
Alex kini menemani istri kecilnya sambil merawatnya. Dokter pribadinya, mengatakan kalau Amy hanya mengalami demam biasa, hanya perlu istirahat cukup dan minum obat penurun panas, maka istrinya akan pulih.
Sudah dua jam lamanya Alex terus mengompres istrinya itu, dan panas Amy pun berlarut-larut sudah turun. Tidak seperti sebelumnya yang begitu panas, membuat gadis itu terus meracau pun menggigil.
Terpaksa gadis itu harus di suntik oleh cairan penurun panas, karena sejak tadi Amy belum bangun dan membuat kesulitan untuk meminum obat penurun panas.
Alex membenarkan letak selimut istrinya, ia juga meninggalkan kecupan di kening Amy. Lantas, membawa wadah untuk mengompres istrinya.
Ia melirik jam yang ada di dinding, yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Alex berjalan keluar, menuju dapur. ia perlu memasak sesuatu untuk mengisi perutnya yang sejak tadi terasa lapar.
Pria itu mengeluarkan beberapa bahan makanan segar, Alex ingin membuat sup segera untuk istrinya, siapa tahu gadis itu terjaga.
Sementara Amy sudah mulai tersadar, gadis itu perlahan membuka kedua matanya dengan diiringi leguhan halus.
Amy mengerjap berulang kali, agar menyesuaikan pencahayaan di dalam kamar tersebut.
Gadis itu harus memaksakan diri terbangun, saat sesuatu yang sejak tadi ia tahan kini memberontak mengajaknya beranjak ke arah kamar mandi.
Amy melangkah perlahan, meskipun tubuhnya begitu lemas dan kepala yang terasa bergoyang-goyang, dirinya harus menahan dan memaksa untuk ke kamar mandi.
"Kepala, Amy pusing amat ya?" Gumamnya sambil berpegangan di dinding saat sudah berada di kamar mandi.
"Kok, penglihatan Amy, kayak gelap berkunang-kunang gini sih?" Gadis itu duduk di kloset sambil memegang kepalanya.
Amy berjalan kembali ke arah ranjang saat keluar dari kamar mandi. Gadis itu bersiap untuk merebahkan tubuh lemasnya, tapi … perutnya baru saja berbunyi nyaring. Gadis itu menyentuh perutnya yang terasa perih.
"Astaghfirullah, lambung Amy perih banget," gadis itu merintih sambil mengeluh.
"Amy kan, kagak boleh telat makan kata emak. Nanti lambungnya sakit," cicit gadis berwajah imut itu.
Dengan menghela nafas panjang, Amy terpaksa kembali berdiri. Meskipun ia begitu malas untuk mengisi perutnya yang sejak tadi keroncongan, gadis itu pun berjalan hati-hati keluar dari kamar.
Saat membuka pintu kamar, Amy mencium aroma masakan yang begitu enak, gadis itu pun tanpa sadar meneguk ludahnya dan terus berjalan menuju dapur.
__ADS_1
Amy tertegun di tempatnya, melihat sosok pria tinggi menjulang di balik dapur yang sedang sibuk membolak-balik sesuatu di atas wajah khi panggangan.
Alex yang menyadari seseorang sedang memperhatikan, segera mengalihkan perhatian ke arah depan.
Pria itu membolakan kedua kelopak matanya, melihat istri mungilnya berdiri di depan sana dengan wajah pucatnya.
"Little wife!" Seru Alex yang mencuci kedua tangannya terlebih dahulu sebelum berjalan mendekati sang istri.
"Kau sudah bangun? Kenapa tidak memanggilku?" Cerca pria tinggi itu yang kini merangkul pundak mungil istrinya dan membawa ke meja makan.
"Amy tidak dari kamar mandi, tapi … perut Amy dari tadi bunyi terus," gadis itu mengaduh dengan tatapan kedua mata berbinar sendu.
Alex tersenyum, mengusap sambil merapikan rambut istri setelah itu memeriksa suhu tubuh istrinya dengan menyentuh kening Amy juga lehernya. Setelah itu, Alex menunduk kepala untuk mencium kening juga kedua pipi istri kecilnya.
"Tetaplah, disini! Aku akan menyiapkan makan malam untuk!" Pinta Alex lembut dan sekali lagi ia mengecup kepala istrinya.
Amy patuh dengan menganggukkan kepalanya, duduk dengan kepala ia letakkan di atas meja. Kepalanya masih terasa sakit. Ia terus memperhatikan suaminya yang begitu lihai dalam memasak.
"Ternyata, selain suka marah-marah, bapak Mr, pintar masak juga." Gadis itu bermonolog sendiri sambil terus memperhatikan suaminya.
Amy mengangkat kepala, memandangi isi di dalam mangkuk yang begitu asing.
"Ini apa?" Tanyanya dengan penasaran, terus menatap lekat isi di dalam mangkuknya.
Alex yang kembali mendekati meja makan dengan sebuah piring lebar dan duduk di samping istrinya, menjawab.
"Sup!" Sahutnya yang meraih mangkuk sup Amy dan mengaduknya agar cepat dingin.
"Amy nggak mau itu. Amy mau ini." Gadis yang mengenakan piyama panjang dengan warna putih itu, menolak semangkuk sup dari suaminya.
Alex menghentikan gerakan tangannya yang berada di astaga sup, memindai wajah sang istri dengan intens.
Amy yang mendapat tatapan tajam dari sang suami, hanya bisa menundukkan kepala. Amy tidak berani mengeluarkan suara lagi, melihat wajah serius suaminya.
"Ini bagus untukmu, baby," sela Alex yang mengarahkan suapan kepada istrinya.
__ADS_1
Amy menatap aneh sup yang kini berada di depannya, dengan wajah mengernyit ragu, Amy pun menerima suapan sup suaminya.
Gadis itu pun berusaha menelannya sup tersebut, yang begitu asing di lidahnya.
Alex terus menyuapi Amy dengan sabar dan lembut. Ia tahu istrinya begitu aneh dengan sup buatannya. Tapi Amy harus menghabiskannya yang bagus untuk tubuhnya yang lemas dan meriang.
"Good, little girl." Alex memuji Amy saat mangkuk sup itupun habis.
Gadis itu hanya diam dengan wajah yang begitu menahan rasa aneh. "Sup-nya begitu aneh. Pengen gue lepehin," ucapnya dalam hati dengan wajah mengkerut.
"Boleh, Amy icip dikit?" Gadis itu begitu ngiler melihat suaminya yang menikmati satu porsi daging steak.
Amy meneguk ludahnya berulang kali, melihat potongan daging yang masuk di mulut suamiku.
Alex menghentikan tangan yang ingin menyuap potongan daging, menoleh ke samping di mana Amy menatap dengan kedua mata begitu menginginkan potongan daging yang ada di tangannya.
Alex pun kembali menghela nafas, namun pria itu tetap menyuapi Amy yang begitu lahapnya. Hingga pria berwajah tampan, tidak mendapat kesempatan untuk menyuap ke mulutnya sendiri.
"Pakai, nasi pasti tambah enak," celetuk Amy dengan mulut yang penuh makanan.
Alex mengangkat kedua alisnya mendengar ucapan sang istri, ia pun hanya bisa menggelengkan kepala, mendengar celotehan istrinya yang terlihat sudah membaik.
"Kembalilah, ke kamar! Aku akan membereskan ini semua, setelah itu menyusulmu!" Perintah Alex kepada Amy yang ikut berjalan ke dapur.
"Biar Amy aja, bapak Mr. Biasanya kan, Amy yang cuci piringnya," sahut gadis itu yang tetap ingin membantu suaminya.
Namun Alex tampak keberatan dan takut Amy kembali demam.
"Tidak! Lebih baik kau masuk ke kamar. Minum obat kamu yang ada di laci nakes!" Pinta Alex, berhasil mengurungkan niat Amy yang ingin membantunya.
Alex pun membersihkan semua peralatan masak yang ia pakai lalu membersihkan dapur.
Sedangkan Amy kini menyandarkan punggungnya dengan wajah cemberut. Ia mencari obat yang di Alex perintahkan untuk meminumnya sebelum tidur.
Amy melihat tiga macam obat di dalam sana. Gadis bermata bulat lebar itu begitu ngeri melihat bentuk pil obat yang cukup besar pada umumnya.
__ADS_1
"Buset, ini obat, atau biji nangka? Gede amat?" Ujar Amy dengan ekspresi wajah terkejut.