
"Emak, Amy kagak mau pergi. Emak, baba, kok tega ngusir Amy." Gadis itu kini menangis di samping sang emak, kedua tangan gadis itu menahan lengan wanita yang sudah melahirkannya. Amy begitu terpukul dan terkejut, akan tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya.
Emak yang tidak bisa menahan rasa kesedihan, hanya bisa membuang pandangan, sungguh emak Nani tidak bisa melihat putri satu-satunya menangis. Bagaimanapun, ia seorang wanita yang sudah melahirkan putrinya dan membesar juga merawat dengan ketulusan, meskipun harus selalu mengomel dan memarahi sang anak, tetap kasih sayang seorang ibu pasti tidak akan pernah ada duanya. Perhatian seorang ibu dan kasihnya pasti akan diiringi kecerewetan atau komelan.
Begitu juga dengan emak, meski tiap hari mulutnya tidak pernah berhenti mengomel, marah-marah dan meneriaki putra-putrinya, namun kasih sayang emak begitu besar juga perhatiannya. Ia akan bersikap parno, apabila salah satu anaknya terserang demam atau sakit lainnya.
Wanita itu tidak akan bisa tenang dan rela tidak tidur semalaman untuk menjaga anak-anaknya yang sedang sakit. Oleh sebab itu, Amy dan Abang Alif tidak pernah menempatkan kemarahan emak Nani dalam hati, keduanya mengerti, ini bukti kalau emak Nani begitu menyayangi mereka, meskipun dengan cara berbeda untuk menunjukkan perhatiannya.
"Emak, baba, babang Alif, bibi!" Seru Amy yang suara tangisan begitu memilukan, gadis itu menangis seperti seorang anak kecil yang kehilangan sesuatu yang kesayangannya.
Bibi Lilis memeluk keponakan kesayangannya, keponakan yang sudah ia rawat semenjak masih dalam perut. Walaupun keponakannya itu selalu membuatnya kesal, bibi Lilis tetap menyayangi sang keponakan itu.
"Diamlah sayang, kami-kami pasti sering jenggukin Amy, kok," ujar bibi, mencoba menenangkan keponakannya itu.
"Emak," kini Amy memanggil wanita yang ia sayangi.
"Kalau Amy tidak tinggal disini? Terus yang buatin sarapan Amy siapa? Yang siapin seragam Amy siapa? Terus … kalau Amy ingin dimanjain emak, Amy harus apa? Emak tidak sayang Amy lagi yah, makanya emak buang Amy. Maafin, Amy, kalau selama ini Amy buat emak kesal, tapi Amy mohon, jangan usir Amy." Gadis itu kini memeluk emak yang masih terdiam, menahan rasa sesaknya.
__ADS_1
Tidak tahan mendengar ucapan putri satu-satunya, emak segera memeluk sang putri dengan erat dan tangis wanita itu pun pecah, membuat suasana menjadi sedih.
Abang Alif pun kini merangkul adiknya dari belakang, mencium puncak kepala sang adik.
"Ati-ati di tempat laki lu, dek. Jangan bikin rusuh dan nyusahin orang. Nanti jangan suka manjat seberang, mending manjatin laki lu aja, lumayan ada hasilnya." Abang Alif pun memberikan pesan dan kesan kepada adiknya yang sungguh … membuat suasana yang dramatis mendadak hilang.
"Pletak." Satu tepukan pun pemuda itu terima di belakang kepalanya yang dilakukan oleh sang bibi.
Alif pun hanya mencebikkan bibirnya dan menjauh, sungguh tepukan bibi Lilis membuat kepalanya sakit.
"Dasar keponakan jahara, ngasih pesan ke adik nya kayak gitu," ujar bibi Lilis dengan bersungut.
Suasana di luar masih terlihat gelap, dan Alexander memutuskan untuk membawa Amy sekarang, karena pria itu akan melakukan perjalanan bisnis ke salah satu pulau yang ada di Jakarta.
Emak dan baba pun hanya bisa pasrah mengantar kepergian putri mereka, ini demi kebaikan anak gadis mereka juga, sebelum para tetangga bangun dan melihat Alexander.
Mereka mudah untuk memberikan alasan kepada para tetangga yang kelak akan menanyakan kabar Amy nantinya. Yang terpenting, status putrinya tersembunyi agar Amy masih bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Sayang, kalau Amy dikeluarkan dari sekolah karena statusnya yang sudah menikah, apalagi sang putri memasuki mata pelajaran semester akhir. Itu artinya sebentar lagi Amy akan lulus.
__ADS_1
Alexander kini sedang berada di dekat pohon besar, pria itu terlihat sedang berbicara dengan raut wajah kesal, Alexander seakan sedang berdebat dengan seorang di seberang sana.
Melihat itu, baba tidak ingin ikut campur, baba hanya bisa berdoa semoga Alexander bisa menjaga putrinya.
"Baba!" Pria yang masih terlihat gagah di usianya tidak muda lagi, menoleh ke belakang, saat melihat putri kesayangannya kini minta di peluk.
Putri yang begitu ia jaga dan manjakan kini sudah dimiliki sosok pria lain, selain dirinya.
Sungguh, baba juga merasakan kesedihan akan berjauhan dengan sang putri yang begitu dekat dengannya.
Baba bahkan masih memperlakukan putrinya sebagai anak usia 5 tahun, begitulah kasih sayang seorang ayah, ia akan selalu menganggap putri masih kecil.
"Baba jaga diri, jangan kangen sama Amy, nanti kalau baba minta di injak kakinya, suruh babang Alif aja. kan, Amy udah kagak tinggal di sini lagi," gadis itu terus berbicara dengan nada yang terdengar tercekat. Sungguh Amy begitu berat harus hidup terpisah dengan keluarganya.
Baba hanya diam, pria itu kini merangkul putrinya dengan sayang dan mengecup kening sang putri lama.
"Jaga diri kamu baik-baik, sekarang kamu harus nurut dan berbakti kepada suami kamu." Baba berkata nasehat kepada sang putri dengan suara lirih.
__ADS_1
Amy hanya bisa mengangguk kepalanya dan masih terdengar terisak.
"Kau sudah siap? Kita berangkat sekarang."