Suamiku pria dewasa

Suamiku pria dewasa
bab 34


__ADS_3

"Ingat, jangan buat kekacauan!" Sebelum berangkat ke kantor, Alex lebih dulu memberikan peringatan kepada Amy.


Gadis itu hanya bisa mengangguk kepalanya yang berdiri di depan pintu, layaknya pasangan normal yang mengantar sang suami untuk berangkat ke kantor. Namun bagi pasangan ini terlihat seperti seorang ayah tiri jahat yang memarahi anak sambungnya sendiri.


Sungguh pemandangan yang begitu membingungkan. Amy masih setia mendongak kepala untuk bisa melihat wajah suaminya.


Seperti pria itu katakan, setiap diajak bicara harus menatap wajah si lawan bicara.


Meskipun lehernya mulai pegal, Amy mencoba bertahan. Daripada suami t-rex nya mengaung, "ribet dah urusannya, bisa-bisa kuping Amy jadi sakit." Amy berkata dalam hati.


Dengan kepala masih terus mendongak ke atas. Suaminya itu begitu tinggi, sangat cocok dengan julukan t-rex. Tinggi Amy saja hanya sebatas di bawah ketiak si bule. Jadi sangat mudah bagi Alex meraup tubuh mungil istrinya itu.


"Aku pergi, kunci apartemen dan jangang membukakan pintu kepada seberang orang, apa kamu dengar," ujar Alex yang sekali lagi mengingat istrinya.


"Siap," sahut Amy jengah.


"Kapan si T-rex ini pergi sih, leher Amy sakit tau," gerutut gadis itu dalam hati.


"Aku pergi!" Pamit Alex sekali lagi, namun belum juga bergerak dari posisinya.


"Astaga, dari tadi perasaan pamit tapi kagak jadi-jadi," Amy lagi-lagi bersungut kesal.


Amy terkejut, saat melihat tangan suaminya tertuju ke depan wajah, Amy pun menjadi bingung dengan wajah mengkerut, memandangi tangan panjang suaminya itu. Dengan konyol Amy mengendus-endus tangan suaminya itu yang begitu wangi maskulin banget.


"Pletak," tiba-tiba keningnya dijitak oleh suaminya sendiri, Amy semakin kesal sambil mengusap keningnya.


"Salim!" Sentak Alex yang hanya bisa menghela nafas panjang, melihat wajah pelongo istri kecilnya ini.


Amy pun segera meraih telapak tangan suaminya, menyalami telapak tangan besar pria tinggi dihadapan dengan takzim.

__ADS_1


"Ingat tutup dan kunci pintunya!" Perintah Alex, sebelum benar-benar meninggal apartemen sambil melangkah panjang.


Amy pun segera menutup pintu apartemen tidak lupa menguncinya dari dalam, berjalan menuju ruangan tv. Amy merentangkan kedua tangannya yang begitu merasa merdeka saat suaminya sedang bekerja dan Amy akan menghabiskan waktu untuk menonton pun bermain game.


"Sungguh waktu yang begitu menyenangkan, merdeka!" Teriak Amy di akhir ucapannya.


_________


Neda kini sedang duduk di kursi sambil menunggu sahabat lamanya, wanita berusia 65 tahun namun masih terlihat lincah dan energik itu begitu tidak sabar menunggu.


Ia bahkan menengok kiri dan kanan, hingga akhirnya neda melihat seorang pria yang lebih tua darinya kini berjalan dengan langkah tergesa-gesa.


Sosok pria yang terlihat masih gagah di usianya sudah memasuki paruh baya, penampilannya pun tampak begitu rapi. Dengan kemeja kotak-kotak plus bawah celana kain. Rambut yang sudah memutih tampak mengkilat disisir rapi membuat pria itu tampak lebih fresh.


"Mina!" Seru pria itu saat melihat neda.


"Mahmud," sahut neda yang segera berdiri dan menyambut sahabat dekatnya itu.


"Ya, Allah. Apa kabar Mud." Neda mempersilahkan sahabatnya itu untuk duduk, menanyakan keadaan pria di depannya.


"Alhamdulillah, baik Min," sahut Abah. Yang Neda dan Abah adalah sahabat karib yang sangat akrab pada zamannya. Mereka masih menjalani persahabatan hingga masing-masing sudah memiliki anak. Namun semua berbeda saat suami Neda sudah meninggal dan terpaksa mengikuti putranya yang saat itu menetap di Inggris.


Tapi mereka masih saling berkomunikasi hingga mereka pun sepakat untuk melakukan perjodohan dengan cucu masing-masing. Meskipun saat itu cucu perempuan Abah baru lahir sedangkan cucu Neda sudah remaja.


Neda terus mendesak perjodohan itu, Abah sempat menolak karena cucunya baru lahir sedangkan cucu Neda sudah lulus kuliah dan sudah bekerja.


"Bukankah itu namanya rezeki nomplok Mud, cucumu baru lahir dah dapat calon suami dengan karir bagus," ujar neda saat itu. Namun Abah masih memikirkan semuanya.


"Masa aku rela jodohi cucu perempuan satu-satunya sama pria tua," pikir Abah setelah melihat foto Alex yang dikirimkan Neda saat itu.

__ADS_1


Karena kurang suka dengan rencana sahabatnya, Akhirnya Abah berhenti menghubungi Neda. Abah seakan menjaga jarak demi menghindari perjodohan yang tidak masuk akal.


Namun semuanya mungkin sudah takdir dari yang maha kuasa atau mungkin semua berkat doa tulus seseorang yang menginginkan pasangan yang berbeda usia itu perjodoh.


Neda kini memandangi Abah dengan senyum puas melihat wajah kesal sahabatnya.


Neda tidak akan mudah menyerah, ia akan melakukan apapun agar niat baiknya terwujud. Dan hasilnya … kedua cucu mereka berjodoh.


"Lihatlah, Mud. Cucu kita akhirnya berjodoh kan? Makanya jangan terlalu banyak berpikir dan menghina cucuku sebagai pria tua, nah kemakan sumpah kamu kan." Neda tertawa puas, ternyata tidak sia-sia dirinya melakukan rencana untuk bisa menjebak cucunya sendiri untuk menikahi cucu Abah.


"Pikiran licik kamu memang sampai sekarang tidak berbuah, Min. Malah semakin jadi, cih. Tobat Min, udah tua, udah bau tanah," seloroh Abah sambil menyeruput kopi hitam yang masih panas.


Neda hanya mencebikkan bibirnya, dan ia seakan cuek tidak peduli.


"Aku hanya melakukan rencana mulia Mud. Demi kebaikan cucu-cucu kita. Namanya sudah jodoh mau di apain lagi, kita kan cuma melakukan rencana yang terbaik, dan Allah memberikan restu hingga mereka jadi pasangan suami-istri." Neda begitu gembira, tidak hentinya wanita itu tertawa, menertawakan wajah jengah Abah.


"Aku hanya memikirkan nasib cucuku, Min. Dia masih sangat muda dan masih butuh proses bimbingan agar bisa jadi manusia jelas juga berilmu. Kalau begitu bagaimana nasib cucu, Min. Siapa yang akan membimbingnya ke surga." Abah mengeluarkan semua keluhan kepada neda.


Abah hanya memikirkan nasib cucu perempuan satu-satunya itu, apakah ia akan bisa menjadi wanita sukses di kemudian hari dan akhirnya juga terjamin.


Tapi melihat sosok Alex di kantor polisi Abah semakin ragu cucunya akan memiliki akhlak baik, wong Alex-nya saja cuek dan terlihat minim agama. Status sunnat pun Abah masih ragu.


"Cucu kamu udah di sunat kan, ya?" Tanya Abah, membuat Neda mengernyit heran.


"Sunat lah, dia kan Muslim jadi mesti di sunat." Sahut Neda.


"Syukurlah,. Tak kirain di berbeda denganmu," sela Abah, menatap dalan wajah sahabatnya itu.


"Dia sudah bersamaku sejak masih sangat kecil dan daddynya juga selalu mengajarkan tentang norma ajaran keyakinan kita," ujar neda. Membuat Abah menghela nafas lega.

__ADS_1


Abah menganggukan kepala dengan nafas lega. Setidaknya Alex bisa mengajari cucunya itu banyak hal. Tentang perbedaan usia tidak menjamin garis jodoh seseorang, mungkin sudah takdir yang kuasa, Abah harus memiliki cucu menantu yang seumuran dengan menantunya.


"Tenanglah, Alex anak yang bertanggung jawab. Kami sudah mengajari nya banyak dan dia pasti bisa mengajari cucumu banyak hal. Tentang cara membuat cicit buat kita misalnya," celetuk Neda dan wanita itu pun tertawa lepas, apalagi melihat wajah Abah yang seakan muak dengan tingkah Neda yang tidak pernah berubah, tingkah bar-barnya masih terlihat jelas.


__ADS_2