Suamiku pria dewasa

Suamiku pria dewasa
bab 53


__ADS_3

"Nak!" Seorang wanita yang seusia mommynya, menyapa dengan lembut dan hangat.


Alex mengabaikan wanita itu yang duduk di samping istrinya. ia mendekat, lalu menatap wajah pucat sang istri.


"Badannya panas, mungkin karena terlalu lama kehujanan di luar. Mama …." Ucapan itu terhenti, saat melihat tatapan Alex yang tidak pernah menyukainya.


Wanita itu bergeser dan menjauh dari dekat Amy. Wanita bertubuh mungil itu begitu kikuk berdekatan dengan anak tirinya.


"Sudah kuduga, dia bukan putrimu tapi istri." Tiba-tiba terdengar suara bariton menimpali dan menegur.


Alex menatap sosok pria muda yang sejak tadi duduk di sofa. Ia tidak memperhatikan pria itu, mungkin Alex terlalu muak, berada di rumah ayah kandungnya sendiri.


Alex menatap lekat wajah tampan pria muda itu, ia merasa tidak asing dengan sosok tampan tersebut.


"Kakak, pasti merasa pernah melihatku bukan? Oh iya, kalau kakak tidak mampu menjaganya, biarkan saya yang melakukan kewajiban kakak, aku sanggup dan menerima gadis ini. Dia terlihat sangat imut." Tandas pria muda itu dengan senyum miring juga tatapan berani.


Ia sudah cukup dewasa untuk bisa melawan kakak tirinya ini. Sebelumnya ia sudah terlalu kenyang mendapat hina juga perlakuan kasar dari sosok Alex.


"Kelvin!" Wanita yang sejak tadi merasa tidak nyaman dengan ucapan putranya, segera menegur.


"Yang aku katakan benar, kok, ma. Kalau dia begitu imut dan manis. Bukankah, mama juga menyukainya? Daripada dia di sia-siakan begitu saja dengan pria dingin dan datar sepertinya." Lanjut pria itu yang begitu santai menghadapi sang kakak.


"Kau!" Alex pun mulai kehilangan kesabaran dan mendekat ke arah pria yang bernama Kelvin dan merupakan adiknya dari ibu sambungnya.


"Nak, maafkan adik kamu. Dia hanya bercanda," sela wanita tersebut yang berusaha menghentikan Alex untuk menyakiti putranya lagi.


"Jadi dia putra anda? Anak haram anda dari pria brengsek itu? Cih, pantas perlakuannya begitu buruk, ternyata dia di besarkan dari wanita murahan." Pungkas Alex begitu sarkas.


"Tutup mulutmu bedebah. Sudah cukup kau menghina mama dan aku tidak akan tinggal diam kali ini!" Teriak Kelvin begitu marah mendengar dirinya dan sang mama di hina.


"Kel, sudah nak, sudah. Tidak apa-apa. Sabar nak," sang mama mencoba menenangkan putranya.


"Dasar manusia sampah," ucap Alex begitu membenci kedua orang di depannya ini.


"Alexander William Mahesa!" Teriak tuan Mahesa yang baru saja memasuki kamar saat mendengar keributan di dalam kamar tamu.


"Ya, ya, ya, dan anda lebih membela mereka bukan?" Sahut Alex dengan senyum sinis.

__ADS_1


"Nak, bukan seperti itu, ma …."


"Cukup! Aku muak dan benci kalian!" Bentak Alex yang suaranya mengelegar di dalam kamar.


Membangunkan sosok wanita mungil yang tertidur di ranjang. Gadis itu terlihat terkejut dan wajahnya semakin pucat.


"Bapak Mr, sudah datang?"Amy segera menyapa suaminya, gadis itu belum sadar kalau dirinya sedang berada di tempat lain.


Alex pun mencoba menetralisir emosi dengan menarik nafas, membalikkan badan memandangi wajah Amy yang pucat sambil tersenyum.


"Kita pulang," ujar Alex yang kini berdiri di samping istri kecilnya itu.


Amy pun menjadi kebingungan, menatap aneh suaminya itu. "Pulang? Bukankah kita sudah di rumah? Kenapa kita harus pulang?" Tanya gadis itu dengan wajah begitu heran.


Kelvin yang sejak tadi begitu gemas melihat wajah Amy, segera mendekat di sisi lain gadis itu.


"Hai, kita bertemu lagi gadis manis!" Seru Kelvin dengan wajah tampan yang memamerkan senyum manis.


Amy menoleh dengan wajah terlihat bingung juga penasaran, ia merasa pernah melihat pria muda yang seusia Abangnya.


"Apa kau lupa siapa, aku?"


Amy menggelengkan kepalanya, namun ia terkejut saat merasakan tubuhnya terangkat dan kini berada di gendong suami bulenya.


"Amy bisa jalan," pungkas gadis itu, merasa aneh di lihat banyak orang. Ia baru sadar kalau sedang berada di rumah orang yang tidak ia kenal.


"Jangan, mengatakan apapun. Kita pulang sekarang!" Pinta Alex saat Amy ingin mengucapkan terimakasih kepada orang yang sudah membantunya.


Tuan Mahesa hanya bisa menatap punggung putranya dengan tatapan penuh kerinduan, sang istri menghampiri sambil mengusap lembut punggung suaminya.


"Sabar pah, suatu saat di pasti akan berubah dan merindukanmu," ucapnya dengan lembut dan wajah yang sangat keibuan yang penyayang.


"Papa hanya memikirkan, gadis itu, mah. Bagaimana kalau Siska tahu anaknya menikahi gadis yang jauh dari kriteria-nya?" Tanya tuan Mahesa dengan lirih, mengkhawatirkan, pernikahan putranya yang berakhir sepertinya. Yang jauh dari restu kedua orang tua, hingga pernikahannya berakhir pahit.


"Mama yakin, nak Alex bisa melindungi istrinya," sahut istri tuan Mahesa dengan sangat lembut.


Tuan Mahesa hanya tersenyum, nyatanya sifat dan karakter mantan istrinya sangatlah jauh dari kata ibu berhati malaikat. Di sosok wanita arogan dan sombong. Paling membenci sifat kebodohan dan kalangan masyarakat rendah.

__ADS_1


Sekali lagi tuan Mahesa menarik nafas panjang, ia membuangnya sambil memikirkan kehidupan putra pertamanya itu.


"Tidak masalah, mah, pah, kalau mommy kakak tidak menyukai gadis imut itu, Kelvin bisa menjaganya," pria muda, menimpali obrolan kedua orang tuanya yang tidak sengaja terdengar olehnya.


🌹🌹🌹


"Dingin!" Ucapan lirih keluar dari mulut menggigil gadis yang masih di gendongan Alex.


Pria itu segera membuka pintu mobil, mendudukkan tubuh istrinya yang terasa panas itu. Alex meraih jaketnya yang ada di kursi belajar, membungkuskan di tubuh Amy.


Alex menyetel kursi yang diduduki istri kecilnya itu, agar posisinya nyaman dan setelah itu membungkus tubuh sang istri dengan jaketnya yang lumayan tebal.


Alex kini duduk dibalik kemudi. Memeriksa suhu tubuh Amy yang semakin panas.


"Apa kita ke rumah sakit?" Tanya Alex sambil mengusap-usap telapak tangan Amy yang dingin.


"Tidak perlu, Amy mau pulang saja dan minum obat, nanti juga sembuh," sahut gadis itu yang melengkungkan tubuhnya.


Mendengar ucapan sang istri, Alex segera menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman mewah sang daddy.


Di perjalanan menuju apartemen, Alex terus memperhatikan Amy yang kembali memejamkan mata. Hidung mungil isterinya itu terlihat merah.


"Kenapa kau tidak menunggu di dalam sekolah?" Alex bertanya, namun tidak mendapat jawaban dari istrinya.


Alex pun hanya bisa menghela nafas panjang, berusaha lebih cepat itu tiba di apartemen.


Butuh beberapa menit hingga akhir Alex sudah berada di basement apartemen.


Alex mengangkat tubuh Amy yang semakin panas, hidung istrinya pun terlihat berarti dan bersin-bersin secara berulang kali.


Setibanya di apartemen, Alex segera berjalan menuju kamar, menidurkan istrinya di atas ranjang dan mengambil alat untuk mengecek suhu tubuh.


"Astaga, dia benar-benar demam," gumam Alex yang melihat alat pengukur suhu tubuh kini menunjukkan angka — 39 derajat Celcius.


Alex pun menjadi panik, apalagi Amy terus menggigil dan meracau tidak jelas.


"Aku harus bagaimanapun? Apakah, aku harus menghubungi dokter?"

__ADS_1


__ADS_2