Suamiku pria dewasa

Suamiku pria dewasa
bab 64


__ADS_3

"Kakak, seharusnya melepaskan Amy untukku!" Kelvin menghentikan langkah Alex yang baru saja ingin kembali ke meja makan.


Kedua putra dari tuan Mahesa itu, sedang berada di area toilet. Tepatnya di depan wastafel untuk mencuci tangan sehabis makan siang.


"Apa yang kau katakan?" Tanya Alex dengan alis tebalnya yang terangkat sebelah. Pria tinggi itu menatap lekat wajah adik tirinya.


"Kakak, masih menjalin hubungan dengan wanita lain. Tepatnya, kekasih. Jadi … aku harap, kakak tidak begitu tamak kepada seorang wanita," tutur Kelvin yang berdiri sambil menyandarkan bokongnya di wastafel, melipat kedua tangannya di depan dada dengan pandangan sinis terarah kepada pria bule di hadapannya.


Alex tersenyum miring dan berdecih lirih, membalas tatapan adiknya dengan tak kalah sinis.


"Lebih baik, kau mengurusi saja tubuhmu yang kurang gizi ini. Daripada sibuk merencanakan sesuatu untuk menjadi pemuda murahan," sergah Alex dengan perkataan sarkas.


Wajah Kelvin jelas tidak menerima dengan apa yang kakaknya itu katakan. Namun baru saja akan melayangkan protes, pria bertubuh tinggi itu sudah melangkah keluar.


"Sial! Lihat saja, aku akan membuat perhitungan denganmu!" Gumam Kelvin, wajahnya sudah mengeras karena terlalu menahan rasa emosi.


"Kita pulang sekarang?" Alex membungkukkan badan mendekatkan wajahnya di samping telinga istri mungilnya yang sedang berbincang dengan salah satu istri dari rekan bisnis suaminya.


Amy menoleh dengan kepala terangkat ke atas, membuat Alex sangat mudah berkesempatan mengecup bibir mungil sang istri.


Amy menjadi tidak nyaman dengan tatapan orang-orang yang ada di sana dengan perilaku suami ini.


"Apa yang anda lakukan, aku jadi malu," bisik Amy saat sudah berdiri di samping suaminya yang hanya sebatas ketek suaminya.


"Tidak ada yang akan marah, kau istriku dan hal itu wajar," sahut Alex, sambil berpamitan kepada semua orang tanpa terkecuali sang papa juga ibu tirinya.


Pria itu terpaksa melakukan demi nama baik perusahaan juga citranya sebagai putra dan pewaris dari perusahaan — Neda.

__ADS_1


"Tetap saja, Amy merasa malu," tukas gadis itu dengan suara lirih.


"Ayo!" Alex meraih sebelah tangan mungil istri, lantas menariknya menuju pintu ruangan.


"Kau menginginkan sesuatu, dear?" Alex bertanya sambil menghidupkan mesin mobil.


Tidak lama kemudian, mobil mewah itu pun bergerak meninggalkan area restoran mewah yang memiliki beberapa tingkatan bangunan.


Amy berpikir sejenak, dengan pertanyaan suaminya. Ia meletakkan jari telunjuknya di pelipis sambil berpikir.


"Bolehkah, Amy ke minimarket?" Tanya gadis itu dengan suara pelan.


Alex yang sedang menyetir, menoleh dan tersenyum sambil mengangguk kepala.


"Hum, kau ingin membutuhkan sesuatu?" Alex pun bertanya sambil menghadap kembali ke depan.


"Amy, membutuhkan membalut dan juga beberapa cemilan," sahut gadis itu dengan raut riang.


"P-pembalut?! Pria itu membeo, mengulangi ucapan istrinya mengenai tentang membalut.


Alex merasa aneh mendengar kata pembalut yang diucapkan istrinya. Sebagai pria yang terlihat awam mengenai pembalut, Alex hanya bisa menahan rasa penasarannya.


Mungkin ia akan membutuhkan jawaban dari salah satu aplikasi pencarian artikel mengenai pembalut.


Keduanya kini tiba di depan sebuah minimarket terkenal di Indonesia dan memiliki cabang di berbagai daerah dan pelosok desa di seluruh Indonesia.


Alex mendekat susan troli dan mendorongnya, sambil sebelah tangannya menggenggam telapak tangan mungil sang istri.

__ADS_1


Amy begitu bahagia berada di minimarket tersebut. Kedua mata bulatnya, sampai-sampai berbinar bahagia.


"Sangat mudah membahagiakannya, dengan membawa dia kemari sudah terlihat sebahagia ini." Alex berkata dalam hati, sambil mengikuti istri mungilnya yang sibuk memindai susunan cemilan.


Amy tampak memegang sebuah bungkusan cemilan kesukaannya, gadis itu melirik harga dan ia meletakkannya kembali saat melihat nominal harga yang tertera di bagian bawah susunan cemilan tersebut.


Gadis itu melupakan, kalau suaminya memiliki uang banyak hanya sekedar membeli beberapa cemilan.


Setelah meletakkan bungkusan cemilan itu di tempatnya semula, Amy kembali melangkah sambil memilih-milih.


Alex hanya tersenyum melihat tingkah lugu sang istri, ia lalu memasukkan cemilan yang diinginkan sang istri ke dalam troli belanja.


"Apa, dia pikir aku tidak mampu untuk membelikannya? Bahkan, ia menginginkan tempatnya pun aku masih sanggup membayarnya." Alex bergumam pelan sambil mengikuti sang istri.


Memasukkan sesuatu barang yang disentuh oleh istrinya, tanpa berpikir panjang. Hingga sebagian ruang troli tersebut dipenuhi berbagai cemilan.


Alex tertegun, saat berada di rak penyimpanan berbagai macam merk dan model sebuah pembalut yang dibutuhkan istrinya.


Pria itu meraih ponselnya dan melakukan pencarian di sebuah aplikasi. Seketika ia melotot tajam, saat mengetahui apa itu pembalut.


"Kau, sedang …." Alex tidak mampu melanjutkan ucapan, karena merasa canggung.


"Sedang apa" tanya Amy sambil membalikkan badan.


Dan gadis itu tidak kalah terkejut, saat melihat troli yang sudah dipenuhi sebagai oleh cemilan.


"Kau membutuhkan, i-itu," jawabnya cepat, melirik bungkus pembalut yang berwarna biru.

__ADS_1


"Oh ini? Belum, Amy hanya menyiapkannya sebelum datang bulan," sahut Amy dengan wajah bahagia, melihat troli belanja mereka dipenuhi sebagian cemilan.


"D-datang, bulan?" Alex mencicit, mendengar perkataan istrinya yang terdengar ambigu di telinganya.


__ADS_2