
"Baba!" Panggil emak saat berada di dalam kamar bersama suaminya. Wanita bertubuh mungil namun lincah itu sejak tadi tampak terlihat begitu gelisah.
Entah mengapa emak memiliki firasat buruk tentang putrinya, naruni sebagai emak begitu khawatir dan sungguh ia merasa tidak tenang.
Baba yang baru saja selesai mengaji, mendekati istrinya yang duduk di ranjang sambil termenung.
"Ada apa dek?" Tanya baba, mengusap punggung istrinya lembut, melihat wajah khawatir sang istri membuat baba pun ikut merasa tidak tenang.
"Emak, kepikiran si Amy bab. Kok perasaan emak kagak enak ya," ujar emak, membenarkan posisi duduknya tepat berhadapan dengan suaminya.
Baba menerbitkan senyum lembut, mengusap rambut hitam lurus yang dibiarkan di urai milik sang istri. Baba membina menenangkan istrinya agar tidak terlalu khawatir, pria yang terlihat memiliki luar kuat tadi ingin istrinya jatuh sakit.
"Amy pasti akan baik-baik saja de' dia putri kita yang kuat. Pasti suaminya juga menjaganya, jadi … adek tidak perlu khawatir, malah melihat adek kayak gini, pasti buat putri kita ikutan khawatir dan cemas." Baba terus memberikan ketenangan kepada wanita yang sudah menemaninya lebih dari 20 tahun ini.
Emak merasa lebih tenang, apalagi kini emak berada di pelukan suaminya. Meskipun rasa khawatir dan perasaan tidak nyaman masih ia rasakan, namun emak mencoba berpikir positif tentang putrinya.
"Sebaiknya, kita tidur. Besok baba harus mengurus sesuatu di toko!" Pinta baba berjalan ke lain sisi ranjang dan membaringkan tubuh tinggi pria itu di sebelah istrinya.
Emak pun merebahkan tubuhnya itu dengan sebuah doa tulus sebagai seorang ibu untuk keselamatan putrinya pun kebahagiaan anak-anaknya.
Baba memposisikan tubuhnya menghadap sang istri, pria itu tampak tersenyum tampan sambil mengusap pipi istrinya yang tampak masih mulus, meskipun usianya memasuki 40 tahun. Wajah emak tiba-tiba merah,. Mendapat perlakuan romantis dari suaminya, apalagi keningnya kini di kecup oleh sang suami, membuat emak memejamkan mata merasakan hangatnya kecupan baba ia juga bergidik geli, saat merasakan kumis baba menusuk-nusuk kulit wajahnya saat baba menghujami wanita dicintainya itu dengan ciuman.
"Ish, baba geli," ucap emak sambil terkikik geli. Merasakan kumis suaminya yang kini berada di lehernya, membuat emak geli dan ia tidak dapat menahan tawa.
Baba pun semakin menggelitik istrinya dengan kumis tipisnya itu dan emak semakin terkikik bahkan tertawa lepas hingga terdengar keluar kamar.
Bibi Lilis yang berada di meja makan bersama Alif terdiam dan saling memandang, mencoba mendengar suara di dalam kamar.
"Emak kenapa?" Tanya Alif tiba-tiba, sambil memandangi sang bibi yang tampak terlihat biasa saja dan lebih memilih mencatat barang-barang di warung yang sudah habis.
"Lagi kelonan," sahut bibi Lilis seadanya. Tanpa memperhatikan raut wajah tidak nyaman Alif.
"Udah pada tua juga," Alif menyala dengan nada ketus.
Bibi menghentikan sejenak jari-jarinya yang sedang mencatat barang-barang buat warung, memandangi wajah tampan keponakannya dengan alis terangkat ke atas.
"Lah, kan bagus, lu bakalan dapat adik bayi lagi," bibi berkata sambil terkekeh geli, melihat ekspresi wajah keponakannya yang memelas dan seakan menolak mendapat adik lagi.
"Janganlah, Alif kan' sudah dewasa, malu lah bi, punya dedek bayi lagi." Alif mengeluarkan pendapatnya yang begitu malu apabila memiliki adik kecil.
__ADS_1
"Apa kata teman-teman Alif nanti, pasti Alif gendong adik bayi terus ada teman Alif nanya, syukur-syukur kalau cowok, lah … kalau yang nanya cewek, Alif harus jawab apa? Masa, bilang dede Alif." Pria berusia 22 tahun itu pun tidak bisa membayangkan apabila pikirannya benar-benar terjadi.
Alif bergidik membayangkan dia sedang menggendong anak bayi dan si emak nyuruh dia bawa main di sekitar komplek.
"Astaghfirullah, lu kagak boleh ngomong kayak gitu. Harusnya lu bersyukur masih diberi kesempatan naik jabatan lagi, Abang dengan dua orang adik. Lu ngomong kayak gini tuh, sama aja lu nolak berkah dari Allah. Jadi seandainya Mpok hamil lagi lu harus terima dan syukur. Soal teman kamu mah, tinggal jawab aja, dede bayi gue, napa ada masa buat Lo." Bibi pun menerangkan panjang kali lebar kepada keponakannya itu dan di akhiri sebuah tawa melihat wajah Alif begitu masam.
"Emak lu masih muda, ditambah Abang Asraf masih cakep, yang tiap hari kelonan lah, mereka. Daripada lu dapat emak tiri model kayak enaknya Sesar, mau lu?" Pungkas bibi Lilis, berdecak ke arah keponakannya lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya, membawa serta buka catatan yang akan dibawanya untuk berbelanja esok hari.
Alif terdiam di tempat, memikirkan perkataan sang bibi yang lagi-lagi m buat pemuda tampan itu bergidik geli.
"Ogah," ujarnya yang bangkit dari duduknya di kursi makan, melangkah menuju kamar yang ada di lantai dua.
Malam semakin larut dan sebagian para penghuni bumi di kawasan komplek sudah bertemu dengan mimpi masing-masing.
________
Matahari kini mulai terlihat bersinar cerah memasuki celah-celah tirai yang menutupi jendela kamar yang terlihat mewah. Suara burung berkicau merdu yang hinggap di pagar pembatas balkon kamar tersebut.
Tampak terlihat tetesan embun yang terlihat bagai kristal yang berada di setiap pucuk dedaunan dan tumbuhan yang ada di sana.
Terdengar suara lenguhan lirih yang berasal di ranjang luas dan besar. Tanpa kedua kelopak mata itu mengkerut. Wajah sang gadis sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya yang begitu pucat.
Kedua kelopak mata bulat dengan bulu mata lentik kini mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan pencahayaan yang masuk melalui celah tirai berwarna abu-abu.
Ia mengkerutkan kening, saat melihat sekitar yang tampak begitu asing, sontak gadis berwajah imut dan semakin terlihat imut saat bangun tidur. Gadis itu segera bangkit dengan wajah linglung. Terdengar desisan lirih gadis itu saat merasakan sakit di bagian kening, tepatnya di atas alis kirinya.
Gadis yang kini memakai kaos super besar itu memegang sumber rasa sakit yang ia rasakan. Amy sontak berubah ekspresi, saat mengingat peristiwa kemarin malam.
Kedua kelopak mata indah itu terbuka lebar dengan wajah yang mulai panik. Dan semakin panik saat mendengar pintu yang berasal dari arah sudut kamar yang Amy yakin adalah pintu kamar mandi.
Gadis itu mulai beraksi ketakutan, memundurkan tubuh hingga mengenai sandaran ranjang. Ia memeluk kedua kaki yang di tekuk di depan dada, raut wajah yang panik pun pucat.
Dan wajah itu pun semakin memucat, saat melihat seorang yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Sosok bertubuh tinggi menjulang dengan bagian atas tidak mengenakan apapun hanya dibalut selembar handuk putih di bagian pinggang.
Tubuh tegap kekar dan terlihat butir air mengalir hingga diujung handuk yang melilit pinggang pria itu.
Butiran air yang menetes dari rambut panjang pria berwajah rupawannya. Antara ketakutan pun terpesona melihat sosok pria di depannya ini.
__ADS_1
Ketakutan saat mengingat kejadian kekerasan yang gadis itu alami dan terpesona dengan keindahannya tubuh juga rupa pria di hadapannya, apalagi tatapannya tidak berpaling dari cetakan dada bidang nan lebar.
"Kau sudah bangun?" Sapa suara bariton membuat Amy tersadar.
Wajah kagum pun terpesona dengan sosok yang kini berjalan ke arahnya mulai kembali pias. Amy bahkan berdiri di atas ranjang dan ingin naik di atas sandaran ranjang tersebut.
Alexander segera mendekati istri mungilnya saat melihat sebuah tanda bahaya.
"Hey, apa yang kamu lakukan. Turun!" Pekik Alex, yang suara beratnya membuat Amy semakin ketakutan.
"Jangan, Amy mohon, jangan sakiti Amy," ucap si gadis dengan ucapan lirih, bergerak gelisah di atas sana, membuat pria berwajah asing itu semakin waspada.
"Jangan dekat," sentak Amy dengan nada bergetar takut.
"Bapak Mr jangan sakiti Amy!" Gadis itu lalu berteriak histeris.
Neda dan kedua pelayannya yang berada di dapur terkejut mendengar teriakkan Amy.
"Ya Allah! Apalagi yang dilakukan si bule kampret itu," tukas neda berjalan dengan tertatih menaiki anak tangga.
"Turun lah!" Perintah Alex dengan wajah peringatan.
"Tidak! Bapak Mr jauh jangan dekati Amy!" Pekik gadis itu menolak perintah Alex.
Alexander pun berkacak pinggang di dekat ranjang dengan raut kebingungan. Ia melirik gadis mungil di atas sana dan pria itu segera melompat ke sisi lain ranjang saat salah satu kaki Amy terlepas dan gadis itu pun terjatuh tepat mengenai tubuh suaminya.
Kini pasangan itu saling diam dengan saling memandang dalam diam. Pasangan yang memiliki jarak usia yang terpaut sangat jauh.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Alex dengan suara lembut. Yang masih memandangi wajah imut istrinya itu.
Amy refleks menganggukkan kepalanya sambil menatap wajah suaminya yang terlihat semakin tampan di lihat dari jarak dekat.
Alex dan Amy masih saling memandang, namun gadis di atas tubuh pria dewasa itu bergerak gelisah saat sesuatu mengganjal perutnya.
Alexander terbelalak, merasakan miliknya bangkit dan semakin kokoh saat Amy menggesek-gesekkannya.
Alexander berdehem setelah itu memerintahkan Amy berdiri terlebih dahulu dan setelah Amy berdiri sempurna, Alex lantas bangkit dengan penampilan sebelumnya, tubuh kekar hanya berbalut selembar handuk.
Saat Alex bangkit, tidak sengaja kaki Amy yang bergeser sedikit menginjak unjuk handuk suaminya dan ketika Alex akan berdiri sempurna handuk yang ia kenakan tiba-tiba melorot dan jatuh di atas lantai.
__ADS_1
Membuat sesuatu kini tampak nyata di kedua mata suci tak ternoda Amy.
"Akhh, emak mata Amy melihat benda aneh!"