
Emak kini melangkah panjang keluar dari pintu rumah, wanita dengan tubuh mungilnya ingin melangkahkan kedua kakinya menuju sebuah rumah tingkat dua yang tepat berada di samping rumah mereka.
Wajah emak Nani, terlihat begitu geram juga emosi. Emak ingin kembali beradu keributan dan berargumen dengan kecerewetan hakiki.
Apabila sebagian orang akan berhubungan baik dengan tetangganya, kalau emak jauh dari kata rukun dan tentram. Yang ada, akan terdengar keributan antar tetangga dan yang lebih parahnya lagi, kedua antar tetangga itu saling gelut bahkan ada cetos.
Langkah wanita yang rambutnya di gulung ke atas berhenti, ketika sebuah motor memasuki pekarangannya.
Wajah emak yang cantik imut itu, terlihat begitu judes melihat dua muda-mudi berjalan mendekat ke arahnya.
"Assalamualaikum, emak Nani!" Gadis remaja kini menyapa emak dengan salam ramah sambil menyalami wanita yang wajahnya terlihat tidak begitu baik.
"Kenapa kalian kesini!" Sahut emak dengan ketus.
Kedua remaja yang selesai menyalami emak, tampak saling menatap. Melihat wajah wanita di hadapan mereka.
"Ya Allah, Mak. Bukannya di balas salam kita, ini malah sewot. Ingat umur Mak, entar lagi emak akan memasuki tahap nini. Balas salam tuh, ibadah Mak. Emak bakalan dapat 10 kebaikan." Celetuk remaja pria yang merupakan sahabat baik Amy.
Wajah emak kini semakin emosi, namun sekuat tenaga emak Nani menahan emosinya dengan menarik nafas berulang kali.
"Waalaikumsalam, kalian mau apa!" Sahut emak yang nada suara di tekan.
"Nah gitu, baru emak soleh," celetuk remaja pria itu lagi dan memamerkan senyum manisnya.
"Hust, bukan Soleh, Mahmud, tapi Solehah," sela gadis remaja sambil menghembuskan nafasnya saat mengucap kalimat terakhir.
Remaja pria hanya menutup hidungnya, dan mendorong kening sahabatnya.
Sementara emak semakin geram, melihat dan mendengar perdebatan para remaja di depannya itu.
"Hey, kalian. Kalau mau ribut jangan disini!" Pekik emak, membuat kedua remaja itu terkejut.
"Bikin kepala emak, tambah mumet," sambung emak yang menekan pelipisnya.
Sekali lagi kedua remaja itu saling menatap, melihat wajah emak yang sedang dalam mode — emosi jiwa.
"K-kami mencari Amy, Mak!" Seru sang gadis dengan gugup.
"Iya Mak, sejak di sekolah kami tidak melihatnya, kata salah seorang teman, Amy ikut bersama Akbar tawuran," pungkas remaja pria yang keceplosan.
Gadis di samping remaja laki-laki itu segera menginjak kaki temannya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Maimun!" Erangnya tertahan sambil memegangi salah satu kakinya.
"Kenapa lo keceplosan," bisik gadis tersebut, melototi sahabatnya.
"Gue lupa Lun," bisik pria itu sambil mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
Emak Nina kini menatap sengit kedua remaja di hadapannya, ketika mendengar tentang kabar putrinya.
"Oh, jadi semua ini karena si Akbar itu? Sampai sekarang Amy belum pulang, dasar si Akbar kribo!" Pekik emak yang kembali dalam mode galak tingkat tinggi.
"Astaghfirullah, jadi Amy belum pulang Mak? Timpal sahabat Amy yang laki-laki.
"Terus Amy kemana? Tadi, gue dengar, mereka digerebek aparat satpol pp," sambung sahabat Amy yang perempuan.
"Apa!" Timpal emak dengan teriakan nyaring.
Wajah wanita itu semakin panik dan bersamaan dengan emosi yang kini menyelut seluruh aliran darahnya.
"Ya Allah, anak gadis gua …." Emak kembali berteriak histeris. Baba, babang Alif, dan bibi segera berlari mendekati si emak yang sedang histeris.
"Ada apa?" Tanya bibi kepada kedua sahabat Amy.
Alif dan baba mencoba menenangkan si emak yang meraung keras yang kini mengundang para tetangga untuk ikut menyimak.
"Apa!" Pekik bibi dan babang Alif bersamaan.
"Alhamdulillah!" Seru keduanya dengan bersamaan lagi.
Kedua sahabat Amy tampak kebingungan, melihat reaksi Abang dan bibi Amy itu.
"Lah, kenapa Alhamdulillah, bi?" Tanya Sasa sahabat Amy yang perempuan.
"Kami berdua bersyukur, setidaknya, Amy ditangani oleh orang yang tepat dan tidak menyusahkan orang lain," jawab sang bibi dengan wajah lega.
Kedua sahabat Amy refleks menganga, mendengar jawaban abstrak wanita berusia 30 tahun ke atas itu.
Sedangkan Alif mengangguk mengiyakan ucapan bibi-nya. Emak kini masih terlihat histeris di dalam pelukan suaminya.
"Tenang dek, Amy pasti baik-baik saja," ucap pria yang masih terlihat gagah itu.
"Putri kita Amy, bab. Emak takut anak kita melakukan hal buruk," ujar emak. Tanpa wanita itu sadari kini menjadi pusat perhatian oleh tetangga sekitarnya.
__ADS_1
"Jadi gadis imut dan cantik yang di eluh-eluhkan emaknya belum pulang? Astaghfirullah, padahal dia anak gadis loh. ingat, emak Nani, gadis pulang malam gak baik, nanti dinilai gadis kurang Solehah." celetuk seorang tetangga emak yang rumahnya di samping kiri rumah keluarga tersebut.
Mendengar ucapan tetangga adalah musuhku, emosi emak Amy mendadak bangkit dengan semangat 45.
Tatapan wanita itu kini begitu nyalang, ke arah tetanggaku adalah musuhku itu.
"Siap-siap dah, liat pertarungan gulat antara persi emak-emak kompleks sempit," gumam bibi.
Baba kini mencoba membawa istrinya masuk ke dalam rumah dengan bantuan Alif mendorong tubuh bagian belakang emak.
Sementara kedua sahabat Amy kini begitu kebingungan, berada di posisi antara kumpulan emak-emak yang seakan melakukan demo masak.
"Jangan asal, kalo lu ngomong Nisa!" Pekik emak yang berusaha ingin lepas dari kuncian sang suami.
Wanita yang disebut kini hanya menampilkan wajah mencibir dan mengejek.
Menambah volume tekanan amarah emak Nina untuk segera menjambak rambut, tetanggaku musuhku itu.
"Gue ngomong fakta, Nina. Mana ada gadis SMA jam segini belum balik ke rumah," sentak wanita itu.
"Nggak mungkin kan? Anak lu, masih belajar di sekolah," lanjutnya lagi dengan nada semakin membuat emak Nina tertekan amarah.
"Atau … jangan-jangan anak lu, lagi ngerjain tugas kelompok di hotel," seloroh wanita itu yang kali ini ucapannya membuat, bibi Lilis ikut emosi.
"Hey, Nisa Pelakor kompleks. Kalau ngomong jangan asal. Enak aja ponakan gue lo omongin kotor. Ish … gue gemes pengen remes mulut comberan lo." Bibi Lilis kini mendekati wanita yang seumuran dengan sang kakak, bibi Lilis juga kini meraup mulut julid wanita itu dengan tiba-tiba.
Keributan pun terjadi di depan rumah emak yang menjadi tontonan gratis para tetangga. Sedangkan emak tidak bisa membuat tetangganya itu pelajaran, soalnya emak dalam pantauan sang suami.
"Akbar, kemari lo!" Abang Alif meneriaki seorang pemuda yang tinggal di samping kanan rumah mereka.
Yang dipanggil kini terlihat panik dan gugup, pemuda itu mengetahui kesalahannya dan dia tidak berani untuk menghadapi keluarga gadis yang sejak dulu ia sukai.
"Hey, jangan kabur lo!" Teriak abang Alif.
Semuanya kini menatap pemuda itu, begitu juga dengan emak dan baba.
"Adik gue lu kemanain!" Seru abang Alif.
Akbar pun semakin ketakutan dan gugup, sampai-sampai seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"Katakan, lu kemanain putri emak!" Kali ini emak Nani berteriak nyaring.
__ADS_1
"Hey, Nina. Kenapa lu nyalahin anak gue!" Pekik wanita yang baru keluar dari dalam rumahnya, bersama dengan alat sholat yang masih digunakan wanita itu.