
"Lihat, gais, siapa yang datang!" Teriak gadis berambut pirang dengan model Carly di bagian bawah. Gadis yang bernama Zizi, yang merupakan siswa populer dengan kecantikan juga keelokan tubuh di sekolah. Anak dari pemilik yayasan sekolah tersebut.
Gadis yang merupakan ketua geng gadis cantik di sekolah Amy dan yang seller mencari masalahnya dengan si gadis imut yang berdiri di tengah-tengah mereka.
Amy hanya menghela nafas, sudah hal lumrah menghadapi keempat gadis di depannya. Untung hari ini moodnya begitu bagus, mendapat imun dari suami bulenya.
"Kalian lagi," Sasa menyela dengan ******* nafas kesal.
"Minggir, kami mau lewat!" Pinta Putra, menarik pundak mungil Amy untuk menerobos keempat gadis yang menghalangi langkah mereka.
"Upz, kalian sudah berani ternyata dengan kami. Ingat, para cecurut, kalau kalian sekolah disini hanya numpang bansos. Alias, sekolah gratis. So … jangan sok hebat dan mampu deh, dasar miskin." Ujar gadis yang maju satu langkah agar lebih dekat dengan Amy sambil berbisik sesuatu yang begitu sarkas.
Keempat gadis itu terlihat tersenyum sinis ke arah Amy dan kedua sahabatnya.
"Lu, juga harus sadar, kalau yang kaya itu, bokap lu, bukan elu. Jadi … jangan pansos mulu," sahut Amy yang begitu santai menjawab ucapan sarkas Zizi.
Gadis yang bernama Zizi terlihat meradang dan bersiap untuk menyerang Amy, namun dengan gerakan gesitnya, Amy menginjak kaki Zizi lalu menyenggolnya hingga Zizi terjungkal ke samping.
"Akh!! Dasar gadis kerdil sialan!" Zizi berteriak kesal, melihat kearah Amy dan kedua sahabatnya yang sudah berjalan jauh.
"Awas, kalian," gumam Zizi dengan wajah penuh dendam.
Ketiga sahabat gadis itu mencoba membantu, tapi segera disingkirkan oleh Zizi dengan sikap arogannya.
"Ayo!" Perintah gadis yang sering berdandan semaunya gadis kecil.
Keempat gadis-gadis populer di sekolah pun berjalan menuju kelas yang dimasuki Amy tadi.
Keempat gadis itu berjalan layaknya seorang model profesional, berlenggak lenggok di atas panggung.
Siulan para siswa laki-laki saat melintasi di hadapan mereka, membuat jiwa sombong, Zizi bangkit dan semakin berlagak berjalan menuju kelas.
"Lu, kebiasaan deh, ngejawab mulu ucapan cucu, mak lampir itu," Sasa bersungut-sungut ke arah Amy.
"Gue kesal aja ama omongannya dia," sahut Amy yang raut wajahnya berubah begitu muak.
"Tapi lu, harus hati-hati juga. pan lu, tau sendiri watak si Zizi." Putra menyela dan memberikan peringatan kepada Amy.
__ADS_1
"Tenang, gue bisa kok, ngadepin dia." Ketiganya kini memasuki kelas yang letaknya ada di pojok lantai dua.
"Amy!" Baru saja gadis itu memasuki kelas bersama kedua sahabatnya. Tiba-tiba sosok pemuda berseru girang saat melihat Amy.
"Akbar?! Gumam Amy yang terdiam di ambang pintu masuk.
Pemuda tinggi berkulit sawo matang itu, berjalan mendekati Amy dengan wajah manisnya terus memamerkan senyum sumringah.
"Amy, apa kabar?" Akbar merasa kikuk saat menyapa teman sekaligus tetangganya.
Amy masih terdiam, ia mengingat kejadian tawuran waktu itu yang membuat Amy berakhir menjadi istri dari Alexander William Mahesa.
Amy terdiam, membuat Akbar dan kedua sahabatnya saling menatap, bingung melihat Amy malah bengong.
"Malah, bengong," Sasa menyela sambil menoyor kepala Amy dari belakang.
Amy pun tersadar, menoleh ke arah Zizi dengan bibir mencebik kesal. Kini Amy menatap Akbar yang tampak begitu bahagia melihat kehadirannya di sekolah, setelah mengambil libur selama 1 Minggu.
"Amy baik kok," sahut gadis itu dengan senyum tipis.
Namun sekarang Amy terlihat lebih kalem dan tenang. Gadis di depannya juga jauh terlihat lebih dewasa, apa karena rambut barunya?
"Permisi!" Ucap Amy sebelum melewati Akbar begitu saat, tidak lupa gadis itu memberikan senyum ramah.
"Kenapa dia seakan ngehindarin gue?" Akbar berkata dalam hati, masih melihat Amy yang sudah duduk di bangkunya.
"Apa dia marah kali ya, sama aku," gumamnya kembali yang menyusul Amy duduk di bangkunya yang tepat di sebelah gadis pujaannya.
Akbar sudah menyukai Amy, pas mereka lulus sekolah menengah pertama. Akbar ingat, saat itu Amy hampir terjatuh ke dalam Empang lele milik salah satu warga kompleks.
Beruntung Akbar segera menahan tangan Amy dan gadis itu segera memeluknya dengan wajah panik. Saat itu jantung Akbar terasa berdebar-debar kencang dan ia merasakan sesuatu asing setiap berdekatan dengan Amy.
Hingga saat ini, Akbar masih menyimpan perasaan terpendam untuk sahabat juga tetangganya itu.
Meskipun ia harus bersaing dengan Abangnya sendiri yang juga menyukai Amy. Akbar tetap berjuang untuk mendekati gadis berwajah imut dan selalu bertingkah lucu.
Tapi sekarang gadis pujaannya terlihat berbeda dan sikap bar-bar juga semboronya sudah hilang.
__ADS_1
Akbar terus menatap Amy yang begitu jauh berbeda. Padahal pemuda hitam manis itu ingin menanyakan alamat Amy yang baru.
Kata emak Nani, Amy tinggal bersama kerabatnya yang tidak jauh dari sekolah. Akbar pun berpikir, kedua orang tua Amy sengaja menjauhkan gadis itu dengannya, karena masalah Amy hilang waktu itu.
Sementara Alex kini sedang melakukan pengecekan proyek yang ia tangani di salah satu daerah yang ada di pusat kota Jakarta.
Alex menatap bangunan yang merupakan hotel berbintang yang baru selesai, 50%. Pria tinggi dengan kulitnya yang merah akibat sengatan matahari, tampak berdiskusi dengan beberapa bawahannya.
Wajah Alex begitu tampan saat mode serius, aura ketampanan berkali-kali terlihat. Ditambah postur tubuh yang terbilang profesional. Meskipun ia hanya melakukan olahraga gym dua kali dalam seminggu, namun tubuhnya tampak terlihat begitu kekar.
"Mr!" Seorang wanita tiba-tiba datang menghampiri pria itu yang masih serius membahas hal penting.
Alex menolehkan kepala ke arah samping kanan dan ia melihat sosok wanita dewasa dengan penampilan berkelas berjalan sambil tersenyum kepadanya.
"Nona Erika," Alex membalas sapaan wanita itu yang semakin girang, Alex membalas sapaannya.
"Selamat siang, Mr Alex!" Wanita yang kini mengenakan setelan rapi dengan potongan rok span pendek di atas lutut, kembali berbasa-basi kepada Alex sambil mengulurkan tangan sambil memamerkan senyum terbaik.
"Baik, sangat baik nona," Alex membalas sambil meraih tangan wanita di depannya. Pria pemilik iris mata biru hanya menampilkan senyum tipis.
Namun senyum itu membuat wanita di depannya begitu klepek-klepek.
"Apa anda ingin mengecek sekarang, nona?" Alex bertanya dengan suara berat dan bahasa Indonesia yang khas. Erika terlihat tersentak kaget mendengar seruan Alex.
"Yah … oh iya, saya kemari ingin melihat Mr, eh … maksud saya melihat pembangunan hotelnya," ucap Erika terbata dan terdengar salah tingkah.
Alex hanya mengernyit salah satu alisnya, saling menatap dengan kedua bawahnya lalu menaikkan kedua bahu kekarnya cuek.
"Baiklah, mari saya antar!" Alex mengajak kliennya itu untuk melakukan pengecekan di bagian dalam.
Erika merupakan wanita yang berasal dari keluarga kaya raya. Hotel yang ditangani Alex adalah miliknya.
Erika sungguh tertarik dengan Alex saat pertama kali bertemu yang mendapatkan rekomendasi dari sahabatnya tentang sosok Alex.
Sepanjang pengecekan, Erika tidak pernah berpaling dari wajah tampan Alex. Wanita itu tidak benar-benar memperhatikan setiap detail, pembangunan hotelnya sendiri. Ia lebih tertarik melirik Alex.
"Tampan banget ya, nih bule. Pengen gue karungi," batin reka yang begitu gemas melihat Alex.
__ADS_1