Suamiku pria dewasa

Suamiku pria dewasa
bab 56


__ADS_3

Amy keluar dari lift dengan langkah tergesa-gesa dengan sedikit berlari. Saat tiba di pintu lobby, gadis itu berdiri sambil memainkan ponselnya mencari sebuah aplikasi gojek.


Amy pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas saat menemukan Drive ojek yang akan datang menjemput dan mengantar ke sekolah.


Gadis itu kini berdiri di depan lobby dengan wajah yang panik juga gelisah.


Ia tidak hentinya mondar-mandir di depan lobby tersebut, membuat penjaga apartemen mendekatinya.


"Neng, kenapa?" Tanya pria yang telah bertubuh gemuk mendekati Amy.


"Astaghfirullah," sahut gadis itu terkejut.


Pria itu terlihat tidak suka dengan ekspresi terkejut, Amy.


"Segitunya, neng. Liatin aku kok, kayak liat hantu," tandas pria berwajah garang yang memiliki kumis tebal.


Amy pun hanya bisa menyengir melihat wajah masam bapak penjaga di hadapannya.


"Habisnya, bapak ngagetin Amy sih. Amy juga kaget, liat kumis bapak." Gadis itu berkata sambil terkekeh.


Membuat bapak penjaga yang bernama Irwan itu yang tertulis dengan benang di atas saku seragamnya.


Kembali pria yang kira-kira berusia di atas 40 tahun terlihat semakin kesal kepada gadis yang baru ia lihat berada di kawasan apartemen.


"Neng, warga baru di sini?" Tanyanya dengan tatapan menelisik ke arah Amy begitu intens.


"Hu'um, baru 3 Minggu," gadis itu menjawab dengan wajah yang menyakinkan.


"Tiga Minggu?! Pak Irwan berkata pelan dengan tatapan semakin lekat, ke arah Amy.


Amy menganggukkan kepalanya sambil terus memperhatikan jam di ponselnya.


Pak Irwan terus memindai Amy dari bawah ke atas, ia sangat yakin kalau Amy berasal dari keluarga kaya. Itu terbukti dengan ponsel yang berada di genggaman, gadis itu.


"Eneng? Tinggal di unit nomor berapa dan atas nama siapa?" Pak Irwan mencerca dengan pertanyaan penuh selidik.


Ia takut, Amy bagian dari kalangan anak muda yang menjadi simpanan pria mata keranjang.


Amy terlihat sedang berpikir, mengingat-ingat nomor yang tertera di atas bel. Gadis itu juga mencoba mengingat nama suaminya.


"Amy lupa, pak. Juga nama bapak Mr," tandas gadis itu sambil menggaruk kepalanya dengan bibir mengerucut, mencoba mengingat sesuatu.


"Bapak Mr?! Cicit pak Irwan dengan raut bingung.


"Amy tinggal bersama, bapak Mr," Amy mengulang perkataanmu, membuat pak Irawan berpikir keras.


"Tuan Alex maksud, eneng?" Ucap pria berperut buncit dengan kumis tebal.


Amy menganggukkan membenarkan tebakan pria bertubuh tinggi gemuk, di hadapannya.


Penjaga keamanan itu, terkejut, sambil memandangi Amy kembali.


"Neng, anaknya?" Ucapnya mencoba menebak.


"Bukan," sahut Amy diiringi gelengan kepala.

__ADS_1


"Keponakan?" Pak Irwan tetap ingin menebak Amy tinggal bersama siapa.


Lagi-lagi Amy menggelengkan kepalanya, membuat pria di depannya menatap Amy dengan tatapan mengintimidasi.


"Lalu?! Tanya pak Irwan yang begitu penasaran.


Amy berpikir sejak, saat mengingat ucapan suaminya yang ingin Pernikahan mereka di rahasiakan.


Tatapan pak Irwan penuh tajam, membuat Amy sedikit bergidik ketakutan.


"A-Amy, adik tirinya bapak Mr!" Seru gadis itu dengan segera dengan nada terbata.


Pak Irwan pun semakin lekat, memindai penampilan Amy. Pria itu berpikir Amy salah satu gadis bebas.


Pak Irwan pun akhirnya percaya dan meninggalkan Amy yang sekarang berdiri di luar lobby, sambil terus menggigit kuku jari telunjuknya.


Tanpa gadis itu sadari, sejak tadi sosok pria bertubuh tinggi dengan tubuh ramping dan kulit putih bersih memperhatikannya.


Sosok pria yang begitu enggan memalingkan tatapan dari Amy yang sejak gadis itu keluar dari lift.


Pria muda dengan warna rambut kecoklatan dan wajah yang terlihat tampan berjalan mendekati Amy.


"Kel, lu mau ke mana?" Tanya pria lain yang menatapnya dengan aneh.


"Gue duluan, ada urusan penting!" Seru Kelvin yang terus melangkah, tanpa menghiraukan tatapan aneh keempat sahabatnya.


"Lah, si batu es, mau ke mana?" Sahut sahabat Kelvin yang baru muncul.


Kelvin Mahesa, adik tiri Alex, memiliki sifat dingin kepada orang yang baru ia kenal. Pria muda yang memiliki ketampanan tidak beda jauh dengan — Alex.


Kelvin kini ikut berjongkok di samping Amy, membuat gadis itu kembali terkejut.


"Astaga!" Pekik Amy yang hampir saja terjungkal ke depan, beruntung dengan sigap, Kelvin menahan pundak gadis itu.


"Lu, kagak apa-apa?" Tanya pemuda tampan itu dengan tatapan khawatir.


"Enggak, kok. Amy cuma kaget," gadis itu menjawab sambil menyingkirkan tangan Kelvin yang berada di pundaknya.


Kelvin hanya menerbitkan senyum tipis, melihat wajah salah tingkah Amy.


"Lu, udah masuk sekolah? Lu, udah baikan?" Kelvin mencerca gadis bermata bulat yang kini tampak kebingungan.


"Emang, kakak kenal Amy ya? Kok, Amy kagak kenal?" Jawab gadis itu dengan lugunya.


Membuat Kelvin begitu gemas melihat wajah imut gadis di sampingnya.


"Lu, lupa mah gue? Kan kemarin gue yang gendong lu," ucap Kelvin dengan wajah serius.


Kedua kelopak mata Amy terbuka lebar, mendengar perkataan pria asing yang duduk di samping ini.


"Biasa aja kali tuh, muka!" Seru Kelvin melihat ekspresi imut Amy.


"Bisa-bisa, gue lepas kendali juga nih," Kelvin berkata dalam hati.


"Kakak seribu? Kapan? Kok, Amy kagak ingat?" Gadis itu mencerca, Kelvin dengan pertanyaan.

__ADS_1


Membuat pria itu pun tidak tahan untuk mencubit kedua pipi chubby, Amy.


"Ish, jangan pegang-pegang Amy. Kata bapak Mr, Amy kagak boleh dipegang sebarang orang, apalagi laki-laki," seloroh gadis itu dengan wajah yang begitu lugu.


Kelvin hanya mencebikkan lidahnya, mendengar ucapan Amy yang membawa-bawa nama sang kakak tiri.


Tidak lama terdengar klakson motor yang mengejutkan keduanya, Amy pun menjadi sumringah, melihat kang ojol pesannya dah datang.


"Neng, Amy?" Tanya kang ojol ramah.


Gadis itu bangkit dengan wajah riang, "iya, bang," sahut Amy yang seger menyambut helm yang diberikan oleh kang ojol.


Saat gadis itu ingin menaiki motor matic tersebut, tiba-tiba sebuah tangan menariknya kembali ke posisi.


"Ehh, apa-apa ini!" Seru Amy yang terkejut saat di cegah oleh Kelvin.


Kang ojol itu pun tampak keheranan melihat Amy yang di tarikan.


"Neng, gimana? Jadi …." Ucapan kang ojol pun berhenti, saat Kelvin menyerahkan beberapa lembar uang berwarna biru.


"Kagak jadi, dia bareng gue," ucap Kelvin, menarik Amy mendekati motor besarnya yang terparkir di depan pintu lobby apartemen.


Amy pun mencoba untuk menghindar, namun tarikan tangan Kelvin membuatnya tidak mampu berkutik.


Sementara di dalam apartemen, Alex terlihat baru saja selesai bertelepon dengan kekasihnya.


Dengan senyum merekah bahagia, Alex meletakkan ponselnya, menyeruput kopi yang ada di hadapannya.


Pria itu terlihat menarik ke atas keningnya, saat baru sadar sudah berada di meja makan dan secangkir kopi hitam di depannya.


"Astaga, terlalu asyik dengan Jessica, aku sampai tidak sadar berada di sini," gumam Alex yang bangkit dari kursinya.


"Little wife!" Panggilnya yang ditujukan kepada sang istri.


"Bunny!" Panggilnya lagi sambil berjalan menuju kamar di lantai dua.


Alex mengernyit aneh, saat tidak menemukan sosok istri mungilnya di dalam kamar.


"Sweetie!" Serunya yang mencari Amy ke luar di ruangan itu.


"Ke mana dia?" Tanyanya pada diri sendiri.


Tidak sengaja ekor mata pria itu menangkap pintu yang terbuka sedikit.


Alex pun tersadar saat melihat pintu tersebut terbuka.


"Oh, sial," geram Alex sambil mengusap wajahnya.


Pria itu mendekati jendela di dekat ruang tamu, ia menatap ke bawah yang bisa memperlihatkan aktivitas di depan lobby.


Hingga akhirnya, tatapan matanya menjadi tajam dengan wajah yang terlihat begitu geram, melihat pemandangan yang membuatnya naik pitam.


"Brengsek!" Erang Alex, melihat istrinya berboncengan dengan pria yang sangat ia kenal.


Segera Alex mencari kunci mobilnya, untuk menyusul sang istri, lalu memberikan pelajaran kepada adik tirinya itu.

__ADS_1


__ADS_2