
Di sisi lain, tepatnya di area perumahan sederhana yang ada kawasan Jakarta. Tampak di salah satu rumah sederhana yang memiliki tingkat dua, dengan cat rumah berwarna krem, juga terdapat warung di sana. Rumah sederhana yang terlihat begitu asri dengan beberapa pohon tinggi pun tanaman bunga indah, terdapat di halaman rumah yang cukup luas. Mungkin halamannya akan muat 3 sampai 4 mobil.
Seperti yang terlihat di halaman rumah sederhana itu, terlihat mobil minibus dan mobil truk berwarna kuning.
Di dalam rumah, kini berkumpul satu keluarga dengan wajah panik juga khawatir.
Mereka sedang menunggu putri satu-satunya di rumah tersebut. Yang belum kembali dari sekolah.
Seharusnya putri mereka sudah berada di rumah dengan tingkat keberisikannya di rumah dan membuat suasana rumah sederhana itu menjadi ramai.
Tapi sudah menjelang malam, putri yang mereka khawatirkan belum juga kembali. Membuat keadaan semakin tegang dan panik.
________
"Bagaimana lif, di angkat teleponnya?" Seorang pria berusia sekitar 55 tahun bertanya kepada sosok pemuda di hadapannya.
Di sebelahnya terlihat seorang wanita yang sedang terdiam dengan wajah panik dan khawatir.
Pemuda itu menoleh, saat mencoba menghubungi seseorang di seberang sana melalui panggilan telepon di ponselnya, namun berulang kali ia melakukan panggilan, tidak kunjung juga terangkat seorang di seberang sana.
"Tidak bab!" Sahut pemuda tampan itu.
"Ya Allah, anak gadis aku kemana!" Sela wanita yang sejak tadi terdiam dengan raut sedih.
Mengkhawatirkan putri satu-satunya yang belum ada kabar. Apalagi mereka tinggal di kota yang penuh dengan ancaman.
"Baba, putri kita yang cantik dan imut kayak emak, tapi rada oon kemana?" Ujar wanita yang masih terlihat cantik di usianya 40 tahun itu.
__ADS_1
Jelas terlihat wajah panik juga khawatir wanita yang sepuluh tahun yang akan datang genap berusia setengah abad.
"Aku takut, bab. Terjadi hal buruk kepada putriku, apalagi begitu banyak kabar tentang penculikan. Ya Allah, baba … jangan sampai putri kita kenapa-kenapa." Ujar wanita itu, dengan wajah yang semakin ketakutan.
Pria yang mendapatkan pertanyaan dari istrinya hanya diam dengan raut wajah tenang. Sosok pria setengah baya yang menjadi pemimpin kepala keluarga di kediaman sederhana tersebut.
"Siapa yang mau menculik gadis bar-bar kayak Amy, Mak. Kalau aku yang jadi penjahat, mah, ogah," celetuk sosok pria muda yang kini duduk di samping wanita yang di panggil emak.
"Pletak." Emak pun mengetuk kelapa pemuda yang berusia 22 tahun itu.
"Astaghfirullah, Mak, sakit," ujarnya mengeluh sambil mengusap kepalanya yang merasa sakit kena geplak dari sang emak.
"Kalau ngomong tuh, dijaga lif, Amy tuh adek kamu satu-satunya!" Sahut si emak protes.
Pemuda tampan itu kini menutup mulutnya, saat di raup habis oleh si emak dengan ucapannya yang didengar keterlaluan.
"Pasti mereka kagak akan betah, culik si Amy mah. Yang ada mereka akan pusing, ngehadapin kelakuan putri Mpok yang bar-bar dan berisiknya, subhanallah, astaghfirullah." celetuknya lagi dengan wajah mencibir.
Emak yang mendengar ucapan wanita yang merupakan adik kandungnya langsung melayangkan tatapan tajam.
"Hey, marimar. Kalau bicara jangan asal. Amy keponakan lu," sahut emak dengan wajah sengit.
"Lah, yang aku omongin fakta Mpok," balas wanita tersebut yang memiliki postur mungil namun terlihat gemoy.
"Amy kagak bakal kenapa-napa, yakin dah," lanjut wanita tersebut sambil menghindari tatapan sang kakak.
"Saidah Samsudin!" Sentak sang emak dengan wajah garangnya.
__ADS_1
"Amy ponakan lu, seharusnya lu doain semoga dia tidak kenapa-napa, ini lu malah ngeremehin dia," amuk sang emak sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang. Menunjuk ke arah sang adik dengan kedua mata melotot.
Wanita itu bungkam dan menyusutkan tubuhnya kepada pemuda tampan di sebelahnya.
"Bibi sih, udah tahu emak lagi mode Mak lampir, malah dilawan," bisik pemuda itu kepada sang bibi.
"Lah, yang bibi katakan benar. Kalau si Amy kagak bakalan kenapa-napa, bibi cuma takut tuh, anak ngerepotin orang." Sahut sang bibi dengan suara bisik-bisik.
Pemuda itu hanya menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan sang bibi. Keduanya kini asyik saling berbisik, tanpa memperdulikan tatapan nyalang si emak.
Sedangkan sosok pemimpin di rumah tangga itu masih diam dengan wajah tenang. Tatapannya menerawang ke depan seakan memikirkan sesuatu.
"Alif!" Panggil pria itu yang biasa dipanggil baba di lingkungan rumah juga tempat tinggalnya.
"Iya bab," sahut pemuda itu cepat.
Sang emak, kembali terlihat gelisah ketika melihat jarum jam sudah menunjukkan angka 8 malam.
"Sabar Mpok, Amy pasti baik-baik aja," sang bibi kini kembali mendekati emak. Sebagai saudara ia begitu sedih melihat wajah murung sang kakak. Yang terbiasa bersuara nyaring di rumah.
"Bagaimana aku bisa tenang, tin. Anak gadis aku belum pulang, ponakan lu … tin, belum pulang sampai sekarang," racau emak yang begitu ketakutan sambil menangis lirih.
"Tin, tin, sejak kapan nama gua jadi tin-tin?" Sungut sang bibi dalam hati.
"Lif, coba kamu temui Akbar. Tanyain soal adikmu yang belum pulang …." Belum selesai baba berucap, emak pun segera bangkit dan berjalan keluar rumah.
"Waduh, gawat ini, siap-siap kita bakalan dengar suara mercon," celetuk Alif, melihat sang emak melangkah ke sebelah rumah tetangga mereka yang tidak pernah akur.
__ADS_1