Suamiku pria dewasa

Suamiku pria dewasa
bab 22


__ADS_3

"Diam!" Suara bentak keras tidak terelakkan di dalam sebuah mobil yang sedang melaju sedikit kencang. Pria di balik kemudi begitu jengah mendengar gadis mungil di sampingnya terus menangis.


"Diam, kataku!" Sekali lagi Alex membentak istri kecil sambil memeluk stir kemudi, membuat gadis bertubuh mungil terlihat terkejut.


Bukannya berhenti, sang gadis berwajah imut itu semakin menangis, bahkan berteriak, mengabsen anggota keluarganya yang ada di rumah.


"Akhhhh! Baba, emak, bibi, kakek, Abang Alif … bapak Mr, jahatin Amy." Tangis gadis itu bahkan sampai terdengar keluar, membuat pengendara yang melintas di dekat mobil Alex terkejut.


Wajah Alexander terlihat begitu menahan amarah, ia meraih telapak tangan istrinya yang terlihat sangat mungil di genggaman besarnya.


Pria berwajah gagah nan tegas, meremat telapak tangan Amy dan mengancam gadis itu.


"Sakit," Amy meringis lirih dengan air mata tampak tergenang di kedua kelopak mata indahnya.


"Makanya diam!" Sahur Alex dengan ancaman, wajahnya bahkan begitu terlihat seram di penilaian Amy.


"Aku akan menurunkanmu di jalan sepi ini dan aku tidak peduli kau akan diculik oleh orang jahat," sambung Alexander dengan nada ditekan juga wajah tampak begitu sangar.


Amy terlihat terkejut dan ketakutan, gadis itu menggeleng cepat, untuk tidak diturunkan di terowongan gelap.

__ADS_1


"Jangan turunkan Amy disini, Amy takut." Ucap gadis itu pelan.


Ia juga melirik keluar yang begitu menakutkan, seketika tangisnya pun terhenti berganti ketakutan. Namun masih terdengar gadis itu sesegukan sekali-kali, bahkan tenggorokannya terasa tercekat.


Alexander melepas genggamannya dan ia tersenyum sinis ke arah istrinya yang kini menitikkan air mata, melihat telapak tangannya merah, bekas genggaman tangan kuat sang suami.


"Cih, dasar cengeng dan naif," gumam Alexander mencebikkan lidah dengan sinis ke arah sang istri.


Amy pun kembali memandangi keluar, menatap pusat keramaian kota Jakarta pada tengah malam. Ternyata masih terlihat begitu ramai oleh pengendara roda dua juga roda empat. Lampu-lampu gedung-gedung tinggi yang berjejer sepanjang jalan, menambah keindahan kota Jakarta pada malam hari.


Amy terdiam, memandangi setiap bangunan tinggi yang mereka lewati. Tatapan mata gadis itu begitu penuh kesedihan juga kerinduan kepada keluarganya.


Berselang beberapa menit, mobil Alex terlihat berbelok ke jalur kiri, melewati sebuah gerbang raksasa dan di depan sana tampak bangunan tinggi menjulang.


Amy turun dari mobil, saat tiba di sebuah parkiran mobil khususnya, ia menatap satu persatu mobil mewah yang terparkir di sana.


Gadis itu menelan salivanya, ketika melihat mobil impian para sosialita, mobil sport mewah, membuat gadis itu hanya bisa membeku.


Tidak lama Alex turun dengan wajah santai dan dingin, ia membuka bagasi mobil, melemparkan koper Amy keluar dengan kasar.

__ADS_1


"Sungguh barang-barang yang membuat mobilku rusak dan kotor," ucap Alex dengan menggunakan bahasa asing.


Amy hanya bisa membeku melihat suaminya melemparkan kopernya.


Gadis itu hanya bisa mengerjap tidak percaya, melihat perilaku kasar sang suami tuannya itu.


"Bawa koper murahanmu!" Titah Alexander saat melewati sang istri dan melengos begitu saja memasuki sebuah lift khusus.


Amy semakin diam, gadis itu terus memandangi wajah Alex yang begitu dingin, ia juga menatap kopernya nanar.


"Cepat! Kau pikir dirimu begitu berharga? Hingga aku harus menunggumu masuk!" Sentak Alexander dengan senyum seringainya.


"Dasar payah," ucap Alex menatap sinis istrinya yang sedang diam di depan lift sambil membawa kopernya, tanpa Alex berniat membantu istrinya itu.


Karena rasa terkejut juga ketakutan dengan ancaman sang suami, Amy setengah berlari memasuki lift, namun saat berada di pintu besi itu, salah satu kaki Amy tersandung, membuatnya terjatuh ke lantai dengan kening mencium lantai besi tersebut.


"Astaghfirullah!" Pekik Amy saat keningnya mencium lantai. Dan berada tepat di bawah kedua kaki suaminya.


Alexander hanya bisa menerbitkan senyum miring, tanpa membantu atau bersimpati kepada Amy.

__ADS_1


"Payah," ucap Alex dengan berdesis sinis.


__ADS_2