Suamiku pria dewasa

Suamiku pria dewasa
bab 68


__ADS_3

“Plak.” Suara tamparan terdengar di kerumunan para pengunjung salah satu pusat perbelanjaan yang terkenal di kota Jakarta.


Tampak terlihat wanita bertubuh mungil dengan body bohay, sedang menatap sengit ke arah sosok pria yang kini memegangi sebelah pipinya yang mendapatkan tamparan.


Wajah pria itu begitu terkejut, tiba-tiba saja seorang wanita yang tingginya hanya sebatas dadanya memberikan tamparan juga tatapan mengerikan.


Wajah pria itu begitu tercengan sambil menatap sosok mungil di depannya ini. Kini keduanya menjadi pusat perhatian para pengunjung lain yang ada di sekitar mereka.


“M-maaf, kak. saya benar-benar tidak sengaja,” ucap pria itu dengan wajah orientalnya


menampilkan kesan menyesal.


Wanita mungil di depannya bereaksi tidak terima setelah mendapatkan perlakuan tidak sopan dari pria sipit di depannya. Dengan wajah terangkat ke atas dan tatapan emosi, wanita itu kini berkacak pinggang dengan sikap berani.


“Hei, Turkiman! Emang ini bukittinggi bersejarah peninggalan dinasti nenek moyang, lu, hah! Enak aja make nemplok aja tangan, lu!” Wanita itu begitu murka sambil menjambak rambut rapi pria itu.


“Ini bukit kembar bersejarah dan masih fresh belum pernah di daki ama siapapun! dan lu, datang-datang langsung nyetak gunung, gue. Dasar mesum!” teriaknya nyaring, masih menarik rambut pria tinggi di depannya, wanita itu bahkan, kini melompat dan memeteng leher pria berkulit putih itu. Membuat wajah si pria berada tepat di dada si wanita yang sengaja dibusungkan, karena terlalu emosi saat kejadian baru saja mereka alami.


"Ya ampun, nih, orang kuat banget," batin pria itu merasa kesakitan.


"Akh! Maaf kak, maaf … akh!" Teriak si pria sipit yang menjadi amukan si wanita mungil.


"Enak aja lu, panggil gue, kakak. Emang kita saudaraan!" Pekiknya yang sudah menjadi pusat perhatian setiap orang yang lain lewat.


"Mpok, ampun Mpok!" Ucap pria itu yang kesusahan untuk berbicara.


Wanita itu semakin emosi, ia tidak terima saat kedua gunung kembarnya dilecehkan oleh pria yang tidak ia kenal.


Kejadiannya baru beberapa menit yang lalu terjadi, saat pria tinggi itu berjalan tergesa-gesa dan tidak sengaja tersandung sesuatu di lantai.


Pria itu pun terjungkal ke depan, yang mana wanita itu sedang melihat-lihat keadaan di dalam mall tersebut.


Hingga ia juga tidak melihat sosok pria akan terjatuh ke arahnya.

__ADS_1


Hingga terjadilah memon kesalahpahaman, di mana pria sipit itu tidak sengaja kedua tangannya tercetak jelas di kedua gundukan dada si wanita.


Wanita itu bukan lain adalah bibi Amy. Wanita yang masih terlihat masih muda, usianya menginjak, 32 tahun. Bibi Lilis bersama dengan kakak dan keponakannya ke mall untuk berbelanja. Namun mereka berpisah, saat bibi Lilis memutuskan untuk berjalan sendiri.


Ia terlalu malas terus mendengar celotehan Mpok-nya. Namun, bukannya senang, wanita itu malah mengalami kejadian memalukan.


Sedangkan emak dan Amy kini sibuk mencari bibi Lilis.


Keduanya terlihat panik dan berada di lantai 3, sedangkan bibi Lilis berada di lantai 2.


Amy menyipitkan kedua kelopak mata, saat melihat keramaian di bawah sana. Kelopak mata lebarnya, terbuka sempurna. Saat melihat sang bibi sedang mencak-mencak di bawah sana.


"Emak! Itu bukan bibi, apa?" Tanya Amy, memanggil sang emak yang melihat ke dalam toko di depan mereka.


"Astaga, bibi lu, lagi ngapain?" Tanya emak yang kebingungan melihat adiknya yang sedang di kerumuni orang.


Amy segera menarik sang emak untuk mendekati bibinya. Amy terlalu takut, sang bibi melakukan hal fatal dengan sikap bar-barnya itu.


"Mpok?! Ucap sang bibi segera melepaskan si pria sipit yang penampilannya begitu berantakan.


Emak menelisik adik dan pria tinggi di depannya. Emak baru sadar setelah melihat luka memar di wajah sang pria.


"Elu, apain nih orang, tin?" Tanya emak yang hanya bisa menghela nafas panjang.


Merasa tidak enak dengan sosok pria tinggi di depannya.


"Koko!" Seru Amy tiba-tiba, saat baru ingat dengan sosok pria tersebut.


Emak dan bibi Lilis melempar tatapan lekat ke arah — Amy.


"Lu, kenal mah nih, orang?" Tanya bibi Lilis dengan raut emosi.


Amy mengangguk sambil menatap wajah koko di depannya yang terlihat begitu takut dengan sang bibi.

__ADS_1


"Dia asisten, bapak Mr," tandas Amy sambil tersenyum.


Emosi bibi Lilis semakin menjadi, dadanya tiba-tiba bergerak naik-turun, siap ingin menerkam si pria sipit di depannya.


"Dasar mesum! Gue, kagak bakalan lepasin lu, mesum!" Pekik bibi Lilis, kembali menyerang si pria sipit.


Emak dan Amy terkejut dan mencoba menghentikan kebrutalan, bibi Lilis.


"Lilis, berhenti!" Bentak emak, dengan nafas ngos-ngosan saat mencoba menghentikan adiknya ini.


Bibi Lilis melepaskan pria sipit itu yang terlihat semakin kacau, Amy membantunya dengan menopang tubuh tinggi si pria.


"Lu, apa-apa sih, menghajar pria ini? Bikin malu tau!" Sentak bibi, menahan tangan adiknya dan mengusap wajah bibi Lilis sambil mengucapkan istighfar.


"Nyebut, Lis, nyebut. Jangan bikin onar di mari. Bikin malu keluarga aja, lu," cerca emak, mengomeli adiknya.


"Dia yang duluan lecehin, gue, Mpok. Masa gunung gue di cetak seperti ini," terang bibi Lilis, sambil melakukan reka ulang saat kedua tangan pria itu mencetak gunung kembarnya.


Emak melotot, begitu juga Amy dan si pria sipit hanya bisa meneguk ludahnya sendiri, melihat kebobrokan bibi Lilis.


Orang-orang yang ada di sana ikut terkekeh, emak yang menyadari itu, segera menghentikan kelakuan adiknya dan menyeretnya untuk menjauh.


Amy masih membantu koko Alvin untuk duduk di bangku kosong di depan sebuah toko roti.


"Terimakasih, neng," ucap pria itu sambil meringis sakit. Niat hati ingin segera sampai ke tempat atasannya, malah dapat musibah aji mumpung.


"Maaf, koh, bibi memang orangnya kayak gitu, emosion," seloroh Amy yang merasa tidak nyaman dengan pria tampan di depannya.


Dari kejauhan, Alex berjalan dengan wajah murka, melihat istri kecil begitu perhatian dengan bawahannya itu.


"Jangan, pegang-pegang!" Sentak Alex, menarik tubuh mungil istrinya dan menatap wajah bawahnya yang semakin memucat.


"Apes banget sih, gue, hari ini," ucap pria itu dalam hati. Saat mendapat tatapan tajam dari atasannya itu.

__ADS_1


__ADS_2