
Ketegangan juga terlihat di salah satu ruangan khusus di kantor polisi. Seorang pria asing yang tidak terima dengan protes para saksi. Pria itu juga mendapat pembelaan dari rekannya yang datang untuk membantu.
Jelas saja para saksi di sana menolak keputusan pria asing itu yang sudah meremehkan dan melanggar aturan di negara mereka. Apalagi ada sosok gadis remaja dengan status pelajar.
Sementara si gadis hanya bisa menangis di samping pria asing itu, gadis itu yang tertidur harus terpaksa bangun saat merasakan kepalanya terbentur meja.
Mungkin pria asing itu sengaja melakukannya agar urusan yang mulai membuatnya jengah segera terselesaikan.
"Aku tidak melakukan apapun kepada gadis ini!" Pria asing yang berkebangsaan Inggris, menjelaskan kejadian yang sebenarnya di dalam mobil mewahnya.
"Alah, tidak mungkin Mr tidak melakukan apa-apa terhadap gadis yang masih terlihat lugu, pasti Mr sudah melakukan hal kurang ajar. Apalagi kami mendengar gadis ini berteriak ketakutan." Seorang saksi berani membantah perkataan Alexander.
Membuat si pria bule semakin frustasi, sambil melirik sang gadis yang kini menyembunyikan tubuh mungilnya di belakang tubuh seorang pria yang menjadi saksi. Amy begitu takut dengan tatapan tajam pria asing itu.
"Kenapa, neng?" Tanya seorang pria kepada Amy yang mana kepala gadis itu terlihat menundukkan sambil melirik si bule.
"Bapak Mr, tampan yah om? Tapi sayang dia galak. Tuh liat, matanya melotot terus sama Amy," ujar gadis itu mengadu.
Pria yang diajak Amy berbicara pun melirik ke arah Alexander, dan benar saja pria itu melihat kepada gadis itu terus dengan kedua matanya merah dan tajam.
"Ngantuk kali dia, neng," sahut pria itu dengan ucapan berbisik.
Amy mengedip-ngedipkan kedua kelopak matanya, membuat bulu mata panjang dan lentik gadis itu terlihat begitu cantik. Kepala Amy pun sampai miring, guna menatap sang pria asing dengan lekat.
"Ngantuk kok, liat ke Amy terus, om. Mana melotot gitu," tandas gadis berwajah imut itu.
"Mata Mr lagi juling kali, neng," balas pria di depan Amy sekenanya. Membuat sang gadis semakin memperhatikan si bule yang dalam sudut pandangnya, kedua mata si bule normal dan tidak juling.
Amy yang sibuk dengan perkara mata si bule yang juling sambil berbisik-bisik dengan salah satu saksi, lain halnya dengan Alexander yang semakin bersitegang dengan para saksi dan kedua polisi di ruangan itu.
"Kami tidak setuju dengan keputusan anda pak!" Gertak seorang saksi yang kini terlihat murka, saat mendengar ucapan bawahan Alexander yang ingin melakukan kesepakatan dengan memberi beberapa jumlah uang kepada kedua polisi itu dan pria asing itu pun bebas dari interogasi para pihak kepolisian juga para saksi.
__ADS_1
Alexander dan bawahannya itu pun saling memandang. Terdengar Alexander menarik nafas panjang lalu menghembuskan dengan begitu kasar.
"Tapi saya benar-benar tidak melakukan apapun kepada gadis kecil itu, pak!" Alexander sekali lagi mengelak dari tuduhan dengan suara tertahan.
"Kami melihat dan mendengar sendiri, kalau gadis itu menangis dan berteriak. Apalagi posisi si gadis berada di atas anda." terang seorang saksi yang membalas perkataan Alexander dengan sengit.
"Tapi … bos saya tidak mengetahui kalau gadis mungil nan imut itu berada di mobil, bapak-bapak," timpal bawahan Alexander sambil menunjuk Amy.
Keadaan semakin tegang, Alexander dan bawahannya kini saling melempar argumen masing-masing, yang tidak ada titik temu untuk menyelesaikan masalah.
Apalagi para saksi begitu jengah dengan Alexander yang setiap berbicara terdengar ngegas. Padahal sudah ciri khas seorang pria asing berbicara bahwa Indonesia dengan intonasi nge-gas.
"Pokoknya, kami ingin kasus ini diselesaikan dengan hukum dan norma kita. Jangan sampai, ini menjadi contoh buruk kepada remaja juga orang lain." Pria yang lebih mendominasi keadaan di dalam ruangan itu, bersikukuh untuk menyelesaikan masalah mobil bergoyang dengan hukum yang berlaku di negara ini.
"Tapi gadis ini yang bersalah. Masuk kedalam mobil orang," sentak Alexander dengan mata nyalang.
Kembali para saksi mendelik horor ke arah Alexander, membuat bawahannya ketakutan, juga kedua polisi tersebut menjadi pusing.
"Alah, paling juga itu akal-akalan situ, sengaja pintu mobil tidak dikunci, supaya memancing seorang gadis masuk ke dalam mobil, iya kan?" tuduh pria yang duduk tepat di samping Alexander dengan wajah sinis.
"Kagak usah, liatin tuh gadis, kami semua sudah tahu watak Mr, yang seorang pedofil," terang saksi yang lain yang beranggapan si bule adalah pria mesum yang suka dengan anak gadis sekolah.
"Maaf, pak, kalau bisa bicara lah yang sopan. Selama saya menjadi bawahan, Mr Alex, kami tidak melihat perilaku beliau seperti yang anda katakan," timpal bawahan Alexander, yang sungguh menolak tubuh para saksi terhadap atasannya itu.
Kedua polisi itu hanya mengangguk, mendengar perdebatan kedua kubu di depannya itu. Begitu juga dengan Amy, yang hanya bisa melongo mendengar pembahasan orang-orang di dekatnya yang satupun tidak ia mengerti. Satu hal yang sekarang ia ingin yaitu, "bapak polisi, apa anda punya makan? Amy lapar," sentak gadis itu di tengah keadaan sedang bersitegang dan si gadis imut itu menyela dengan meminta makanan.
Berhasil membuat semua orang yang ada di sana menatapnya dengan wajah melongo dengan mulut mereka yang menganga.
Bersamaan perut gadis itu berbunyi di suasana senyap sesaat, kini mata para pria di ruangan itu tertuju di perut Amy.
"Kan … bapak polisi dengar sendiri perut Amy berbunyi," sambung gadis mungil itu dengan wajah yang terlihat begitu semakin imut sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
_______
"Ya Allah, kasian amat ya' anak orang, kelaparan gitu, mana orang tuanya belum datang lagi," ucap salah satu saksi yang merasa kasihan kepada Amy yang begitu lahap menikmati sebungkus nasi goreng yah di belikan oleh pak Iqbal, pak polisi muda.
Kembali interogasi di hentikan sambil menunggu Amy menikmati nasi goreng di meja kerja yang kosong. Sedangkan Alexander dan bawah sedang melakukan pembicaraan penting. Pria asing itu begitu frustasi dengan kejadian hari ini. Ia begitu membenci sosok gadis imut di sudut sana yang wajahnya terlihat biasa saja.
"Lapar amat, neng!" Tegur pak Iqbal, saat mendekati meja kerjanya yang dipakai Amy.
Gadis berwajah bulat itu, mengangkat kepalanya yang sedang menunduk dan menatap wajah masih pak Iqbal.
"Hu'um, dari tadi siang, Amy belum makan, om," sahut gadis itu yang kembali melanjutkan makannya.
"Padahal, kalau di rumah, Amy sudah makan yang keempat kalinya om," sambung gadis itu dengan mulut terisi makanan.
"Tapi kenapa kamu kelihatan mungil," timpal pak Iqbal, memperhatikan postur gadis di hadapannya itu. Yang dalam pandangannya begitu mungil dan imut.
"Tidak tahu, padahal emak yang nyuruh Amy makan terus, katanya agar badan Amy tumbuh keatas, bukan ke samping," seloroh Amy, membuat pak Iqbal terkekeh.
"Itu mah, iklan susu atuh neng," sahut pak Iqbal yang masih tersenyum dan meninggalkan Amy yang masih begitu menikmati makanannya.
🌹🌹🌹🌹🌹
"Neng, apa benar? Eneng yang lebih dulu masuk kedalam mobil Mr?" Kini kasus pun kembali dibuka dan kali ini giliran Amy yang mendapat pertanyaan dari kedua polisi di depannya juga Keenam para saksi.
Gadis berkelopak mata bulat itu, memandangi wajah semua pria di dalam sana dengan wajah mengkerut dan alis terangkat.
"Jawab!" Bentak Alexander yang begitu geram saat melihat Amy hanya terdiam, membuatnya semakin emosi.
"Astaghfirullah, bapak Mr!" Pekik gadis itu terkejut sambil mengelus dada. Begitu juga yang lain, di saat serius menunggu jawaban Amy, tiba-tiba Alexander berkata dengan suara bentakan.
"Hey … Mr, ngomongnya kudu ati-ati. Kagak usah teriak. Bicara biasa aja ngegas terus, buat kita esmosi. apalagi teriak bisa-bisa ngajak tawuran." Seorang saksi berkomentar atas sikap Alexander.
__ADS_1
Sedangkan pria bule itu hanya bisa mendegus kasar sambil menarik rambutnya. Penampilan pria gagah itu begitu berantakan, namun bukannya mukanya ikut kusut, ini malah terlihat semakin tampan dan figur hot daddy-nya lebih kelihatan.
"Di jawab neng, pertanyaan kami!" Pinta pak Bambang, polisi yang berusia setengah abad dengan wajah santun dan ucapan lembut. Pria itu tahu menghadapi gadis remaja potongan Amy, bar-bar tapi rada oon.