
Tidak lama kemudian Alex tiba di dekat halte, di mana ia menyuruh istrinya itu menunggu di sana.
Alex segera turun tanpa menggunakan payung, pria itu melewati air hujan begini saja dengan wajah panik.
Namun wajah tampannya semakin panik, saat tidak menemukan istrinya di sana.
Alex kebingungan dan panik tentunya. Ia bergerak menuju sekolah. Tapi nihil, gerbang sekolah pun sudah digembok dan tidak ada tanda-tanda seseorang di dalam sana.
Alex panik dengan tubuh yang sudah basah. Pria itu ketakutan. Mencari Istrinya ke sana kemari dengan wajah khawatir.
"Ke mana dia?" Tanyanya pada diri sendiri, mengusap wajahnya yang basah agar bisa menjangkau kedua penglihatan ke depan, berharap istrinya berteduh di salah satu rumah warga sekitar.
Tapi lagi-lagi nihil, Alex tidak menemukan keberadaan istrinya dimanapun, membuat pria tinggi itu semakin panik.
Alex lama berdiri di pinggir jalan, sambil memikirkan ke mana istri kecilnya itu pergi.
Wajah Alex pun terlihat memiliki satu harapan, mengingat tempat tinggal istrinya itu.
"Aku harus melihatnya kesana terlebih dahulu." Alex lama berdiri di sana, menimang niatnya yang sedikit ada keraguan. Bagaimana kalau Amy sedang tidak ada disana? Lalu apa yang harus Alex katakan kepada keluarga, istrinya?
"Sial!" Alex hanya bisa mengumpat kasar sambil mengarahkan tendangan kaki panjangnya ke udara.
Alex berjalan menuju mobil, saat baru saja memasuki mobil mewahnya itu. Terdengar ponselnya berdering. Alex hanya melirik dan mengabaikan saat melihat nama si pemanggil.
"Ck," Alex hanya terdengar berdecak lidah sambil membuka pakaiannya yang basah. Ia meraih tas pakaian ganti yang tersedia di belakang kursi penumpang.
Alex ingin membanting ponsel milik saat seseorang yang sangat ia hindari terus menelponnya.
Muak mendengar suara ponselnya terus berbunyi, Alex meraihnya dan berniat untuk menonaktifkan saja ponselnya itu.
Akan tetapi sebuah pesan singkat masuk dan Alex tidak sengaja membukanya.
Seketika ia membulatkan kedua matanya dengan raut wajah marah, saat membaca pesan tersebut. Alex segera melajukan kembali mobilnya di tengah-tengah hujan deras setelah mengenakan pakaiannya.
Alex melaju dengan kecepatan tinggi, ingin segera mendatangi kediaman yang sangat ia benci itu.
__ADS_1
Dengan nafas memburu, Alex terus melaju kencang. Pria itu tidak mengerti, kenapa bisa istrinya berada ditangan seorang yang begitu ia benci selama ini.
Tidak butuh waktu lama, mobil Alex sudah tiba di sebuah gerbang tinggi. Alex tidak perlu menunggu lama pintu gerbang di depannya terbuka, karena sejak tadi sang penjaga sudah menunggunya.
Alex memarkirkan mobilnya tepat, di depan rumah mewah dan bergaya Eropa klasik.
Alex turun dengan langkah panjangnya memasuki rumah, tanpa menunggu seseorang membuka pintu untuknya, pria itu masuk dengan raut wajah marah.
Pria rupawan itu terus melangkah lebih ke dalam mencari keberadaan istrinya. Hingga ia berhenti, saat melihat seorang pria paruh baya duduk di sofa dengan menatap ke arahnya.
Alex mengabaikan pria yang merupakan ayah kandungnya itu. Dan lebih memilih menyusul sang istri yang mungkin ada di salah satu kamar.
"William!" Seru pria paruh baya yang berusia 60 tahun dengan intonasi suara berat dan tegasnya.
Alex menghentikan langkah dengan dada semakin berguncang hebat, sungguh ia begitu benci harus melihat pria yang berada di belakangnya ini.
"Duduklah!" Perintah sang ayah dengan nada tegas.
Alex pun tidak memiliki pilihan lain selain kembali membalikkan badan lalu berjalan mendekati pria yang masih terlihat bugar.
Tuan Mahesa, hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, melihat raut wajah putra pertamanya yang begitu keras kepala.
"Bagaimana kabarmu, nak?" Pria berambut cepak yang sudah dipenuhi uban itu bertanya kepada putranya. Sudah beberapa tahun mereka tidak bertemu dan bertegur sapa.
Nyatanya Alex yang selalu menghindari ayahnya, karena rasa benci yang ia simpan begitu rapi di dalam hati.
Bukan hal mudah untuk Alex jalani hidup sebagai anak broken home. Apalagi ia tidak pernah mendapat kasih sayang sepenuhnya dari sang ayah yang sibuk dengan perkejaan juga selingkuhnya.
Hingga ia pun memilih untuk tinggal bersama sang Neda, tanpa merasakan kasih sayang kedua orang tuanya kembali yang lebih memilih berpisah. Hanya materi yang mereka berikan kepadanya tanpa ingin tahu keadaan yang ia alami selama tinggal bersama Neda.
Sungguh Alex begitu membenci sosok ayah yang menjadi teladan sebagai seorang anak. Namun baginya ayahnya hanya lah, seorang pengecut dan brengsek.
Alex diam, tanpa berkeinginan untuk membalas ucapan ayahnya yang terlihat kerutan kerinduan.
Lagi-lagi tuan Mahesa hanya bisa menghela nafas panjang dan kembali berkata kepada putranya itu.
__ADS_1
"Kau tidak mengabari tentang pernikahan mu, nak," ujar tuan Mahesa yang selalu ingin mendekatkan diri kembali kepada Alex.
Pria di depan terdengar berdecak kesal. Ia hanya tersenyum sinis dengan tatapan benci.
"Apa anda akan peduli, tuan Mahesa?" Sahut Alex dengan suara pelan yang diiringi kekehan pahit.
Pria paruh baya itu lagi-lagi hanya bisa menarik nafas panjang, melihat sikap putranya, membuat tuan Mahesa kesulitan untuk mendekatkan diri kembali.
"Setidaknya, berikan kabar kepada kami," ucap tuan Mahesa dengan pandangan begitu dalam kepada putranya ini.
"Aku tidak menginginkan anda dan aku berharap anda juga tidak mencampuri urusanku." Alex sudah begitu muak berada satu ruangan dengan ayahnya itu.
"Aku ayah kandungmu Alex, bagaimana kamu bisa berkata seperti itu!" Sentak tuan Mahesa yang begitu sulit untuk bisa akrab dengan Alex.
"Cih, tidak ada seorang ayah yang tega menyia-nyiakan putranya sendiri dan lebih memilih keluarga barunya." Ucap Alex dengan wajah yang begitu jengah.
"Alexander William Mahesa!" Ucap tuan Mahesa dengan suara tegasnya.
"Sudahlah, tidak ada gunanya berbicara dengan pria seperti anda," ucap Alex tegas. Kembali berdiri untuk mencari keberadaan istrinya.
"Kenapa kau harus menikahi gadis malang itu, kalau akhirnya akan terabaikan dengan sikap egoismu," sela tuan Mahesa, menghentikan lagi langkah Alex.
Alex kali ini terlihat semakin muak, ia pun membalikkan badan, menatap lamak ayah kandungnya dengan begitu benci.
"Aku tidak akan mengikuti sifat pengecut anda, tuan. Aku …."
"Bagaimana dengan wanita itu? Apa dia bisa menerimanya? Kau pasti tahu watak dari ibu kandungmu, nak." Tuan Mahesa berhasil membuat wajah Alex tertegun.
Pria yang masih bersetelan rapi, berdiri lantas mendekati putranya. Ia kini berdiri di samping Alex.
Sekali postur tubuh keduanya ada sedikit kemiripan dan juga garis wajah.
"Mommymu, pasti akan menolak hubungan kalian," ujar tuan Mahesa lagi.
Alex meletakkan kedua tangannya di kedua pinggang, ia menarik nafas dan melanjutkan langkah tanpa memperdulikan seruan ayahnya.
__ADS_1
Alex membuka salah satu pintu kamar, ia mengetahuinya dari salah satu pelayan. Pria itu kini melihat tubuh mungil istrinya terbaring di atas ranjang yang ditemani oleh seorang wanita yang sangat ia benci.