lengan, membuat wnqita bertubuh mungil namun berisi di bagian tertentu itu, terlihat enak di pandang.


🌹🌹🌹🌹🌹


"Mpok, aku kagak nyangka, keponakanku pintar mancing," bisik bibi Lilis sambil menatap Alexander.


"Mancing?! Emak kembali membeo dengan kening mengkerut.


Bibi Lilis menoleh kesamping, di mana sang kakak duduk dan memperlihatkan wajah tidak mengerti dengan ucapannya.


"Entah dimana keponakan bar-bar aku mancing, hingga mendapat bule cakep, kayak gini," ucap bibi Lilis, yang tidak henti-hentinya memandangi Alexander.


"Lu kira anak gue perempuan apaan!" Sentak emak tanpa sengaja nada suaranya meninggi, membuat suasana yang hening tiba-tiba riuh oleh suara nyaring emak.


"Stt, jangan teriak, nanti si bule kena sawan dengan teriakan Mpok yang begitu subhanallah, membengkakkan telinga," lanjut wanita itu kembali, membuat emak semakin menahan rasa emosi.


"Amy ponakan lu, bisa-bisanya, lu ngomong kayak gitu," protes emak dengan suara berbisik.


Bibi Lilis melirik ke arah Alexander dan Amy, keduanya terlihat begitu sangat jauh berbeda.


"Kayak pohon pisang, mah, anaknya," celetuk bibi Lilis.


"Lu jangan sekate-kate, tin," sahut emak sambil menyenggol pundak bibi Lilis.


"Emang, pohon pisang anak anaknya ya, bi?" Timpal abang Alif mendekati sang emak kali ini.


Bibi Lilis terlihat mendelik ke arah keponakan tampannya itu, yang sungguh memiliki jiwa kepo yang begitu tinggi.


"Eh … Samsul, mendingan lu ninggiin sekolah lu deh, daripada ninggiin jiwa kepo lu yang kagak, ketulungan," sela bibi Lilis, memarahi keponakannya itu.

__ADS_1


Alif pun hanya mencebikkan bibirnya dan menatap sang bibi malas.


"Yaelah, bi. Alif kan cuma nanya," sahut pemuda itu.


Wajah bibi Lilis begitu sinis ke arah keponakannya itu, "kamu nanye, kamu bertanye-tanye," seloroh bibi yang mengikuti ucapan yang begitu viral di salah satu aplikasi hitam.


Alif pun memilih pindah duduk di samping sang baba, dan Amy masih belum berani mendekati si emak, takut gadis itu akan mendapatkan double hukuman.


Namun bibi Lilis memanggil keponakan imut nya untuk mendekati dengan senyum manis. Amy dengan perasaan campur aduk, melangkah pelan mendekati emak.


_____


"Jadi kami semua sepakat, dengan keputusan kami untuk melakukan sanksi pernikahan untuk keduanya, agar kedepannya bisa menjadi pelajaran untuk para remaja agar tidak melakukan perbuatan tidak terpuji di area umum." Kini pak Bambang selaku petugas kepolisian yang menangani kasus ini sudah sepakat untuk mengambil langkah tepat, untuk menikahkan mereka berdua.


Tentu saja membuat Alexander dan bawahan terkejut, begitu juga dengan Amy, yang tampak membeku.


Baba dan abah hanya bisa menarik nafas pasrah dengan keadaan, mungkin ini sudah ketentuan yang maha kuasa untuk menunjukkan jodoh dari anak perempuan di keluarga mereka.


"Alhamdulillah." Ucap emak begitu lantang dan bahagia.


Tatapan kini beralih kepada sosok wanita yang belum cukup genap berusia setengah abad. Mereka begitu keheranan melihat kegembiraan emak dengan kejadian memalukan ini.


Bibi Lilis dan Abang Alif melirik emak Nani dengan wajah tercengang, tidak habis pikir dengan kelakuan emak Nani.


Namun gadis yang kini terlihat tegang, tanpa membisu di sudut sofa. Gadis itu begitu terkejut dengan pernikahan mendadak yang disepakati akan dilangsungkan malam ini juga.


"Jadi kita akan melaksanakan ijab Kabul malam ini juga," ujar pak Bambang.


"Semua di sini yang akan menjadi saksi," lanjut pria dengan kumis tebal itu.


"Tidak! Aku keberatan dengan keputusan ini," sentak Alexander dengan deru nafas yang memburu, mencoba keluar yang semula ia anggap remeh, malah membawanya kepada masalah serius.


Kembali tatapan tajam kini tertuju kepada sosok tinggi menjulang dengan raut wajah begitu campur aduk.


"Ini juga demi nama baik cucu saya, anda harus bertanggung jawab," timpal Abah.


Sementara baba masih diam, memperhatikan wajah putri satu-satunya yang terlihat tersyok.


"Tapi saya memiliki privasi sendiri!" Ujar Alexander yang begitu geram.


"Kami tidak peduli, yang jelas, Mr harus menikah malam ini juga," timpal salah satu saksi di dalam sana.


Alexander pun hanya bisa menahan amarahnya dengan mengerang tertahan, bawahnya kini membisikkan sesuatu yang membuat pria itu hanya mampu pasrah.


"Udah Mr, lebih baik anda ikuti mereka, daripada urusan anda sulit nantinya," tandas pria bermata sipit itu.


Kini kembali hening, hanya helaan nafas yang terdengar, juga isakan yang berasal dari Amy.


"T-tapi … Amy kan, masih sekolah, juga umur Amy masih belum cukup untuk melakukan pernikahan," ujar gadis itu yang segera di peluk oleh sang bibi.


Tatapan baba semakin teduh, mendengar tangisan putrinya. Yah dikatakan sang putri benar, ia masih remaja sekolah dan usianya masih 18 tahun, masih tahap dibawah umur untuk melangsungkan pernikahan.


"Sudah aturannya neng, makanya lain kali berpikir dulu sebelum melakukan perbuatan tidak terpuji," komentar saksi yang menatap Amy sinis.


"Tolong, jaga ucapan anda, bagaimanapun putriku adalah gadis baik-baik, mungkin kejadian ini tiba-tiba dan membuat kesalahpahaman," sahut baba, membela putrinya dan begitu marah saat pria itu menggunjing Amy.


"Kalau gadis baik-baik, kagak akan berbuat seperti itu lah," timpal yang lainnya.


"Hey, Bowo. Lu kalau ngomong, ati-ati. Mau lu, gue kibas tu mulut," gertak Abah dengan wajah begitu marah.


"Sekali lagi kalian ngomong gitu tentang, gue jurus, kalian satu-satu." Abah kini berdiri dan mengancam para saksi.

__ADS_1


Semuanya pun memilih tutup mulut dan tidak berani berkomentar. Sekarang terdengar tangisan Amy di dalam ruangan itu sambil bergerak-gerak layaknya anak kecil yang meminta sesuatu kepada ibunya.


"Emak … Amy kagak mau menikah mah, bapak Mr. Emak, kagak liat, rambutnya udah putih dan wajahnya udah tua," pungkas Amy yang terus menangis, menolak pernikahan mendadak itu.


Emak memandangi wajah Alexander dari atas hingga ujung kaki pria di depannya. Dan benar yang putrinya katakan, rambut Alexander terlihat sebagian memutih.


"Itu bukan uban, tapi warna pirang. Sekarang lagi tren warna putih seperti, bapak Mr. Abang aja pengen nyoba," sahut Abang Alif yang muncul tiba-tiba mendekati adiknya.


"Tapi wajahnya tua, bang," tandas Amy dengan tangisan sesegukan.


"Lebih tua abah lah," celetuk bibi Lilis.


"Memangnya, umur si bule lele, berapa?" Tanya abah yang penasaran.


Kini emak dan bibi ikut menatap ke arah pak Bambang, dengan wajah penasaran. Begitu juga Abang dan Abah yang semakin mendekat ke arah bapak Bambang.


"Lah, pak kumis malah bengong," celetuk abang Alif, dan segera di tampol mulutnya dengan tangan emak.


"Ini, anak, benar-benar ya' jangan suka ngomong fakta di depan orangnya," bisik bibi Lilis, salah satu tangan wanita itu kini menyelip di pinggang keponakannya, memberikan cubitan pedas.


Pemuda itu pun hanya bisa diam sambil menahan ringisan, akibat jepitan jari kepiting si bibi.


"Jadi berapa usia nih lele bule?" Ulang Abah sambil menunjuk Alexander yang terlihat begitu stres.


"40 tahun," terang bapak Bambang.


"Allahu Akbar!" Seru bibi Lilis dan emak.


"Seumur Mpok," seloroh bibi Lilis.


Keluarga Amy pun begitu terkejut mendengar usia Alexander yang begitu jauh perbedaannya dengan Amy.


"Kenapa harus dijadiin istri sih, harusnya kan jadi anak angkat aja," sambung Amy yang begitu sedih dengan keputusan semua orang.


"Kagak apa, umurnya dewasa, yang lebih penting dia good looking dan tentu saja, bibit unggul," sela emak, yang tidak mempermasalahkan usia Alexander.


"Dasar, emak-emak, mata keranjang," gumam Alif.


Di tengah kericuhan di dalam ruangan itu yang di dominasi oleh keluarga abah Ahmad, yang memperdebatkan usia perbedaan Amy dan Alexander. Sementara Alexander begitu stres melihat sikap abstrak keluarga Amy yang akan menjadi keluarganya juga.


"Mr, beruntung, menemukan keluarga seramai mereka," ucap bawahan Alexander.


"Ehem," Abah berdehem, membuat suasana ramai kini hening, sejak tadi di dalam pikiran dan benak pria paruh baya itu tidak tenang, mengenai ….


"Udah potong kepala belum," cetus abah tiba-tiba yang membuat orang-orang kembali saling menatap bingung.


"Kepala?! Bibi Lilis dan emak menyahut lirih.


"Memang potong kepala apa, bah?" Tanya emak Nani dengan raut kebingungan dengan perkataan ambigu si Abah.


"Kepala sapi, ee … kambing, ee …."


"Kepala burung dalam sangkar dalaman nih bule lah, emang emak mau bibit unggul, calon cucu emak terhalang oleh segumpal daging?" Alif dengan tingkat kepekaannya tentang kemesum segera membenarkan ucapan kakeknya.


"Mr, udah potong burung unta Mr?" Tanya emak tanpa malu.


Alexander hanya bisa berkedip-kedip mendengar ucapan keluarga Amy, dengan mimik wajah kebingungan.


"Jadi perlu di sunat nih bule," sentak abah.


"Kayaknya, kagak usah pak. Mr, seorang mualaf satu bulan lalu dan juga sebelumnya beliau melakukan pemotongan burung." Bawahan Alexander pun menerangkan kepada semuanya kalau Alexander tidak perlu melakukan pemotongan kepala bawahnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah."


__ADS_2