
Pria bule itu kini memandangi rumah sederhana yang bertingkat dua di hadapan. Keluarga kini sudah tiba di depan rumah. Terlihat wajah lesu dari sosok gadis yang masih mengenakan seragam sekolah.
Begitu terlihat sunyi senyap di sekitar, hanya ada sesekali lolongan anjing terdengar, juga suara kucing yang hendak kawin.
Pria tinggi menjulang, mengikuti keluarga istri kecilnya melangkah mendekati pintu kayu berwarna coklat.
Alex melangkah dengan wajah terlihat menelisik sekitar, dalam pandangan pria asing itu, suasana di sekitar rumah istri kecilnya itu begitu sejuk dan asri.
Lama pria itu berdirinya di depannya rumah dengan pikiran yang entah kemana, pria bule itu tidak menyangka ia akan menikah hari raya. Senja ikatan suci yang sering dikesampingkan dengan alasan belum siap, namun hari ini ia hari mengganti status suami dengan hati terpaksa, meskipun pernikahan masih dilakukan secara siri, namun bagi pria dewasa itu, status barunya sungguh menjadikan tanggung jawab besar ke depannya.
Ia harus siap untuk berbagi dengan orang asing dan itu istrinya sedang yang usai mereka sungguh begitu memiliki jarak sangat jauh.
"Nak!" Seru baba yang mengejutkan pria bule itu.
Alexander memutar badannya, ia memandang sejenak ayah mertua yang memiliki jarak usia tidak jauh berbeda. Sungguh pemandangan yang meresahkan, seharusnya keduanya cocok menjadi besan, bukan menantu dan mertua.
__ADS_1
"Masuklah, udara dingin di luar, juga diisi banyak nyamuk," ucap baba dengan sikap tenang. Walaupun dalam benak juga pikirannya harus menyiapkan jawaban atau alasan kepada para warga sekitar juga tetangga dekatnya, tentang Alexander berada di rumah mereka.
Apa juga reaksi mereka, saat mengetahui status baru putri mereka yang sudah menikah di usia begitu sangat muda dan masih berstatus pelajar.
Belum lagi baba harus berkonsultasi kepada pihak sekolah terkait pernikahan dini sang putri.
Alexander masih diam dan bergeming di tempatnya, ia masih enggan berpindah dari posisinya, pria tinggi itu bahkan kini menjatuhkan bobot tubuh kekarnya di bale-bale yang ada di teras.
Baba mendekati menantunya itu, pria buka itu paham betul apa yang sekarang Alexander pikirkan, mungkin benar ia memiliki kehidupannya pribadi dan bisa saja, pria ini sudah memiliki keluarga, begitu pikiran baba sekarang.
"Apa, anda memiliki keluarga?" Baba mencoba mencari tentang keseharian juga kehidupan menantunya.
"Aku masih lajang dan aku bekerja di salah satu perusahaan property di Inggris dan mendapat tugas untuk mengurus cabang di sini. Aku baru satu tahun tinggal di kota Jakarta, jadi aku sudah tahu banyak tentang keseharian warga disini." Alexander menceritakan semua tentang dirinya, pria itu terlihat begitu frustasi.
Baba hanya bisa diam, mendengar ucapan Alexander, ia juga terus menelisik wajah menantunya itu, mencoba membaca sifat dan karakter Alexander melalui raut wajah.
__ADS_1
Baba bisa menilai, kalau Alexander memiliki sifat tanggung jawab juga tegas dan pekerja keras.
Baba menghela nafas, sungguh putrinya harus belajar tentang banyak hal, terutama dalam kewajibannya sebagai istri. Apalagi baba bisa melihat, Alexander adalah sosok yang tegas juga keras.
"Anda harus sabar menghadapi putriku, dia masih terlalu awam untuk menerima semua ini, apalagi dalam keadaan mendadak dan perbedaan usia kalian begitu jauh jarak, perbedaannya. tentu sifat dan sikap kalian berbeda juga." Baba berkata tegas kali ini, sebagai seorang ayah, baba hanya ingin yang terbaik untuk putrinya.
Alexander mencoba memahami, dan pria itu hanya diam mendengarkan setiap ungkap sang ayah mertua tentang sikap dan karakter istrinya yang masih muda.
Alexander hanya bisa menghela nafas panjang, mampu kah dirinya berlaku sabar dengan tingkah absurd sang istri juga tingkah istrinya yang begitu di luar nalarnya.
"Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha." Lama merenung, Alexander pun harus menerima pernikahan mendadak ini, bagaimanapun kini ia sudah menjadi seorang suami dari gadis pelajar.
"Bimbing lah dia, sekarang tanggung jawabku sebagai seorang ayah kini terletak di punggungmu sebagai suami. Bukan, aku memberikan tanggung jawab itu sepenuhnya untukmu, tapi … ini semua sudah menjadi kewajibanmu sebagai seorang suami." Baba pun mencoba memberikan wejangan kepada menantunya ini dengan sangat hati-hati.
Meskipun ia tahu tidak semua pria bule di depannya akan paham tentang apa yang ia sampaikan, namun baba yakin, Alexander adalah sosok yang bertanggung jawab.
__ADS_1
Asyik saling mengobrol di teras rumah, mertua dan menantu itu terloncat kaget, mendengar suara pekikan dari emak.
"Ya Allah, Amy …, apa yang lu lakuin!" Teriak emak heboh.