Suamiku pria dewasa

Suamiku pria dewasa
bab 57


__ADS_3

Amy dan Kelvin sudah tiba di depan sekolah, gadis itu begitu gugup saat Kelvin mengantarnya sampai di depan pintu gerbang dan melakukan hal manis kepada Amy.


Seperti melepaskan helm yang ada di kepala gadis itu dan merapikan rambutnya.


Membantu melepaskan jaket yang dipakaikan di tubuh mungil si Amy.


Semua tatapan siswa kini tertuju ke arah mereka, beruntung helm full face Kelvin masih terpasang. Namun semua siswa begitu mengagumi sosok yang bersama Amy.


"Kakak tidak perlu melakukan hal itu kepada, Amy," ujar gadis tersebut dengan wajah sedikit kesal. Masih pagi tapi dirinya sudah d buat spot jantung saat dibonceng oleh Kelvin dengan kecepatan tinggi.


Pemuda itu hanya tersenyum di balik helm full face-nya, ia kembali merapikan rambut Amy.


"Ist, rese deh," sungut gadis itu menghindar.


Amy pun bersiap untuk berlari menuju kelasnya, untung saja dirinya belum terlambat, mungkin karena menggunakan kendaraan roda dua, jadi tidak terjebak macet dan Kelvin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. meskipun Amy harus menempel di punggung pemuda itu layaknya cicak di dinding.


"Apa sih, lepas!" Pinta Amy sambil menyentakkan tangan Kelvin yang bertengger di pergelangan tangannya.


"Lu, kagak terima kasih ke gue, gitu," seloroh pemuda itu.


Amy pun menjadi tidak enakan dengan Kelvin, dengan wajah salah tingkah, gadis itu pun mengucapkan terimakasih dan segera berlari meninggalkan Kelvin yang terkekeh.


Para siswa begitu terpesona dengan penampilan Kelvin yang begitu keren.


Sosok pemuda yang memiliki kulit putih mulus dengan lengan panjang kekar yang memperlihatkan urat-uratnya. Postur tubuh ramping dan ideal yang sangat disukai kebanyakan kaum wanita.


Kelvin mengenakan kembali jaketnya lantas meninggal area sekolah tersebut dengan senyum terus mengembang.


"Buset si pea' udah mulai main-main," ucap Sasa yang melihat Amy di antara oleh pria lain.


"Main apa?" Tanya Putra penasaran.

__ADS_1


"Main selingkuh selingkuhan," jawab Sasa asal.


Putra hanya mencibirkan bibir atasnya ke arah Sasa.


"Buset itu anak, semua cowok keren di borong semua," celetuk Sasa yang tidak percaya, sahabat mereka dikerumuni para cowok keren.


"Lah, yang ngantar si pea' bukannya kak, Kelvin yah?" Seloroh Putra.


Sasa pun menoleh ke samping dengan kedua kelopak matanya terbuka lebar.


"Oneng, biasa aja mata lu. Kagak usah melotot kayak kuntilanak pengen bunting," celetuk Putra sambil menoyor kening sahabatnya.


"Gue, kaget pea," balas gadis itu sambil meninggalkan Putra.


"Hey, lu mau ke mana!" Teriak Putra yang tidak terima di tinggal begitu saja.


"Mau boker, napa? Lu mau ikut!" Sahut Sasa yang terus berjalan menuju kelas. Ingat menyusul Amy dan mencoba mencari kebenaran tentang seseorang yang mengantar gadis tersebut.


Amy kini berjalan santai saat mulai mendekati tangga menuju lantai atas. Akan tetapi, langkahnya terhenti saat sekelompok geng gadis-gadis cantik menghalanginya.


Carly dan the geng-nya berdiri di depan Amy dengan wajah yang siap untuk mengintimidasi gadis mungil di depan mereka.


"Lihat, si pendek datang dan diantar oleh pangeran tampan. Tapi, kok, aku tidak percaya pria itu tampan." Carly berkata dengan nada sinis dan ketiga temannya tertawa mengejek ke arah Amy.


Amy pun hanya bisa menghela nafas panjang, meletakkan kedua tangan di pinggang dan menatap keempat gadis di hadapannya dengan santai.


"Lu, dapat darimana? Cowok itu?" Carly bertanya dengan setengah memaksa.


"Bukan urusan kalian, dasar kepo," sahut Amy, lalu bergumam pelan di akhir kalimat.


"Eeeh, lu mau ke mana? Jawab dulu pertanyaan kita," paksa Carly dengan wajah garang.

__ADS_1


"Bukan urusan lu, biji nangka," jawab Amy yang masih terlihat santai.


Carly terpengarah mendengar perkataan Amy yang menyebutnya biji nangka.


"Apa lu, kata, hah!" Pekik Carly tidak terima dipanggil biji nangka.


"Yaelah, daripada gue panggil lu, ulat nangka. Kan, nanti lu tersinggung. Jadi … sebagai wanita yang memiliki hati baek, gue panggil lu, biji nangka. Tapi karena lu, keberatan. Jadi … baiklah, gue panggil lu, ulat nangka." Terang gadis itu dengan begitu semangat.


Carly dan ketiganya sahabat begitu geram mendengar ucapan Amy. Mereka pun ingin memberikan pelajaran kepada si Amy.


"Minggir, gue mau lewat!" Seru Amy yang mendorong ke samping lengan — Carly.


Carly terlihat semakin geram dengan wajahnya kini begitu merah dengan hidung terlihat kembang kempis.


"Hey, lu mau ke mana?" Ujar Carly, sambil menarik lengan Amy.


Carly lalu memberikan kode kepada temannya untuk memegang tangan Amy yang satunya.


"Apa yang kalian lakukan, lepasin gue!" Pinta Amy yang masih terlihat begitu santai.


"Diam! Kami akan memberikan lu, pelajaran!" Sentak Carly garang.


"Emang lu, udah jadi guru? Mau ngajarin Amy segala," celetuk Amy yang membuat wajah Carly begitu frustasi melihat ekspresi wajah Amy santai.


"Diam lu!" Bentak Carly yang kini siap untuk menyeret Amy ke ruangan kosong yang ada di belakang sekolah.


Namun gadis yang kini dalam cekalan para geng tersebut, segera melawan, dengan menginjak, kaki sahabat Carly.


Gadis itu berteriak, membuat Carly terkejut. Belum juga habis rasa terkejutnya, Carly kini dibuat terpengarah dengan sikap bar-bar Amy, yang menggenggam kuat telapak tangannya hingga merah. Carly refleks, melepaskan.


Namun tiba-tiba tangannya terasa sakit sekali, saat Amy memelintirnya ke belakang dan gadis mungil itu mendorong punggungnya hingga menghantam dinding.

__ADS_1


__ADS_2