Suamiku pria dewasa

Suamiku pria dewasa
BAB 32


__ADS_3

Sosok gadis bertubuh mungil itu kini bersembunyi di balik punggung tua neda. Wajah Amy begitu ketakutan. Apalagi melihat suatu benda asing yang menurut pandangannya begitu mengerikan. Berulang kali gadis berwajah imut itu bergidik geli melihat bentuk memanjang ke depan.


Sungguh pikiran gadis yang masih polos dan lugu. Bukankah, seharusnya dia sudah mengenal benda tersembunyi itu? Karena dalam mata pelajaran biologi kita bisa mengetahui tentang alat vital terhadap manusia. Namun lagi-lagi gadis itu tidak mampu menangkap soal pelajaran biologi. Secara dia termasud murid yang cukup bebal dalam mata pelajaran yang tidak ia sukai, padahal cita-citanya begitu mulia, yaitu menjadi seorang bidan.


Amy mengintip suaminya yang berdiri di hadapan dengan wajah memelas karena pagi ini harus mendengar sepatah dua patah nasehat neda. Amy menatap wajah suaminya yang sial, matanya begitu terpesona. Turun dan terus turun hingga kini tepat di titik di mana ia melihat penampakan mahluk asing yang lagi-lagi membuat gadis itu bergidik geli.


"Ih, kenapa benda itu begitu aneh." Batin si gadis berwajah imut.


"Plak, akh!" Alex lagi-lagi meringis kesakitan, saat mendapat tamparan di lengannya yang belum mengenakan pakaian. Sungguh tamparan neda begitu panas.


"Berhentilah memukulku neda, lihat! Lengan ku sudah dipenuhi cap lima jari neda," keluh Alex sambil mengusap lengannya yang sungguh panas dan perih.


"Biar kamu sadar, sudah neda peringatkan, jangan di geprek-geprek istri kamu dulu, dia masih kecil." Wajah neda begitu geram kepada cucu semata wayangnya itu, kini neda menarik telinga cucu tampannya, merasa gemas saat mendapati cucunya sedang menghimpit Amy.


Wanita tua itu berpikir sang cucu akan melakukan sesuatu kewajibannya sebagai pasangan suami-istri di pagi hari. Namun kesepahaman terus menjadi saat menyadari cucu dalam keadaan polos saat menghimpit cucu menantunya.


Apalagi melihat wajah Amy yang pucat dengan wajah syok. Neda berpikir Amy ketakutan karena cucu laknat-nya ingin memaksa gadis itu, tapi kenyataan, Amy begitu syok tentang benda asing.


"Apa tidak melakukan apa-apa kepadanya neda," ucap Alex dengan nada geram dan mencoba menjelaskan, tapi sang neda begitu keras kepala.


"Hey, gadis mungil. Jelaskan kepada neda, apa yang terjadi!" Sentak Alex dengan nada tinggi kepada Amy.


Refleks Amy memegang lengan neda dengan mata terpejam erat. "Pletak." Satu geplakan tepat di kepala Alex.


Alexander pun meringis sambil mengusap kepalanya. "Jangan kencang-kencang bicara mah anak kecil. Lihat, dia jadi takut, dasar cucu semprul!" Neda kembali memarahi cucunya itu.


"Oh, cucu neda yang cantik dan imut, jangan takut sayang, ada neda disini." Wanita paruh baya itu membalikkan badan dan memeluk Amy yang tampak ketakutan.


Amy melirik suaminya dan kembali menunduk saat melihat wajah ancaman Alex.

__ADS_1


"Kenapa diam di situ, cepat pakai baju kamu!" Sentak neda dengan ketus kepada Alex.


Alex pun melangkah ke arah ruangan lain yang ada di dalam kamar itu sambil mendelik tajam kepada Amy. "Jangan macam-macam Alek!" Seru neda.


Amy pun bisa bernafas lega, melihat suaminya sudah menjauh. Gadis itu kini menatap wanita tua di hadapannya, wanita yang terlihat masih cantik dan anggun di usia tidak muda lagi.


"Apa kamu sudah baikan sayang? Masih sakit lukanya? Atau masih sakit badannya?" Neda bertanya dengan rentetan pertanyaan.


Amy hanya menggeleng dengan wajah bingung, memandang kepada neda dengan wajah penasaran. Wanita tua itu akhirnya tersenyum dan memperkenalkan diri kepada Amy.


"Saya neda sayang," ucap neda mengusap lembut rambut Amy yang sedikit berantakan, merapikan poni Amy yang sudah menutupi kedua alis tebalnya.


"Neda?! Sahut Amy lirih, kedua kelopak mata lebar itu berkedip-kedip, membuat wanita tua itu merasa games.


"Ya Allah, kamu imut sekali sayang, neda pengen cubit kedua pipi kamu ini!" Seru neda antusias, mencubit ringan kedua pipi tembem Amy yang agak kemerahan.


"Neda adalah, nenek muda. Alex yang pertama kali memanggil nama itu untuk neda. Oh iya, neda adalah nenek kandung suami kamu," neda pun menjelaskan kepada Amy, meskipun gadis di depannya hanya bisa diam dengan mata berkedip-kedip lucu.


"Hum, Amy sudah kelas tiga dan dua bulan lagi ujian akhir." Tukas Amy yang wajahnya masih terlihat lemah.


Neda terus memandangi wajah gadis ini, sungguh ia begitu senang bisa mendapat seorang cucu perempuan.


Sedangkan Amy terlihat diam, memikirkan sesuatu yang begitu ganjal, ada sesuatu yang ia lupakan tapi gadis itu pun bingung.


"Astaghfirullah!" Seru Amy yang sontak lekas berdiri dari duduknya. Wajahnya mulai panik mengingat hari ini dia harus masuk sekolah.


Neda pun terkejut dan refleks ikut berdiri dengan wajah kaget.


"Ada apa sayang?" Tanyanya khawatir.

__ADS_1


"Amy harus ke sekolah," sahut gadis itu, ia berjalan untuk keluar kamar namun Amy begitu kebingungan.


Neda pun melihat Amy yang kelabakan menjadi ikut panik dan mengikuti langkah Amy, yang mondar-mandir tidak tentu.


"Nade kenapa mondar-mandir?" Tanya Amy, wajahnya begitu heran.


Neda menghentikan langkahnya dengan nafas ngos-ngosan, wajah tuanya kini tampak kelelahan.


"Kamu kenapa mondar-mandir juga?" Neda balik bertanya.


Amy pun terlihat berpikir dan detik berikutnya gadis itu menggelengkan kepalanya. "Tidak tau," sahutnya santai.


Neda pun menghela nafas panjang, ia baru sadar kalau gadis di depannya sungguh masih begitu lugu.


_______


"Hari ini kamu tidak perlu sekolah, aku sudah menghubungi wali kelas kamu, untuk meminta izin selama satu Minggu." Alex kini duduk di depan Amy yang terus menunduk kepalanya, kedua tangan memelintir ujung kaos super size yang ia kenakan. Amy belum menyadari kalau kaos yang ia pakai adalah milik suaminya.


"Kamu dengar tidak apa yang aku katakan, kenapa diam saja dari tadi!" Seru Alex dengan suara berat dan tegas.


Amy pun semakin menyusutkan tubuh kepada neda, takut melihat wajah suaminya yang tampak begitu tegas. Amy jadi ingat guru BK di sekolahnya. "Galak kayak pak Joko," gumam Amy pelan.


"Kalau diajak bicara itu jangan nunduk, lihat orang yang ngajak kamu bicara, sungguh sikap tidak sopan!" Sentak Alex yang mana nada suaranya naik satu oktaf.


Neda terkejut, mendengar kata-kata Alex. Ternyata cucunya itu masih ingat dengan didikannya dahulu.


Sedangkan Amy semakin yakin, suaminya adalah titisan pak Joko, guru BK-nya.


"Dengar tidak apa yang aku katakan!" Gertak Alex sekali lagi membuat neda dan Amy terkejut.

__ADS_1


"Kalau ditanya itu jawab!" Sekali lagi pria bule itu berkata dengan nada tinggi dan membentak.


Amy sampai terkejut berulang kali mendengar ucapan suaminya yang sama sekali tidak ada kelembutan.


__ADS_2