
Alexander tiba di gedung apartemen yang terbilang mewah yang ada di tengah pusat kota Jakarta. Pria itu berjalan menuju lift dengan langkah sempoyongan dengan wajah begitu merah juga penampilannya terkesan berantakan. Pria itu sulit untuk melihat jelas sekitar yang begitu berputar-putar, Alexander sulit menyumbangi postur tubuhnya membuat pria tinggi tegap itu hampir terjatuh kedalam kolam hias yang ada di dekatnya.
"S*hit." Umpat pria berwajah tampan itu. Memaki apa yang ada di hadapannya dengan nada meracau.
Suara adzan samar-samar terdengar, itu berarti pria tersebut baru kembali pada pukul 5 subuh.
Bayangkan kalau Juna tidak mendatangi Amy, bisa-bisa gadis remaja itu tertidur semalaman di luar.
Apalagi Alex terlihat begitu tidak acuh dengan istrinya itu, tanpa mengkhawatirkan keadaan buruk kapan saja terjadi pada gadis remaja yang baru satu hari menjadi istrinya.
Pria tinggi itu kini keluar dari lift dengan melangkah berat ke arah unit apartemennya, ia menggelengkan berulang kali kepalanya yang begitu berat.
Alexander sengaja tidak terlalu banyak minum, takut ia akan melakukan di luar pikirannya, apalagi wanita yang mengajak bekerja sama terus menggoda, beruntung di tengah kesadaran yang berkurang ia masih berpikir waras untuk tidak tergoda melakukan hal selama ini ia hindari kecuali melakukannya bersama sang kekasih.
Alex sudah mengerjap berulang kali guna melihat dengan benar unit apartemen nya, ia kini berdiri tepat di pintu berwarna hitam.
Alex mengambil kunci kartu yang ada di saku celananya, mungkin pria itu melupakan sejenak tentang gadis remaja yang baru dinikahinya.
Alex menekan tombol password unit-nya yang ia dapat dari bawahannya, Juna.
Pria itu masuk ke dalam apartemennya, membuka sepatu dan meletakkan asal. Keadaan dalam unit miliknya terlihat sunyi juga terlihat gelap. Lampu ruang utama dan lainnya mati, kecuali cahaya yang berasal dari dapur.
Alex melangkah menuju dapur, ia butuh minuman untuk menghilangkan kadar alkohol dalam tubuhnya. Apalagi pagi ini ia harus melakukan pengecekan proyek di luar kota.
Alexander membiarkan lampu di ruangan lain mati, ia hanya butuh menghilangkan mabuknya.
"Brengsek!" Erang Alex, saat menginjak sesuatu di lantai. Pria bermata biru itu terus melangkah dengan mulut yang terus mengumpat kasar.
Hingga ia tiba di depan kulkas, mengambil sebotol air mineral lalu menuangkan ke dalam gelas putih, tidak lupa Alex menambahkan perahan lemon yang mampu mengurangi kadar alkohol dalam tubuh.
Alexander menyadarkan punggung lebarnya itu di sandaran kursi makan, ia terus memijat pelipis yang masih begitu sakit.
Matanya yang terpejam terbuka lebar saat melihat cahaya pagi mengintip di celah gorden jendela yang full kaca.
Setelah merasa tubuhnya lebih baik, Alex berdiri, melangkah menuju ruangan tv. Meraih sebuah remote control untuk mengibas tirai yang menutupi jendela.
Seketika ruangan itu menjadi terang oleh cahaya pagi, Alex sejenak diam di depan jendela, memandangi kota Jakarta yang sudah terlihat mulai padat. Pria itu melakukan beberapa gerakan untuk meregangkan otot-otot kaku. Setelah ia yakin cukup, Alex membalik badan , namun seketika wajah berubah kaget dan kebingungan melihat hal menjijikkan di depannya.
"Apa-apaan ini, siapa yang melakukan ini semua!" Pekik pria itu dengan raut wajah syok bercampur marah.
Bagaimana tidak, terkenal dengan sosok yang selalu menjaga kebersihan juga kesehatan tubuhnya, Alexander begitu geram saat melihat ruangan tengah begitu berantakan.
__ADS_1
Bekas makanan berserakan di atas meja di sana, di sofa terdapat tumbuhan noda yang terlihat seperti saos juga teh. Di lantai sampah bekas cemilan pun ada. Sungguh sukses membuat pria bule itu meradang dengan wajah yang kini berubah begitu menakutkan.
"Siapa yang berani melakukan ini," ucap Alex dengan nada begitu sangat geram.
Sungguh ia sangat membenci dengan hal berantakan juga kotor. Tiba-tiba ia teringat suatu hal.
Lama Alex diam dengan tatapan nyalang ke arah depannya, ia pun baru tahu siapa yang berani mengotori ruangannya.
"Dasar gadis sialan! Beraninya dia masuk ke dalam apertemanku dan membuat hal menjijikkan, akh!" Pria itu pun terlihat begitu marah dengan wajah yang tidak bersahabat. Siapapun yang melihat wajah Alex sekarang, maka tidak akan ada yang berani mendekat.
Pria itu pun melangkah panjang menuju kamar yang ada di bawah, terlihat ada dua pintu kamar di sana, Alex berjalan menuju pintu paling pojok, karena kamar itu merupakan kamar kosong yang di khususkan untuk seorang pelayan.
Alexander membuka pintu kasar dengan raut wajahnya yang sangat begitu marah. Kosong, ia diajak menemukan keberadaan istri kecilnya di sana.
Mata Alex semakin nyalang, melirik pintu yang ada di dekat ruangan tengah hanya sekat partisi yang memisahkan ruangan itu.
Kali ini wajah Alex semakin begitu menyeramkan dengan langkah begitu panjang untuk mencapai pintu yang bercat putih. Kamar yang disiapkan khusus untuk kekasihnya saat datang berkunjung ke Indonesia.
Sekali lagi, Alex membuka pintu kamar itu dengan menggunakan kaki panjangnya, hingga pintu terbuka dengan kasar dan menabrak dinding.
Pria itu berjalan memasuki kamar yang dihiasi dengan kesukaan kekasihnya.
Wajah kian merah padam, kedua garis wajahnya terlihat mengencang, giginya bergesekan hingga menghasilkan bunyi yang begitu mengerikan. Kedua tangan terkepal erat, membuat telapak tangan putihnya berubah merah.
Alex mendekati ranjang, melihat Amy tertidur dengan wajah polosnya, tanpa terganggu oleh suara keras yang ditimbulkannya.
Dengan sekali tarikan, selimut yang menutupi tubuh Amy terlepas, membuat kini tubuh gadis itu terlihat dengan posisi miring.
Alex semakin geram, apalagi melihat Amy menggunakan piyama tidur milik kekasihnya, dadanya pun begitu bergemuruh hebat. melihat milik wanita yang ia cintai kini di sentuh oleh seorang asing.
Alex mengambil gelas berisi air yang ada di atas nakes, tanpa memiliki perasaan, Alex menuangkan segelas air itu tepat di wajah Amy.
Membuat gadis itu terkejut lalu terbangun sambil terbatuk-batuk. Amy mencoba mengusap wajahnya yang basah dan menahan rasa sakit saat air masuk ke dalam hidungnya.
Gadis itu belum menyadari seseorang kini menatapnya dengan pandangan kelaparan.
"Beraninya kamu memakai kamar wanitaku juga barang-barangnya!" Amy begitu terkejut, saat mendengar suara berat sedang membentaknya.
"Pragg"
"Akh … emak." Amy berteriak ketakutan, saat Alex melempar kelas ke arah dinding.
__ADS_1
Amy kini memundurkan tubuh mungilnya saat melihat wajah Alex begitu menyeramkan.
Amy begitu ketakutan, ia kini menyusutkan tubuhnya sendiri di atas ranjang tanpa melihat wajah suaminya.
"Siapa yang menyuruhmu menempati kamar ini, hah. Siapa!" Gertak Alex begitu kasar, membuat tubuh Amy tersentak kaget. Wajah gadis itu bahkan semakin pucat dengan tubuh bergetar ketakutan.
"Katakan, siapa yang menyuruhmu menyentuh barang milik kekasihku, hah! Dasar gadis sialan!"
"Prang."
"Akhh! Emak …." Teriak Amy histeris juga ketakutan, yang lagi-lagi melihat Alex menyapu bersih hiasan di atas nakas.
"A-Amy, hanya di suruh tidur di sini dan Amy …."
"Tutup mulutmu!" Bentak Alex lagi, saat Amy mencoba membuka suara dengan nada bergetar bercampur tangisan.
Melihat itu, Alex semakin geram dan kembali membuat Amy semakin takut.
"DIAM, DIAM, DIAMLAH GADIS MURAHAN!" Teriak Alex begitu menggila.
Membuat Amy semakin ketakutan dan menangis kencang. Sungguh gadis itu dalam keadaan ketakutan parah sekarang. Ini adalah kejadian yang baru ia lihat. Selama ia besar, Amy tidak pernah mendapat perlakuan kasar dari kedua orang tuanya, selain emak yang sering memarahinya namun tidak sampai membentak Amy.
"Emak, baba, Amy takut," ucap gadis itu di tengah tangisan yang begitu ketakutan.
Alex mendekati gadis itu, dengan wajah yang semakin emosi, ia meraih salah satu tangan Amy dan menarik kasar, membuat tubuh mungil itu terjatuh dari atas ranjang.
"Bugh, akh … emak sakit," ringisnya kesakitan di bagian tubuh depannya juga kening yang terbentur.
"Diam!" Gertak Alex lalu mendirikan Amy paksa dan menariknya ke luar dari kamar, layaknya binatang.
Alex membuka kamar yang berada di paling pojokan, melemparkan tubuh mungil Amy, hingga terhempas di lantai.
Amy lagi-lagi mengeluh sakit dengan tangisan yang semakin memilukan.
"Ini kamar kamu, seharusnya kau berada di sini. Karena kau hanya seorang gadis sialan yang membuatku frustasi. Kau tidak layak menjadi nyonya di sini, seharusnya kau hanya menjadi pelayan." Alexander memaki dengan wajah sangar menakutkan, ia juga membentak bahkan memaki Amy, yang hanya bisa terduduk di lantai dengan memeluk kedua lutut kakinya.
Sungguh keadaan gadis itu begitu memilukan, dengan wajah begitu sangat ketakutan.
Alex pun ingin mendekati Amy dan berniat melepaskan pakaian kekasihnya yang dipakai oleh Amy. Gadis itu menggeleng kepala dengan takut, saat melihat Alex mendekat.
Amy bahkan meracau sambil memohon, agar Alex tidak mendekati. Tiba-tiba suara dari arah pintu membuat Alex menghentikan niatnya.
__ADS_1
"Alexander!" Pekik seorang yang begitu syok melihat pemandangan yang terjadi di dalam kamar itu.