
"Apa itu penting?"
" …"
"Baiklah, aku akan segera ke sana. Kau harus menyiapkan berkas-berkasnya!" Alex menutup panggilan yang baru saja ia terima dari bawahannya.
Pria itu meletakkan kembali ponselnya sambil menghela nafas panjang, mengusap wajah rupawannya lalu menengadah kepala ke atas.
Setelah itu Alex kembali menghidupkan mesin mobil setelah berada di dalam mobil selama satu jam lamanya hanya untuk menunggu istri kecilnya.
Alex menggerakkan mobil mewahnya mendekati pos penjaga, pria itu turun dari mobil dan tubuh tinggi ideal itu berjalan menuju pos.
Dua orang penjaga pos sekolah kini terkejut dengan kemunculan sosok bule tampan di hadapan mereka.
Kedua wajah para penjaga sekolah melongo dengan mulut menganga melihat keberadaan Alex dengan posisi leher keduanya mendongkak.
"Excuse me!" Seru Alex kepada dua orang di depannya yang terlihat masih melongo.
"Excuse me! Hello!" Seru Alex kembali dengan nada sedikit berat.
Kedua penjaga itu pun terlihat terloncat kaget. Keduanya kini saling senggol untuk mengajak sang bule bicara.
"Lu, aja, gue mana tahu bahasa bule," bisik penjaga satunya yang perawakannya terlihat ringkih.
"Gue juga kagak tahu, Som," sahut penjaga lain yang tubuhnya sedikit bongsor.
"Terus kita harus apa? Masa kita mesti pakai bahasa isyarat," seloroh si penjaga bertubuh kurus.
Alex menautkan alis tebalnya melihat perdebatan dua pria di depannya ini.
"Maaf, saya boleh bertanya?" Alex pun kembali bersuara. Kali ini membuat kedua penjaga itu bisa bernafas lega.
"Dari tadi kek, ngomong pake bahasa Indonesia," celetuk si penjaga berbadan bongsor.
"Pulang sekolah jam berapa?" Potong Alex sambil melirik jam tangannya.
Kedua penjaga itu kembali saling memandang dan menelisik penampilan Alex yang terlihat begitu modis.
"Jam berapa?" Tanya Alex kembali dengan intonasi suara berat.
"Jam 12 siang, Mr." Penjaga kurus menjawab cepat.
Alex terdiam sambil menatap lama jam tangan mewahnya, setelah itu melangkah meninggalkan pos jaga tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi.
__ADS_1
"Lah, si bule kagak punya akhlak, main pergi aja!" Sungut kedua penjaga itu mengikuti langkah Alex hingga mobil pria itu bergerak meninggalkan area sekolah.
"Aku masih punya waktu untuk meeting sebentar." Alex berkata dalam hati sambil melaju ke arah lain.
Pria itu akan menghadiri sebuah rapat penting di perusahaan milik sang Neda.
Waktu pulang pun tiba. Kini seluruh siswa di sekolah tersebut keluar meninggalkan ruangan kelas masing-masing.
Di luar pagar kini sudah ramai oleh para orang tua atau kerabat yang akan menjemput.
Amy dan kedua sahabatnya kini terlihat berjalan santai di antara para siswa berkerumunan.
"Lu, parah, My. Anak orang lu gibas," celetuk Sasa dengan wajah tidak percaya ke arah Amy.
"Kalau gue mah, bukan lagi tak gibas, kalau perlu gue banting," Putra menimpalin dengan suara riang.
Sedangkan si gadis paling mungil d antara ketiga remaja itu hanya diam. Hampir saja dirinya tidak bisa mengikuti kegiatan ulangan, beruntung sang kepala sekolah masih memberikan kesempatan, walaupun ia tetap mendapatkan hukuman selama satu Minggu tidak akan mengikuti kegiatan apapun di sekolah. Termasud acara perpisahan nanti.
"Jadi … lu, kagak bisa ikut perpisahan dong," sela Sasa, menatap wajah cemberut dan lemas Amy.
"Lagian lu, juga, napa pake ladenin tuh mak lampir? Udah tau orangnya, kayak neng kuntilanak kejatuhan daun berisik, masih aja lu, ladenin." Putra terdengar mengomeli sahabatnya yang paling imut.
"Habisnya, gue gemes. Pengen tak obok-obok muka palsu dia." Sahut Amy yang masih terlihat kesal.
"Habisnya dia ngeselin banget, udah tau gue lagi badmood," Amy berkata lirih di akhir ucapannya.
Sasa dan Putra saling menatap dan melemparkan lirikan mata. Saling dorong untuk lebih dahulu bertanya kepada Amy, tentang pria yang mengantarkannya.
Ketiganya kini sudah berada di depan gerbang sekolah, berhenti sejenak di bawah pohon besar yang terasa sejuk.
Cuaca di kota Jakarta hari ini begitu panas dan membuat tubuh terasa gerah.
Amy bahkan mengipasi tubuhnya yang gerah dengan mengerakkan serangannya.
"Enak nih, panas-panas minum es dawet!" Sergah Sasa memberikan usulan kepada kedua sahabatnya.
"Boleh juga tuh, gimana My?" Tanya Putra kepada si mungil Amy.
Gadis itu mengakukkan tanda setuju dengan usulan kedua sahabatnya. Tapi, baru saja melangkah beberapa langkah, tiba-tiba terdengar raungan motor besar ke arah ketiga remaja itu.
Tubuh Amy refleks membeku, mengenali suara motor tersebut, ketika kedua sahabatnya menolah kepada sosok yang kini berhenti tepat di samping mereka.
Amy memilih, diam-diam bergerak untuk bersembunyi.
__ADS_1
"Kenapa dia harus datang ke sini, sih," gerutut Amy yang sembunyikan di balik punggung Putra.
"Hey, manis!" Sapa Kelvin yang kini turun dari motornya dan berpose keren di depan kedua sahabat Amy.
"Astaga, dia begitu cool dan keren," bisik Putra sambil mencolek sahabatnya Sasa.
"Jangan sembunyi!" Kembali Kelvin bersuara.
Sasa dan Putra menggeser tubuh mereka, hingga terlihat sosok mungil kini bersembunyi.
Kelvin terlihat tersenyum manis di balik helm full face-nya. Pria itu kini bergerak mendekati Amy yang terlihat berusaha menghindar dan pergi dari Kelvin.
"Apa sih!" Gertak Amy sok galak dengan kedua tangan pendeknya di pinggang, mata melotot tajam ke arah Kelvin.
Sedangkan kedua sahabatnya hanya bisa diam, menyaksikan Amy yang begitu kesal.
Bukannya merasa terancam, Kelvin kini meraih pergelangan tangan Amy. Menarik gadis itu ke arah motornya.
"Apaan sih, lepas!" Teriak Amy yang berusaha untuk melepaskan tangan besar Kelvin di pergelangan tangannya
Pria itu segera menahan tas Amy, membuat gadis itu gagal untuk kabur.
Kelvin bahkan tidak memperdulikan tubuh Amy yang tidak terima di pelukan seperti ini.
Kedua sahabat si Amy hanya bisa menganga melihat Kelvin yang begitu dominan.
"Lepas!" Teriak Amy yang mencoba untuk melawan, namun kini ia sudah berada di atas motor dengan Kelvin mengangkat tubuh mungilnya dengan mudah di atas motor.
Amy masih berusaha memberontak, namun genggaman tangan Kelvin begitu kuat.
Pria muda itu pun siap untuk menjalankan motornya dengan Amy yang masih memberontak.
Tiba-tiba, sepasang tangan kekar kini meraih tubuh mungil Amy dan menggendongnya layaknya karung beras menuju arah lain.
"Busut, tuh Amy, kayak karung beras di angkat kayak gitu," komentar Sasa, saat melihat sosok pria bule kini membawa Amy dengan sebelah tangan menenteng tas gadis itu.
"Bapak Mr!" Seru Amy saat sudah di berada di dalam mobil, menatap takut wajah suaminya kini terlihat merah.
"Tetap disini!" Perintah Alex dingin.
Amy hanya mengangguk patuh dan tidak berani lagi untuk mengeluarkan suara.
Alex memutar tubuh tingginya dan melayangkan tatapan tajam ke arah Kelvin yan begitu santai duduk di atas motor besarnya.
__ADS_1