
"Sebaiknya, hari ini kau tidak perlu masuk sekolah! Suhu tubuhmu masih panas." Alex kini memeriksa suhu tubuh Amy yang sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
Alex begitu terkejut pas terbangun dan sudah melihat istri mungilnya sudah rapi.
"Hari ini Amy harus ikut ujian," sahut gadis itu dengan kedua matanya tampak begitu sayu.
"Tapi kau masih terlihat lemas, baby," ucap Alex menarik tubuh mungil istrinya dan memeluk erat.
Amy pun hanya bisa pasrah dan terus memohon untuk diizinkan ke sekolah hari ini. Sudah dua hari dirinya izin kembali. Padahal baru saja ia masuk ke sekolah.
Alex pun menarik nafas dalam-dalam dan membuang perlahan, pria itu tidak memiliki pilihan lain, selain mengiyakan keinginan istrinya.
"Baiklah, tapi ingat, kau tidak boleh terlalu lelah. Hubungi aku saat waktunya untuk pulang sekolah, oke!" Pinta Alex, merapikan rambut Amy yang masih terasa basah.
Gadis itu mengangguk dengan kedua matanya berbinar senang. Amy melangkah menuju ruangan ganti setelah melihat suaminya masuk ke kamar mandi.
Amy memilih setelan kerja untuk suaminya itu. Gadis itu memilih setelah santai dan modis untuk suaminya harus ini.
Setelah selesai menyiapkan suaminya pakaian, Amy berjalan menuju arah pintu. Gadis itu berjalan menuju dapur, membuat kopi hitam dengan menggunakan gula khusus.
__ADS_1
Amy duduk di meja makan dengan penampilannya tampak begitu rapi. Menunggu suaminya yang belum juga keluar dari kamar. Jam semakin menunjukkan angka 7 pagi, meskipun memiliki waktu beberapa menit lagi, tapi Amy begitu gelisah.
"Lama amat sih," gerutu gadis itu sejak tadi melirik kamar yang ada di lantai dua.
Susu yang ia buat sendiri sudah habis juga beberapa potong roti bakar.
"Ya Allah, kalau gini, bisa-bisa Amy telat," monolog gadis itu begitu gelisah.
Amy memalingkan wajah, saat mendengar suara suaminya yang sedang menuruni anak tangga sambil berbicara melalui ponsel.
Dari sudut pandang si Amy, suaminya itu begitu terlihat bahagia berbicara dengan lawannya di seberang sana.
Alex duduk di depan Amy, tanpa mengetahui wajah penasaran istri mungilnya.
"Cewek? Suara cewek kok. Tapi … kenapa mereka harus bicara menggunakan bahasa Inggris, seharusnya pakai bahasa sini. Jadi Amy bisa mengerti." Tandas gadis itu dengan wajah cemberut, terus menatap suaminya.
Sementara Alex begitu menikmati berbicara dengan sang kekasih dengan nada lembut dan saling melepas rindu. Alex bahkan tanpa menyadari keberadaan sang istri dan mengabaikannya.
Pria itu begitu mendalami berbicara dengan kekasihnya, tanpa memperdulikan wajah Amy yang terlihat gelisah.
__ADS_1
Alex berbicara seolah-olah sedang kasmaran di depan Amy, sungguh beruntung Alex mendapat gadis lugu seperti Amy, yang minim tentang dunia kasmaran.
Amy bahkan, mengira suaminya kepanasan saat menyeruput kopi, saat melihat wajah merah Alex yang nyatanya sedang kasmaran mendengar kata-kata cinta kekasihnya.
Amy juga begitu kebingungan, Alex terkekeh dan juga mengecup ponselnya.
"Aneh, kepada si bule tiba-tiba jadi kagak waras gini? Apa jangan-jangan, kesambet kali, yah?" Amy berkata dalam hati.
Amy kembali menatap jam yang ada di ponselnya. Amy pun terkejut melihat jarum jam hampir menunjukkan waktu masuk sekolah.
"Astaghfirullah, bagaimana nih. Masa gue harus nunggu ampe ambeien di sini? Mana … bapak Mr, lagi asik telponan lagi," gumam Amy.
Gadis itu bangkit perlahan, menatap suaminya yang begitu serius berteleponan.
Gadis itu berjalan hati-hati menuju pintu apartemen, ia berniat untuk berangkat sendiri. Amy berniat ingin pesan ojek online saja, saat tiba di lobby apartemen.
Setelah keluar dari apartemen, tanpa sepengetahuan Alex yang mungkin belum menyadari istri mungilnya sudah kabur terlebih dahulu.
Amy kini berada di lift sendiri. Ia bagian gelisah, takut tidak memiliki waktu bisa ikut ujian akhir di sekolah pagi ini.
__ADS_1