Suamiku pria dewasa

Suamiku pria dewasa
bab 23


__ADS_3

Gadis bertubuh mungil itu kini, menyeret kedua kakinya mengikuti langkah panjang pria di hadapan. Dengan kesusahan begitu jelas terlihat untuk bisa mengikuti jejak sang suami sambil menarik koper berukuran besar. Sungguh begitu menyedihkan gadis itu, dia bagaikan seorang anak yang tidak diinginkan oleh seorang ayah.


Amy masih terlihat menitikkan air mata dengan keadaan yang sangat begitu menyedihkan, wajah imut itu terlihat begitu sembab dengan luka memar terdapat di bagian kening.


"Ternyata dia begitu jahat," gadis itu berkata dengan begitu pelan.


Ia bahkan begitu kesulitan mendorong koper yang lumayan besar, dan sosok pria di hadapannya hanya mengabaikan tanpa tertarik untuk sekedar berbasa-basi untuk menawarkan bantuan.


"Ayo Amy, lu pasti bisa. Tunjukkan kepada pria bule tua itu, kalau lu tidak mudah di tindih, eh … ditindas." Amy bermonolog sendiri di belakang Alex, gadis itu akan memperlihatkan sifat aslinya yang sering membuat emak stres.


"Gue bikin stres juga nih, bule. Baru tahu rasa." Gadis itu melayangkan kakinya ke arah Alexander, seakan ingin menendang pria bule tersebut yang susah membuatnya menangis.


"Bugh!" Alexander yang mendadak berhenti membuat wajah Amy menabrak punggung keras — Alexander.


Saking kerasnya punggung pria itu, Amy terdengar mendesis kesakitan.


"Astaga, kenapa punggungnya begitu keras, berasa nabrak tiang listrik," gumam si gadis imut sambil mengusap hidungnya yang terasa menyusut ke dalam.


"Hidung gue kerasa pesek, gara-gara nih badan gede si bule sombong," Amy masih terus mengomel dengan sisa tangisan masih terdengar.


Wajah gadis itu sungguh terlihat begitu mengenaskan, hidung mancung dengan ujung mungil itu tampak merah, kedua pipi gembul si Amy tampak merah dengan bibir mungil mengerucut.


Alexander yang membalikkan tubuhnya, menatap lekat wajah istrinya itu, tampak begitu terkesan. Namun ia segera membuang perasaan terkesan tersebut.


"Aku merasa seperti seorang daddy bajingan memikirkan itu," ucap Alex dengan menggunakan bahasanya dengan nada lirih, melirik sang istri yang semakin membuatnya ingin meraup wajah imut — Amy.

__ADS_1


"Bisakah, bibir jelek kamu tidak seperti itu, kamu sungguh tidak cocok, sok imut." Tandas Alexander, wajah pria itu terlihat mencibir.


Mendengar pria tinggi menjulang di depannya yang berhenti di depan sebuah pintu berwarna coklat, Amy refleks, memegang bibir yang mengerucut.


"Ada apa dengan bibirku? Bukankah kata teman-teman di sekolah, bibirku begitu imut dan apa … katanya? Aku jelek? Dasar bule gadungan pe'a." Wajah Amy terlihat marah, menolak perkataannya suaminya yang mengatakan dirinya begitu jelek.


Hidung mancung Amy tampak kembang kempis, mata menyipit tajam ke arah punggung suaminya, dada terlihat sesak nafas kayak orang bengek. Berniat untuk menaikkan punggung keras suaminya itu dan memperlihatkan kehebatannya soal menjambak rambut seseorang.


Namun niatnya itu, mendadak terhenti, ketika mendengar bunyi yang berasal dari pintu, Amy memiringkan sedikit kepalanya, untuk melihat suami bulenya yang sedang menekan angka di kenop pintu. Amy terheran melihat suaminya melakukan sesuatu di balik pintu tersebut.


"Kok, buka pintunya pakai kartu sama nekan angka? Kayak mau narik duit aja di ATM," ujar Amy dengan nada mencicit.


Ia masih memperhatikan suaminya yang masih mencoba memasukkan kode angka berulang kali, namun tetap gagal.


"Arrrgg." Pekik Alexander frustasi, gagal membuka pintunya sendiri.


Amy yang paham dengan perkataan suaminya hanya bisa melongo, soalnya banyak temannya yang sering mengatakan itu dengan menunjukkan jari tengah.


Amy juga pernah mengatakan itu kepada emak, karena gadis itu menganggap ucapan itu begitu keren dan menjadi trend di sekolah.


Emak yang mendengar ucapan putrinya pun hanya kebingungan dengan ucapan Amy yang kedua telinganya tanggap ucapan ' pak yu'


Namun Amy jera mengucapkan kata-kata kasar itu, saat Abang Alif meraup mulutnya kasar. Bukan itu saja, Amy juga mendapat kemelan dari sang Abang.


Di tambah emak yang sudah paham dengan perkataan putrinya pun, segera mengambil satu biji cabe rawit dan memasukkan ke mulut putrinya yang saat itu masih duduk di bangku SMP.

__ADS_1


Jadi sampai saat ini, Amy jera mengatakan perkataan kasar tersebut, gadis itu terbayang-bayang cabe rawit membakar mulutnya.


Sungguh Amy begitu merindukan sang emak, meskipun tukang marah, tapi ngangenin.


"Hey, kamu!" Amy terkejut, mendengar suara bentakan pria di hadapannya yang sejak tadi bertelepon dengan seseorang, sambil terlihat marah.


"Iya," sahut Amy dengan tatapan lugu-nya.


Alexander menghampirinya dan menariknya ke arah pintu unit apartemen nya, pria itu membenturkan tubuh mungil istrinya yang hanya sebatas dada saja. Tubuh mungil Amy bahkan tidak terlihat dari belakang Alexander.


"Aduh," keluh Amy merasa belakang kepalanya sakit.


"Sakit, bapak Mr. Apa anda tidak bisa berkata baik-baik, main grasak-grusuk aja," protes Amy, wajahnya terlihat menatap tinggi ke atas. Tatapannya terlihat menantang sang pria bule.


"Waduh, nih bule tinggi amat yah' kayak liat tiang bendera saat upacara." Batin Amy yang menyusuri tinggi suaminya dari bawah dengan kepala menunduk dan sedikit demi sedikit naik ke atas dan berakhir kepala mendongak.


"Ini semua salah kamu, aku jadi sial hari ini, akh, sialan," ujar Alex sambil marah-marah dan mengeluarkan umpatan kasar di akhir kalimatnya.


"Kenapa salah Amy? Salahkan bapak Mr yang pelupa dan ceroboh, bukan nyalahin orang lain," sahut Amy protes, gadis itu merasa pegal di bagian lehernya, mendongak terus ke atas.


Alexander semakin muak dengan Amy, pria itu sungguh mendapat kesialan hari ini. Yah, Alexander mengakui kecerobohannya yang pelupa, hingga kini kesialan terus menghampiri. Sekarang pria itu lupa dengan password unit apartemen nya.


"Akh! Sial, sial, sialan." Alexander menjauhkan tubuhnya dari tubuh mungil Amy yang dihimpit di pintu, pria itu terus mengeluarkan umpatan kasar, membuat Amy gemas dan secara refleks, mulut suaminya dan meremasnya, sambil berjinjit agar memudahkan mengacak-ngacak mulut suaminya yang terus mengumpat kasar.


"Apa yang kau lakukan, hah!"

__ADS_1


"Kata emak tidak baik bicara kasar, itu tidak sopan. Mau Amy cabein mulut kasar, bapak Mr?"


Oh Tuhan, perkataan ancaman Amy, sukses membuat wajah tampan Alexander menganga sempurna, tanpa kedua mata pria itu mengerjap memandangi wajah istrinya yang terlihat — marah.


__ADS_2