Suamiku pria dewasa

Suamiku pria dewasa
bab 12


__ADS_3

Ketegangan terlihat jelas di rumah sederhana Amy. Kecemasan, ketakutan dan panik, terlihat jelas di raut wajah keluarga.


Bagaimana tidak, hari semakin larut malam dan kabar tentang keberadaan putri mereka belum ada kabar sampai sekarang.


Seluruh keluarga kini duduk di ruang tamu, emak tampak begitu sedih, wajahnya sudah terlihat begitu sembab dengan suara isakan masih terdengar lirih. Baba terlihat menghubungi seseorang, begitu juga bibi yang mencoba menenangkan emak.


Abah dan abang Alif, terdiam sambil menahan rasa ngantuk. Sedangkan kedua sahabat Amy sudah pulang sejak tadi.


"Baba, putri kita Amy, kemana? Ya Allah, anak hamba." Emak terus menangis dan meracau mengingat putri satu-satunya.


Bibi Lilis dengan setia menenangkan sang kakak, yang terlihat begitu kacau.


"Tenang, dek. Insyaallah, anak kita baik-baik saja," ucap baba menyahuti perkataan sang istri


Abah menarik nafas berat, pria paruh baya itu begitu mengkhawatirkan cucu perempuannya itu, tapi pria itu mencoba untuk tetap tenang, agar putra dan menantunya tidak semakin panik.


"Amy … putriku," gumam emak lirih sambil sesegukan.


"Tenang Mpok, lebih baik minum teh hangat ini dulu, agar persamaan Mpok lebih enakan," ujar bibi Lilis, menawarkan sang kakak teh hangat.


Emak tidak menjawab, tubuhnya terlihat begitu lemas dan tidak bisa melakukan apapun, dengan lembut, bibi Lilis membantu Mpok-nya itu minum dan kembali membaringkan emak di sofa panjang.


"Amy … putriku," bisik emak sambil memijat kepalanya.


Bibi Lilis begitu prihatin, melihat emak begitu kacau, dengan penuh perhatian bibi Lilis mengurut telapak kaki emak yang begitu dingin. Wanita itu takut tekanan darah emak drop lagi karena terlalu stres. Belum penyakit lambung juga maag emak.


"Tenang Mpok, bawa berzikir, jangan terlalu banyak mikir, takut tekanan darah Mpok drop, belum lagi sakit lambung." Bibi Lilis mengingat sang kakak agar tidak terlalu stres.


Emak pun menyahuti perkataan adiknya itu dengan suara parau dan sanggau.


"Gimana Mpok, bisa tenang Lis, ponakan lu belum balik," ujar emak yang kembali menangis.


Bibi Lilis dan yang lain hanya bisa menghela nafas panjang, ikut merasa sedih seperti emak.


"Makanya Mak, kalau anak tuh, jangan suka di omelin, kan anak hilang dicariin, giliran anak pada di rumah di omelin teruskan." Abang Alif menyela dengan perkataan protes. Sejak tadi hati dan mulutnya begitu gatal ingin mengeluarkan kata-kata yang sejak dahulu ia simpan rapat-rapat, tunggu kesempatan dan waktu yang tepat.

__ADS_1


Karena sekarang adalah waktu yang tepat, Abang Alif pun mengeluarkan keluhannya.


Emak pun terdiam, membenarkan keluhan putra tampannya itu. Saat anak-anak di rumah, maka emak akan marah-marah, giliran anak-anak tidak di rumah, wanita itu akan mencari.


"Hust … kalau ngomong, jangan suka benar." Bibi Lilis menyela dengan mata mendelik.


"Sudah, sudah, ribut mulu, dah tau lagi masalah genting juga," abah menimpali dengan wajah serius.


Kembali terlihat keheningan di ruang tamu, dengan raut wajah cemas, namun tidak dengan Abang Alif, yang kepalanya sudah miring sana, miring sini karena mengantuk.


Dalam mereka terdiam, terdengar suara beberapa laki-laki mengucapkan salam.


"Assalamualaikum." Salam ketiga bapak-bapak tersebut.


Yang merupakan ketua RT dan dua lain menjaga keamanan di kompleks tersebut.


Mereka yang sedang terdiam begitu terkejut, mendengar salam yang tiba-tiba. Baba dan abah pun bangkit, mendekati pintu masuk sambil membalas salam sang tamu tengah malam itu.


"Waalaikumsalam, eh … pak rt," sapa baba dan mempersilahkan pak rt dan kedua penjaga keamanan masuk.


Emak pun segera bangunan sambil menutup kepalanya dengan kain, bibi Lilis segera ke dapur untuk membuat minuman hangat untuk ketiga tamunya. Sedangkan Abang Alif terbaring di lantai dua belakang sofa.


"Maaf, pak Ashraf, kami mengganggu malam-malam," terang pak rt dengan sopan.


"Tidak apa-apa pak, santai saja," baba menjawab dengan wajah ramah, agar tamunya merasa nyaman.


Emak hanya bisa diam dan tidak mampu menyapa para tamu tersebut, pikiran wanita itu hanya tertuju kepada putrinya.


"Ada apa ya, bapak-bapak datang malam begini?" Abah bertanya dengan wajah tenangnya.


Ketiga para tamu itu saling menatap satu sama lainnya, sambil memberikan kode untuk mengatakan maksud kedatangan mereka.


"Begini, bah, pak Ashraf, kami dengar kalau nak Amy belum pulang sampai sekarang ya, pak?" Tanya pak rt ke inti maksud kedatangan mereka.


Abah dan baba saling menatap, namun terdengar sahut dari emak yang begitu sedihnya.

__ADS_1


"Iya pak rt, putri kami Amy belum pulang sampai sekarang, anak kami belum balik pak, tolong temukan anak saya pak." Emak yang begitu khawatirnya tanpa sungkan memohon bantuan pak rt.


Pak rt terlihat berpikir sambil mengangguk kepala, pria yang seumuran dengan baba itu, menatap kepala rumah tangga di rumah tersebut dengan mimik penasaran.


"Apa pak Asraf, sudah menghubungi polisi?" Tanya pak rt dengan wajah penasaran.


"Belum pak, karena Amy hilang belum terhitung 24 jam," terang baba.


Pak rt kembali menganggukkan kepalanya, sedang memikirkan cara untuk membantu keluarga baba yang sedang ditimpa musibah besar.


"Mohon bantuannya untuk mencari keberadaan putri kami, pak!" Pinta Abah yang begitu memohon agar kiranya pak rt membantu mencari keberadaan Amy.


"Insya Allah pak, kami pasti membantu. Ini tanggung jawab saya juga selaku ketua rt." Pak rt pun menerima permohonan keluarga Amy.


Bagaimanapun, Amy adalah tanggung jawabnya sebagai ketua rt di lingkungannya. Jadi pak rt memiliki kewajiban untuk membantu keluarga baba.


Tidak lama bibi muncul dan membawa nampan putih yang berisikan minum teh hangat, bibi Lilis menyajikan teh hangat dengan sepiring kue bolu jadul. Membuat kedua penjaga malam begini beruntung.


"Benar kata hadist nabi. silaturahmi, membuat umur panjang dan rezeki lancar, ini contohnya, kita mendapatkan limpahan rezeki dengan datang ke rumah Abah dan emak," timpal pria yang berpakaian biru malam yang merupakan pria penjaga malam di kompleks.


Rekan pria itu menyenggol lengan sang pria yang berucap pelan tadi sambil berbisik. "Jangan berisik Wal, kita jadi malu," bisik rekannya itu.


_____


Kembali suasana menjadi hening, hanya isakan lirih emak yang terdengar pilu. Bibi dengan setia menemani emak, menjaga jangan sampai emak drop.


Namun tiba-tiba suara ponsel berdering nyaring yang berasal dari saku celana baba.


Semua yang ada di ruang tamu segera menatap baba, takut sang penelepon adalah Amy.


"Nomor baru," tandas baba, melihat nomor baru tertera di layar ponselnya.


Sebelum mengangkat panggilan, baba terlebih dahulu menarik nafas, berharap sang penelepon mengetahui tentang keberadaan putrinya.


Baba menekan dan menarik keatas ikon hijau di layar ponselnya dan segera memberikan respon dengan menjawab salam pria itu.

__ADS_1


__ADS_2