
"Keputusan saya sudah bulat, Amy akan ikut dengan saya, tinggal di apartemen." Kedua orang tua Amy dan sang bibi kini melihat pria bule di hadapan, meskipun begitu sulit untuk memahami ucapan pria tampan ini, ketiganya mencoba mencari tahu apa yang sang bule bicarakan.
"Baba setuju dengan keputusan yang anda ambi, ini juga lebih baik dengan masa depan putri kami, tidak akan ada yang tahu tentang pernikahan Amy dengan anda." Baba yang memahami ucapan menantunya, menyetujui keputusan pria dewasa ini.
Mungkin ini yang terbaik untuk tetap menjaga sekolah putrinya, menjauhkan dari fitnah para tetangga yang akan mengeluarkan stigma buruk, mengenai putrinya itu.
"Tapi bab, emak mana bisa hidup berjauhan dengan putri kita," emak menyela dengan wajah khawatir.
Sekarang mereka sedang berunding di ruang keluarga, membahas tentang kehidupan Amy agar masa depan gadis itu tetap berjalan dengan biasa dan baba dan Alexander mengambil kesimpulan untuk merahasiakan pernikahan beda usia itu.
"Ini demi kebaikan Amy, Mpok," bibi Lilis ikut menimpali. "Agar Amy dijauhkan dari fitnah orang-orang sini, coba Mpok pikir, kalau para tetangga tau, pernikahan Amy yang mendadak. pasti mereka akan mengeluarkan pikir buruk tentang Amy yang menjadi …, nauzubillahi, amit-amit dah, jangan sampai keponakan ane kayak gitu." Bibi Lilis pun tidak akan bisa bayangkan apabila kabar tentang pernikahan Amy tersebar, pasti kebanyakan akan mengira Amy hamil duluan dan menjadi seorang wanita simpan.
Emak pun bergidik ngeri, membayangkan putrinya dituduh seperti yang emak Nani pikirkan.
"Tapi dia putriku, aku mana bisa berjauhan," suara emak kini terdengar bergetar, saat harus terpaksa merelakan putrinya mengikuti suami.
__ADS_1
Baba yang berada di samping istrinya, kini mencoba menenangkan sang istri. Pria itu juga masih ragu untuk melepaskan putri kecil mereka, namun ini semua juga adalah keputusan sangat tepat.
"Setidaknya, hingga dai lulus dan bisa tinggal di sini," timpal Alex. Pria itu juga paham dengan perasaan kedua orang tua istri kecilnya.
Emak dan baba terdiam, emak bahkan sudah terisak di pelukan bibi, memikirkan akan berpisah dengan putrinya yang selalu membuat rumah terasa ramai.
"Rumah bakalan sepi, tin," ujar emak lirih di pelukan bibi.
"Ngadain pengajian tiap hari, Mpok, dijamin ramai," seluruh bibi Lilis memberikan pendapat.
"Emang lu pikir gue sedang berduka, dasar jahara lu," sahut emak yang kini menghapus air matanya dan mendelik ke arah sang adik, yang tidak bisa dibawa ke suasana dramatis, ada aja celetukan bibi yang membuat momen selow ambyar.
"Kapan kalian akan pindah," baba bertanya, meskipun begitu berat rasanya untuk mengeluarkan pertanyaan itu.
Emak kembali terisak akan berpisah dengan Amy, pasti mereka akan merindukan putri cerewet mereka, yang akan membuat suasana rumah gaduh dan membuat kecerewetan emak terdengar hingga ke ujung kompleks.
__ADS_1
"Tenang, Mpok, jarak kesini ke apartemen si mantu bule cuma 2 jam, jadi kita bisa kesana liatin Amy," ujar bibi, mencoba membuat sang kakak lebih tenang.
Baba dan Alex mengangguk mengiyakan perkataan sang bibi.
"Kami akan berangkat pagi buta," sela Alex.
Baba dan emak kembali terdiam, emak bahkan semakin terisak di rangkulan suaminya.
"Ya Allah, aku harus berpisah dengan putriku," kembali emak tidak bisa membayangkan hidup tanpa putrinya ada di dalam rumah.
"Mpok, harus bersyukur, tidak ada lagi yang membuat Mpok stres, teriakan, ngamuk tiap hari." Kembali bibi menimpali, yang hanya membuat suasana sedih emak berubah jengah.
"Mending lu, siapin pakaian Amy deh, daripada lu semakin buat gue pusing," perintah emak, menyeluruh adiknya untuk menyiapkan pakaian Amy yang akan dibawa ke apartemen suaminya.
Bibi pun terpaksa melakukan perintah sang kakak, daripada dirinya harus mendengar emak Nani saryosa terus, menambah beban di telinga bibi Lilis.
__ADS_1
Ketiganya kini kembali diam, Alex bahkan merebahkan punggung kekarnya di sandaran kursi dengan kedua mata terpejam.
Baba dan emak saling diam, memikirkan putri satu-satu mereka yang akan hidup jauh dari mereka pun hidup dengan seorang pria yang baru ia kenal.