
"Aku menghindar, bukan merasa takut, akan tetapi, aku menghargai perasaan si imut." Kelvin berisik di samping tubuh tinggi Alex.
Setelah itu melajukan kendaraannya meninggalkan area sekolah, Amy.
Para siswa yang menyaksikan adegan tersebut begitu melongo tidak percaya, sosok si mungil Amy menjadi rebutan para pria tampan dan cool.
Alex pun menahan emosinya, saat begitu diremehkan oleh saudara tirinya itu.
Dengan wajah penuh emosi, Alex berjalan kembali menuju mobil. Di mana Amy menunggu dengan jantung berdebar-debar.
Sementara kedua sahabat Amy hanya bisa terpengarah melihat semua yang terjadi di depan wajah mereka. Sebuah adegan, saling memperebutkan seorang gadis bertubuh mungil dengan tinggi hanya seketek orang dewasa.
"Buset, si ketek. Jadi rebutan para pria tajir," gumam Putra.
Sasa menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan sahabatnya itu.
Alex kini sudah berada di dalam mobil, pria itu sengaja mendiamkan istrinya terlebih dahulu agar tidak terbawa emosi.
Alex hanya menyandarkan punggungnya sambil mencoba menahan amarahnya. Menyaksikan sendiri sang istri lagi-lagi di sentuh oleh pria lain.
Amy hanya bisa menyusut tubuh mungilnya itu di sudut mobil, gadis itu bahkan tidak berani menatap wajah suaminya.
Alex mulai menggerakkan mobilnya, meninggalkan area sekolah.
Sepanjang perjalanan, hanya ada kesunyian. Amy bahkan semakin canggung.
Melirik wajah suaminya yang terlihat dingin dengan kedua rahangnya mengeras.
Amy hanya bisa meremas kedua telapak tangannya, sungguh suasana yang sangat tidak ia sukai.
"Turun!" Perintah Alex dengan suaranya yang berat dan dingin.
Amy terloncat kaget ketika baru saja terhanyut dari bawaan rasa ngantuk. Gadis itu melepas sabuk pengamannya, memandangi suaminya yang kini berdiri di body mobil.
Gadis yang masih mengenakan seragam sekolah itu keluar dari mobil, memandangi gedung tinggi di depannya dengan tatapan bingung.
"Ayo! Ikut denganku!" Pinta Alex yang sudah berada di samping istrinya, meraih telapak tangan mungil Amy, lalu menariknya lembut untuk memasuki bangunan tinggi tersebut.
Begitu banyak pasang mata yang memandangi mereka, sambil membungkukkan badan saat melihat mereka melintas.
__ADS_1
Amy hanya bisa melirik suasana di dalam gedung di balik punggung tegap suaminya. Tubuh mungilnya bahkan tidak terlihat dari depan.
Alex menautkan jari-jari mereka saat berada di depan lift khusus menuju lantai paling atas. Pria itu sambil memainkan ponselnya.
Amy bahkan kini meletakkan dahinya di punggung keras suaminya itu, gadis itu merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian.
"Kau, kenapa?" Tanya Alex, saat mereka sudah berada di dalam lift. Melihat istrinya menyembunyikan wajahnya.
"Apa, kau malu berjalan denganku?" Tanya pria tinggi itu lagi dengan tatapan lekat, mengarah kepada si mungil Amy.
Amy mendongakkan kepalanya, agar bisa jelas melihat wajah merah suaminya kini.
Gadis itu menggeleng dengan raut wajah sendu. Kedua kelopak mata lebarnya berkedip-kedip menggemaskan.
"Lalu?" Tanya Alex kembali, kini menghadap sang istri dengan posisi kepala menunduk yang tinggi Amy hanya sebatas dadanya. Alex mengusap wajah imut istrinya itu juga merapikan poni Amy yang sedikit berantakan.
"Amy nggak nyaman aja di liatin orang. Malahan, Amy yang kagak enak dengan bapak Mr, nanti di pikir jalan ma' gadis udik dan buluk." Seloroh gadis itu dengan kedua matanya yang berbinar.
Alex tidak bisa menyembunyikan senyumannya, kini perasaan marah terganti dengan suasana hangat, hanya melihat wajah menggemaskan sang istri.
"Kenapa harus malu, mereka juga mikirnya, kamu baby sugar aku," sahut Alex, sambil terkekeh. Pria itu begitu lucu melihat wajah terkejut istrinya.
"Maybe!" Timpal Alex yang kini kembali menarik istrinya dengan jari-jari telapak tangan mereka masih bertautan.
Amy masih terlihat cemas dengan ucapan suaminya tadi. Gadis itu paling menolak di katain gadis tidak bermoral dan sukanya mainan om-om.
"Bapak Mr kan, suami, Amy? Kenapa Amy harus merasa malu?" Ujar gadis itu di dalam hati.
Tanpa gadis itu sadari, mereka sudah berada di sebuah ruangan luas dan mewah juga rapi tentunya.
"Tuan muda Mahesa!" Sapa seorang wanita yang muncul dari luar dengan penampilan rapi dan anggun. Ia melirik Amy sekilas dan tersenyum ramah saat gadis itu menatapnya.
"Nona!" Serunya dengan ramah.
Amy yang baru sadar dan sudah berada di mana, hanya bisa diam dan tidak menanggapi sapaan wanita yang merupakan sekretaris suaminya di perusahaan milik Neda.
Alex menerima berkas yang diserahkan oleh wanita berwajah bersahaja itu dan memerintahkan untuk segera keluar.
Alex kini menyandarkan punggungnya sambil menggerakkan kursi kerjanya dengan terus mengawasi Amy yang terlihat terkesan dengan ruangan pimpinan perusahaan.
__ADS_1
"Bunny!" Seru Alex dengan suara lembutnya.
Amy yang menatap pemandangan dari jendela, memutar kepalanya sedikit dan menukik alis saat melihat kode sang suami.
"Come on, sweetie!" Serunya lagi yang tidak sabar menyuruh istrinya agar duduk di pangkuannya.
Amy melangkah dan kini sudah berdiri di depan suaminnya, gadis itu juga melihat telapak tangan besar sang suami yang menepuk pahanya, yang memerintahkan dirinya duduk di sana.
Amy bergidik samar dan menolak dengan jantung berdebar-debar tidak karuan.
"Bunny," sekali lagi Alex memanggil istri kecilnya dengan intonasi tegas dan penuh tekanan.
"A-Amy, duduk di si …." Amy tidak mampu meneruskan ucapannya, melihat tatapan tajam pria bule di depannya ini.
Amy lalu bergerak menuju suaminya dengan perasaan canggung. Segera saja Alex menarik tangan istrinya, hingga kini Amy terduduk di atas pangkuannya.
"Good little wife," bisik Alex yang sebelah tangannya merangkul pinggang istrinya dan tangan sebelahnya sibuk merapikan rambut sang istri.
Amy hanya bisa menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya yang merona. Apalagi, jantungnya kini terasa berdebar-debar yang membuatnya sedikit sesak nafas.
Alex mengulum senyum, melihat ekspresi wajah istrinya yang terasa canggung. Apalagi merasakan seluruh tubuh mungil sang istri menegang.
"Rileks, honey. Aku sedang tidak memakanmu," bisik pria itu lagi sambil mengangkat wajah Amy.
Alex memainkan dagu Amy dengan punggung jari telunjuknya dengan terus menatap wajah sang istri yang terlihat semakin cantik saat malu.
"Coba lihat aku, baby!" Pinta Alex yang tepat di depan wajah Amy, yang membuat gadis itu semakin berdebar-debar. Apalagi merasakan hembusan nafas segar suaminya.
Refleks, Amy menatap wajah tampan suami ini. Sungguh gadis itu begitu terhanyut di dalam tatapan mata biru suaminya.
Gadis itu terdiam dengan wajah yang terlihat begitu mengagumi pahatan wajah suaminya.
Alex kembali tersenyum, melihat raut wajah istrinya kali ini, apalagi melihat mulut mungil sang istri terbuka.
Membuatnya tidak ingin membuang waktu untuk tidak mengecup bibir istrinya.
"Cup, apa aku begitu tampan, baby?" Tanya Alex setelah mengecup bibir mungil sang istri.
Amy terkejut dan dengan cepat ingin menutup mulutnya, namun Alex segera mencium bibir istrinya itu dengan lembut. Alex bahkan menghisap kedua belahan bibir istrinya dan **********.
__ADS_1