
Alex terus menatap lekat istri kecil yang tampak berbeda dalam sudut pandangnya. Istri mungilnya ini terlihat lebih fresh dan anggun.
Potongan rambut baru pun warnanya membuat sang istri tampak lebih dewasa, namun tidak ketinggalan wajah imut istrinya itu.
Wajah sang istri pun terpolesi sedikit make up tipis apalagi di bagian bibir ranum istrinya, tampak begitu semakin terlihat menggoda.
"Sial!" Erang Alex, saat tatapannya terus tertuju ke arah bibir ranum istrinya yang sibuk mengunyah.
Neda sejak tadi melirik cucunya itu sambil tersenyum penuh kemenangan, melihat Alex terus menatap cucu menantunya.
Apalagi penampilan Amy malan ini sungguh jauh berbeda, setelah seharian Neda merombak habis penampilan Amy, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Membuat gadis itu begitu jauh lebih cantik.
"Alex!" Seru Neda, mengejutkan cucunya itu yang menyantap makan malamnya sambil memandangi istrinya.
Apalagi malam ini Amy mengenakan pakaian serba minim, dari celana hanya di atas paha dan atasan kaos polos ketat. Membentuk tubuh sintal istrinya, apalagi pada bagian depan yang menonjol bagaikan gunung kembar yang sangat menyejukkan pandangan.
Alex meneguk ludahnya kasar, saat melihat Amy berdiri dan mengambil sesuatu di lantai dengan posisi menungging, membuat bagian belakang montok istri mungilnya itu sungguh membuat Alex tidak mampu memalingkan kedua mata.
"Lek!" Panggil Neda, membuat Alex berdehem sejenak untuk menetralisir sesuatu yang mulai terkoneksi kembali.
"Yes, granny," sahut Alex yang sedikit gugup, melirik dengan ekor mata ketika Amy kembali duduk di tempatnya saat mengambil sesuatu di kulkas.
Lagi-lagi Alex hanya mampu menelan ludah, melihat dua buah mengkal di depannya begitu mempesona.
"Oh s*hit!" Erang Alex yang semakin frustasi.
"Alex!" Panggil Neda sekali lagi sambil menahan senyum.
Alex menoleh kepada Neda yang juga menatapnya dengan wajah bertanya-tanya.
"Iya, neda," sahut Alex sedikit mengerang kesal.
"Apa besok kau memiliki banyak pekerjaan?" Tanya Neda yang masih menatap cucunya itu.
Alex berpikir sejenak, mengingat jadwal pekerjaan yang harus diselesaikan, ada beberapa titik lokasi yang harus ia cek terlebih dahulu sebelum memulai pembangunan sebuah restoran mewah berada di pusat wisata.
"Aku memiliki banyak jadwal semalam satu bulan ini, neda," sahut Alex dengan suara tidak acuh.
Neda terlihat kecewa mendengar perkataan cucunya itu, niat hati ingin mengajak sang cucu liburan di villa pribadi mereka yang ada di puncak.
"Tidak sekarang Neda, mungkin akhir bulan depan, aku memiliki waktu," ujar Alex, mencoba membujuk Neda yang tampak merajuk.
Neda kembali tidak mengatakan apapun, ia lebih memilih menghabiskan makanannya sendiri, tanpa melihat cucunya lagi.
Melihat itu, Alex hanya bisa menghela nafas panjang, belum lagi melihat istrinya yang bertingkah masa bodoh dengan sekitarnya.
"Kalau untuk besok, aku bisa cuti satu hari. memangnya, Neda mau kemana?" Alex pun memberikan sebuah janji kepada sang nenek.
"Neda hanya ingin menghabiskan waktu denganmu, sudah lama kita tidak melakukannya," ucap Neda sendu.
Melihat wajah kecewa Neda, Alex pun kembali menarik nafas panjang setelah itu menghembuskan dengan perlahan.
__ADS_1
"Baiklah, Minggu depan aku akan menyusun kembali jadwalku di kantor," Sahu Alex meraih tangan lemah dan mulai keriput itu, menggenggam lembut. Melihat wajah kecewa Neda, membuat Alex tidak berdaya. Terpaksa ia harus mengambil cutinya untuk tahun ini, sebelumnya ia akan mengambil cuti saat akhir tahun dan kembali ke negara sang mommy.
Sementara Amy hanya bisa menyaksikan dengan wajah bingung, tidak mengerti dengan pembahasan kedua orang di depannya.
🌹🌹🌹🌹
"Astaghfirullah!" Pekik Amy terkejut, saat berbalik setelah menyusun piring yang sudah ia cuci, gadis itu mendapati suaminya berdiri menjulang di belakangnya.
Amy menghela nafas lega dengan tangan yang mengelus dadanya, yang sukses membuat Alex gagal fokus ke arah bukit tinggi istrinya itu.
"Bapak Mr, ngagetin aja," pungkas Amy yang kembali melakukan tugasnya untuk membersihkan dapur hingga semakin mengkilap.
Alex terus memantau pergerakan lincah istrinya. Meskipun dalam pandangannya istrinya ini begitu mungil, namun soal gerakan begitu lincah.
"Bapak Mr, butuh sesuatu?" Tanya Amy tiba-tiba, membuat Alex terkejut hingga tubuhnya bereaksi.
"T-tidak! Eh … buatkan aku kopi!" Pinta Alex yang terdengar gugup.
Amy pun yang semula tampak kebingungan segera melakukan perintah suami yang sekarang berjalan menuju kamar.
Amy pun mulai membuat kopi khusus sang suami, Amy sudah belajar banyak dari bibi Sum yang tidak tinggal bersama. Pelayan itu memilih pulang pergi ke rumah anaknya yang bekerja di ibu kota.
Sebelum memasuki kamar, Amy terlebih dahulu mengetuk pintu. Gadis itu melangkah memasuki kamar dengan sebuah nampan coklat di tangan yang berisi secangkir kopi hitam khusus bapak Mr si mabok marah-marah.
Amy meletakkan cangkir putih di depan Alex yang begitu serius menggambar sesuatu di tablet canggih. Amy mengintip sekilas, tiba-tiba Alex mendelik tajam ke arahnya, membuat gadis itu hanya mencebik kesal dan berlalu dari hadapan sang suami.
Amy pun tersenyum lebar melihat ranjang empuk dan nyaman di depannya, ia segera melangkah, namun gadis itu kembali diam saat mengingat sesuatu.
Amy membalikkan badannya dan memandangi ragu suami yang begitu serius dengan pekerjaannya.
"Hum," gumam Alex, mengangkat kepalanya sejenak lalu kembali fokus ke tablet-nya.
"Amy tidur di mana?" Tanya gadis tersebut dengan suara lirih.
Alex pun kembali melihat istri mungilnya yang menundukkan kepala.
Pria itu juga melirik ke arah ranjangnya dan merotasi pandangan untuk mencari tempat istirahat istrinya ini. Namun tidak ada lagi tempat yang nyaman untuk digunakan istirahat, selain sofa yang ia duduk.
Mau tak mau, rela tidak rela, suka pun tidak suka, Alex tidak punya pilihan lain selain berbagi ranjang dengan si mungil Amy. Yang malam ini tampak sangat berbeda.
Alex berdehem sejenak untuk menetralisir kembali hawa panas yang mulai tersulut gara-gara fokus ke arah dua aset mengkal sang istri.
"Tidurlah di ranjang, tapi … ingat, jangan grasak-grusuk di ranjang. Aku tidak suka dan sangat membenci." Alex memberikan peringatan mutlak kepada istrinya itu yang sewaktu-waktu akan merubah seperti cacing kepanasan tingkahnya.
Amy pun menganggukkan kepalanya, tanda setuju. Berjalan kembali mendekati ranjang yang memuat sekitar empat orang dewasa, Amy tersenyum bahagia akan segera bertemu dengan si ranjang putih, tapi ….
"Sebelum naik ke atas ranjang, kamu harus cuci tangan, cuci kaki, gosok gigi dan jangan lupa minuman susu," tandas Alex yang menghentikan Amy untuk bertemu dengan ranjang empuk yang akan membawanya k alam mimpi indah.
Dengan wajah cemberut, Amy melangkah ke kamar mandi, kaki ia hentakan tanda begitu kesal.
"Mau tidur aja, mesti pakai aturan sih. Ribet amat," gumam Amy dengan bibir terus komat-kamit.
__ADS_1
Alex yang melihat Amy hanya menatap tidak tertarik. "Dasar gadis ceroboh," Alex berkata dalam hati.
"Oh iya, hampir lupa. Tadi kan Neda nyuruh Amy pakai baju maid, astaga, kenapa Amy lupa sih," Amy kembali ke luar sambil terus mengomel, gadis itu berjalan ke ruang ganti mendekati sebuah lemari ukuran besar, Amy meraih pakaian yang menurut Amy begitu lucu, tapi akan membuat si bapak Mr kelabakan.
Alex yang melihat istrinya tidak hentinya mondar-mandir di hadapannya menjadi terganggu, apalagi gadis itu setiap melakukan apapun pasti menghasilkan bunyi berisik. Membuatnya menjadi gagal tikus pun emosi.
"Bisa tidak, kamu melangkah pelan dan melakukan apapun perlahan. Jangan grasak-grusuk, mengganggu saja!" Sentak Alex yang berhasil membuat Amy terloncat kaget.
"Maaf," sahut Amy yang segera berlari ke arah kamar mandi, membuka pintu dengan kasar hingga membuat bunyi pertemuan pintu dan dinding.
Amy terdiam sambil melirik wajah suaminya yang semakin merah, karena menahan emosi.
"Amy ….!" Ucap Alex dengan suara tertahan dengan tatapan menakutkan.
"Brak!" Karena terlalu takut, Amy pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi pun dengan kasar.
"Kelinci kerdil!!! Alexander pun berteriak nyaring, karena terkejut.
"Oh Tuhan, lama-lama aku bisa mati karena stres menghadapi sikap gadis itu," gumam Alex sambil mendengus kesal.
Ia pun meminum sedikit demi kopi yang di buatkan oleh istrinya, lumayan untuk membantunya menekan emosi dan kembali fokus melakukan pekerjaan menggambar.
"Dasar bule sinting, napa sih, itu bule marah-marah mulu. Emang kagak mabok apa marah-marah terus, heran deh," sungut Amy yang kini selesai membersihkan wajahnya dan memakai serangkaian skincare yang di belikan Neda.
"Wah … segarnya, beda emang kalau pakai produk terkenal," komentar gadis itu saat merasakan betah nyaman menggunakan skincare bermerk terkenal.
"Wajah Amy jadi kelihatan lebih bersih dan bercahaya, glowing gitu," lanjut gadis itu kembali sambil menyentuh kedua pipinya yang terasa kenyal.
Setelah memakai serangkaian skincare, Amy kini mengganti pakaiannya dengan sebuah potongan pakai ala maid anime.
Gadis itu kini memandang dirinya dalam balutan busana lucu dalam pandangannya, namun entah dalam sudut pandang sang suami.
Tubuh mungil sintal Amy, terlihat begitu sangat lucu dengan balutan pakaian ala maid tersebut. Amy mengenakan bandana kelinci hingga wajahnya terlihat semakin imut menggemaskan.
Setelah itu Amy menyemprotkan Parfum kebagian tertentu, sesuai anjuran Neda tadi siang.
Amy juga memperagakan gaya yang ia dapat dari stylist terkenal langganan Neda yang mengajarkan beberapa gerakan elegan untuk membuat suaminya terkutuk lutut agar tidak marah-marah.
"Ais, kenapa aku kelihatan kayak gadis nakal," gumam Amy sambil bergidik geli.
Sementara Alex yang sejak tadi mengawasi istrinya, mengernyit saat sudah beberapa menit istrinya itu di dalam kamar mandi, namun tidak belum juga keluar.
"Tuh, anak lagi semedi atau apa? Lama sekali," ujar Alex sinis.
"Cih, kenapa juga aku harus peduli. Kan, bagus gadis itu tertidur di dalam kamar mandi," kembali Alex bergumam dengan nada pelan.
Memandang remeh ke arah kamar mandi di mana istrinya berada. Kembali menyeruput kopi sambil menatap tabletnya, namun suara pintu kamar mandi lagi-lagi membuatnya berpaling untuk mengangkat kepala.
"Byurr." Seketika kopi yang ada di dalam mulut Alex tersembur keluar dan pria itu pun terbatuk-batuk, melihat penampakan istrinya. Alex sungguh di buat terkejut hingga ia kesusahan untuk menghentikan batuknya.
"Bapak Mr, anda tidak apa-apa?" Amy segera mendekat dengan langkah terburu-buru, yang semakin membuat Alex tidak mampu mengucapkan kata-kata.
__ADS_1