
"My, ikut pulang bareng nggak?" Sasa dan Putra kini mengajak Amy pulang bersama dengan menggunakan mobil jemputan Sasa.
Ketiganya sekarang berdiri di halte yang letaknya tidak jauh dari area sekolah dan tidak lama jemputan Sasa datang.
Sasa memang terbilang anak yang mampu, kedua orang tuanya bekerja sebagai pegawai negeri. Begitu juga dengan putra yang berasal dari keluarga berada, ayahnya bekerja di salah satu perusahaan menjabat sebagai manajer.
Hanya Amy yang berasal dari keluarga sederhana, yang mana kedua orang tuanya hanya memiliki usaha kecil-kecilan.
Emak yang memiliki warung kecil di depan rumah sederhana mereka dan baba memiliki toko bangunan yang cukup lumayan lah, usaha yang dirintis oleh kakek.
Amy menatap kedua sahabatnya ragu, soalnya suaminya, berjanji akan menjemput dan menyuruhnya menunggu di halte dan dilarang untuk ikut bersama kedua sahabatnya.
"Yaelah, nih … anak, malah bengong." Putra menegur Amy yang terlihat sedang berpikir.
Gadis itu akhirnya menggeleng setelah menimbang tawaran sahabatnya juga ancaman suami bulenya.
"Nggak, aku dijemput," sahut Amy yang mengeluarkan ponsel merk terkenal dan kekinian di hadapan kedua sahabatnya itu.
"OMG, oneng! Sejak kapan lu, punya ponsel kayak gini!" Putra berteriak heboh saat melihat ponsel Amy yang merupakan keluar terbaru dari merk terkenal.
"Apa sih, norak deh. Ini tuh di beliin sama bapak Mr," celetuk Amy yang mengambil ponselnya dari tangan Sasa yang tadi di rampas oleh sahabatnya itu.
"Lu tau, nih, ponsel harganya berapa?" Sasa menimpali sambil menunjuk ponsel dengan gambar logo apel di belakangnya dengan warna begitu kekinian dan dikhususkan buat remaja cewek.
Amy memindai ponsel yang ada di tangannya dengan lekat, lalu melirik ke arah kedua sahabat dan kembali menggelengkan kepala.
"Emang lu, kagak liat? Lagi lu bayar nih barang?" Tanya Sasa dengan raut penasaran.
"Bapak Mr, bayarnya pakai kartu hitam," jawab Amy seadanya, karena gadis itu melihat jelas, suaminya membayar menggunakan kartu.
"Itu namanya kartu kredit, mahima. Dan hanya orang berduit yang punya tuh kartu, itu artinya … lakik lu termaksud sultan." Seloroh putra yang begitu gemas melihat wajah kebingungan sahabatnya ini.
"Lah, mana Amy tau," sahut Amy cuek.
Kedua sahabat gadis itu pun hanya menarik nafas panjang dan mencoba tidak emosi menghadapi sikap sahabatnya ini.
"Dahlah, kami mau pulang dulu. Lu, yakin kagak ikut kita?" Sasa kembali bertanya kepada Amy, siapa tahu sahabatnya berubah pikiran dan ikut pulang bersama.
"Nggak, gue nunggu laki gue aja," sahut Amy, menolak lembut tawaran sahabatnya.
"Ya udah, lu, harus ati-ati. Kagak usaha kemana-mana. Sekarang lagi marak penculikan anak di bawah umur." Putra lagi-lagi menimpali, membuat gadis berwajah imut itu mencebikkan bibir mungilnya.
"Lu, kata gue anak Tk," celetuk Amy kesal dan di balas kekehan dari kedua sahabatnya.
"Pan, tinggi lu kayak anak sd kelas 6, jadi lu, kudu hati-hati. Nanti disangka anak di bawah umur," tandas Putra yang kembali tertawa puas.
__ADS_1
"Dasar sahabat jahara! Kalian kagak liat, gue pake rok abu-abu, hah!" Pekik Amy kesal kepada kedua sahabatnya itu.
Wajah Amy begitu menahan kekesalan kepada kedua sahabatnya yang selalu membuatnya kesal itu.
"Cup, cup, anak kecil dilarang marah-marah, nanti lekas tua," balas Putra yang lagi-lagi tertawa di ikuti kekehan geli, Sasa.
"Pe'a!" Pekik Amy yang begitu kesal, ingin menarik rambut Putra, namun kedua sahabatnya itu sudah berlari menuju arah mobil jemputan, Sasa.
Dengan wajah penuh kesal, Amy kembali duduk di bangku yang sudah di siapkan di halte.
Sembari menunggu suaminya, Amy mencoba fitur yang tersedia di dalam ponselnya. Ia juga melakukan selfi ria dengan beberapa gaya dan ekspresi wajah yang begitu lucu.
Gadis itu tersenyum melihat hasil jepretannya sendiri. Gadis itu sungguh puas dan bangga dengan ponsel barunya.
"Pantas aja mahal, hasilnya fotonya aja sebagus ini." Gadis berwajah imut itu berkata lirih, tanpa memperhatikan sekitarnya yang sudah sepi.
Akbar yang sejak tadi memantau Amy segera mendekati temannya itu, saat melihat sekitar gadis itu sudah sunyi.
"Kamu ganti nomor, My?" Akbar segera duduk di samping Amy dan bertanya. membuat gadis itu terloncat kaget.
"Astaghfirullah, hampir saja jatuh," gumamnya saat ponselnya hampir jatuh.
Melihat benda mahal yang ada di tangan Amy, Akbar menajamkan kedua pandangannya ke arah ponsel mahal yang Amy pegang.
Tatapan pemuda itu juga berpindah ke Amy, Akbar begitu penasaran dari mana Amy mendapatkan benda mahal tersebut.
Setahu pemuda itu, kedua orang tua Amy pasti tidak akan mampu membeli benda berharga puluhan juta yang ada di tangan Amy.
Gadis bermata jernih itu menoleh ke samping dengan kening mengkerut. Amy sadar dengan kecerobohannya, pasti Akbar bertanya karena pemuda itu tahu tentang dirinya.
Amy berdehem dan mencoba untuk menguasai diri agar tidak gugup. "Bukan urusan lu!" Sahut Amy dengan sedikit ketus.
Akbar pun semakin bingung dengan sikap Amy yang begitu banyak perubahan.
"Lu, berubah setelah pindah, My?" Akbar bergumam dengan tatapan sendu ke arah Amy.
Amy pun semakin salah tingkah dan bingung harus bagaimana, haruskah dia pergi? "Nanti dia tersinggung lagi," Amy membatin sambil melirik Akbar.
"Nggak kok, mungkin perasaan lu aja kali," sahutnya dengan raut tenang. Padahal ia begitu panik setengah mati, berdoa dalam hati agar status barunya sebagai istri bule tidak terbongkar sebelum ujian sementara akhir selesai.
Akbar pun hanya tersenyum tipis, ia pun merasa Amy benar-benar menghindarinya.
Ia hanya diam sambil memandangi Amy yang asyik dengan ponsel barunya itu.
"Lu, balik ke rumah kompleks?" Lagi-lagi Akbar bertanya.
__ADS_1
Amy kembali menoleh dan gadis itu menggeleng. Sebenarnya ia ingin mampir di tempat emak, tapi … gadis itu mengingat pesan suaminya.
"Lu, kagak kangen apa sama emak dan baba?" Akbar mencoba mengajak Amy berbicara agar hubungan mereka kembali membaik.
Sedangkan Amy diam sambil berpikir, menimang pertanyaan Akbar juga pesan suaminya. Namun tiba-tiba, ia mengingat nasehat emak Nani yang mengatakan, harus taat kepada suaminya. Amy pun hanya bisa menghela nafas panjang dan kembali menggelengkan kepala.
Melihat itu, Akbar menjadi tidak semangat. Ia yang berharap bisa pulang bersama seperti dulu harus kecewa.
"Sekarang kamu tinggal di mana?" Akbar kembali bertanya dengan wajah yang penasaran.
Namun baru saja Amy ingin menjawab, tiba-tiba terdengar suara motor mendekat. Amy dan Akbar mengarahkan pandangan kepada motor tersebut.
"Amy!" Seru pria tinggi yang turun dari motor besarnya dengan terburu-buru.
Amy membeku dengan wajah terkejut melihat sosok tinggi dan tampan di depannya.
Tapi tidak dengan Akbar yang berdecak kesal dengan kedatangan Abangnya itu.
"Bang Sesar?! Gumam Amy dengan suara lirih.
Pemuda tampan itu mengangguk kepalanya dan tersenyum manis kepada Amy.
"Udah lama Abang kagak liat lu, My," ucap pria yang tinggi menjulang di hadapan Amy.
Amy masih menatap dengan kepala mendongak kepada pria yang merupakan pujaan hatinya itu.
"Lu, mau pulang? Biar Abang antar," pria itu bertanya dan menawarkan diri untuk mengantar Amy.
Akbar pun tidak terima dan segera menyela ucapan Abangnya itu yang menjadi saingannya.
"Terus gue mau di apain, bang," sela Akbar dengan kesal.
Amy dan Sesar menoleh ke arah Akbar. "Eh, dek, Abang antar Amy dulu, lu tunggu disini aja," ujar Sesar menjelaskan.
Namun sepertinya Akbar menolak, ia tidak akan membiarkan Abangnya dekat-dekat dengan Amy.
"Kagak, mending antar Akbar pulang," seloroh Akbar segera menarik Abangnya itu dari hadapan Amy.
"Bentar, Amy gimana? Kasihan sendiri disini," timpal Sesar yang terus menatap Amy.
"Nggak apa-apa kok, bang, Amy juga lagi tunggu jemputan," sahut Amy dengan senyum canggung.
"Noh, dengar kan? Dia juga lagi nungguin jemputan, jadi … jangan sok perhatian, mau, Abang di omelin mamah!" Akbar pun menarik Sesar mendekati motor.
Sesar pun hanya bisa pasrah sambil menatap Amy. Sedangkan Amy hanya membalas senyuman kedua pria itu dengan terpaksa.
__ADS_1
Gadis itu kini bisa bernafas lega melihat kedua tetangganya pergi. Amy hanya takut mereka melihat Alex dan berpikir yang nggak-nggak dan timbul gosip tidak sedap di kawasan kompleks rumah emak