
"Alexander William Mahesa!" Pekik seorang wanita paruh baya, melihat sosok pria yang begitu ia sayangi juga rindukan sedang berlaku kasar kepada seorang gadis bertubuh mungil.
"Astaghfirullah, ya Allah!" Pekiknya lagi melihat kondisi wajah gadis yang terduduk di atas lantai.
Wanita itu berjalan tertatih mendekati si gadis yang menangis sesenggukan di sana, wajah wanita yang berwajah bersahaja itu begitu terkejut, melihat cucu satu-satunya memperlakukan seorang gadis kecil dengan tidak berprikemanusiaan.
"Minggir!" Sentak wanita itu, menyingkirkan badan tinggi Alex ke samping dan berjalan menuju Amy.
"Ya Allah, nak. Kamu tidak apa-apa?" Tanya ramah, memeluk tubuh bergetar gadis itu sambil menatap tajam cucunya.
Amy terdiam dengan tubuh yang masih bergetar hebat juga wajah yang sangat pucat.
Wanita paruh baya itu terus memeluk tubuh mungil Amy, beliau yang baru tiba dari kota lain untuk menjenguk cucunya yang tinggal di Jakarta. Namun baru melangkah memasuki apartment Alex, yang kebetulan tidak terkunci, wanita yang berpenampilan anggun itu begitu terkejut, mendengar suara teriakan dan disusul suara hempasan benda pecah beling. Dan saat melangkah tergesa-gesa, ia juga mendengar jeritan pun tangisan seorang wanita.
Namun saat ingin berjalan menaiki tangga, ia menghentikan langkah, saat mendengar suara tangisan yang berasal dari bawah.
Wanita itu melihat jelas, bagaimana cucunya itu menarik kasar sosok gadis remaja dengan tubuh mungil itu ke arah kamar lain.
Sungguh wanita itu begitu terkejut melihat perilaku cucunya yang sangat tidak terpuji.
"Mamang Ajis, mbok Nuri!" Teriak wanita berwajah penyayang itu, memanggil supir juga pelayan setianya.
Tidak lama muncul dua orang memasuki kamar dengan wajah panik.
"Iya Bu," sahut mamang Ajis yang terkejut melihat gadis mungil di pelukan majikannya itu.
"Bantuin ibu angkat gadis ini ke ranjang!" Perintahnya dengan nada bergetar dengan wajah cemas.
"Kenapa kamu diam saja, hah! Bantu neda, dasar cucu semprul!" Gertak wanita tua yang biasa di panggil neda, singkatan dari, nenek muda.
Sang neda juga kedua pelayannya pun berusaha membantu Amy, sedangkan Alex tampak enggan bergerak dari posisinya.
Meskipun kini ancaman datang kepadanya, mengetahui kedatangan sang neda yang tiba-tiba.
"Sial!" Batin Alex dalam hati.
"Dasar cucu bule pemalas! Di suruh bantuin, malah bengong," sang neda lagi-lagi menegur sang cucu.
Dengan malas, Alex mendekat, tapi … baru saja selangkah ia berjalan, teriakkan Amy menggema di kamar itu. Membuat semua orang menjadi terkejut dan tidak lama kemudian, Amy pun jatuh pingsan.
"Ya Allah, nyah, sepertinya dia pingsan," ujar sang bibi, pelayan setia neda.
"Astaghfirullah, Alek! Apa yang kamu lakukan kepada anak orang!" Pekik sang neda, menyuruh cucunya itu untuk mengangkat tubuh Amy ke atas ranjang.
Alexander pun begitu terkejut, melihat wajah ketakutan Amy juga teriakan histeris gadis itu.
"Panggil, dokter Ririn, Jus!" Pinta neda kepada sang sopir.
Neda dan pelayanannya kini mencoba membantu Amy untuk sadar, kedua wanita itu begitu panik, hingga berulang kali memeriksa denyut nadi, Amy.
Neda kini menatap tajam cucunya itu, membuat si Alex hanya bisa menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Ikut neda!" Titahnya yang tidak terbantahkan.
Berjalan ke luar kamar dan di susul sang pria tinggi menjulang di belakangnya.
🌹🌹🌹🌹
"Plak." Tamparan kini menyentuh kulit wajah Alex yang di tumbuhi rambut-rambut halus, tamparan yang cukup keras membuka wajah tegas berpaling ke samping. Sungguh tenaga wanita berusia 65 tahun itu masih terlihat kuat.
Pantas Alex begitu gugup saat mendapat tatapan tajam dari sang nenek, ternyata wanita tersebut begitu bengis.
"Katakan, dia siapa?" Sentak neda dengan wajah garang, mampu membuat wajah Alex menciut.
"Katakan! Neda tidak menyuruhmu bengong, dasar cucu bule bego!" Ucap wanita itu sambil menoyor kening cucunya.
Alexander hanya mengusap pipinya yang terasa begitu kebas, sungguh neda-nya ini begitu menakutkan.
"Ya Allah, ya Robbi," gerang neda saat Alex masih diam dengan wajah yang begitu cuek.
Sebelum mengatakan semuanya kepada neda, Alex menarik nafas terlebih dahulu. Percuma juga ia mengelak dari sang neda, kalau pada akhirnya akan ketahuan juga.
Bagaimana tidak, Alex sangat mengenal sifat neda yang tegas juga begitu penasaran. Untung Alex begitu menyayangi wanita di depannya ini. Sosok wanita yang merawatnya sewaktu kecil, dimana saat itu ia masih membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya, namun ia harus menelan kekecewaan, saat kedua orang tuanya harus terpisah. Akhirnya Alex menjadi korban dari keegoisan kedua orang tuanya itu, hidup terabaikan.
Beruntung ia masih memiliki sosok neda yang segera menjemputnya di negara sang mommy, Alex di bawa dan tumbuh di Indonesia, namun saat memasuki sekolah menengah atas, sang mommy datang menjemput dan pada akhirnya Alex hidup di negara asal sang mommy.
Ia baru kembali lagi satu tahun lalu, itu pun karena ia begitu menyayangi sang neda, apalagi wanita kesayangannya ini sudah memasuki usia rentang.
Bukan itu saja, Alex juga ingin mengambil alih perusahaan milik neda yang diambil alih oleh sang daddy. Alex tidak ingin milik neda-nya di nikmati oleh istri kedua daddynya juga anak tiri.
Alex terdiam, entah mengapa ia bisa melakukan kekasaran. Padahal dirinya sangat membenci seorang yang melakukan kekerasan.
Alexander merebahkan tubuh tingginya di atas pangkuan sang neda. Ia memejamkan kedua mata, merasakan usapan hangat dari telapak tangan neda yang mulai dihiasi keriput halus.
"Entahlah, neda. Alex juga tidak mengerti kenapa Alex melakukan ini semua. Mungkin ini karena Alex terlalu stres memikirkan pekerjaan juga keinginan mommy," jelas Alex dengan suara pelan.
Alexander menatap langit-langit yang ada di kamarnya, ia memikirkan keluhan juga tuntutan sang mommy, yang ingin selalu menyuruhnya untuk menikah. Padahal ia belum siap, perpisahan kedua orang tuanya, membuat sebuah luka menganga di dalam hati juga kehidupannya, hingga menjadi bayangan untuk masa depannya.
Alex masih takut untuk melakukan sebuah pernikahan yang pada akhirnya ia akan melakukan kesalahan.
"Apa wanita itu menyuruhmu menikah lagi? Dan bersama dengan si rambut kuning?" Cerca neda dengan wajah jengah, menilai kekasih dari cucunya itu.
"Namanya Natalie, neda dan rambutnya memang seperti itu," Alex menjelaskan kepada neda-nya kalau fisik kekasihnya memang seperti itu.
"Tetap saja neda tidak menyukainya, lebih baik kamu mencari jodoh di sini saja, agar kamu terus bersama neda!" Pinta wanita yang rambutnya sudah memutih.
"Tidak neda, Alex sangat mencintai Natalie," sahut Alex, menolak keinginan neda.
"Alexander akan membujuknya untuk menetap di Indonesia," kali ini Alex membujuk sang neda.
Alex kini duduk dan menghadap neda-nya itu, di mana wajah wanita paruh baya terlihat kesal.
"Neda tetap tidak setuju! Kamu harus menikah dengan cucu sahabat neda, kalau tidak, semua harta milik kakekmu, neda berikan kepada saudara tirimu itu." Neda lagi-lagi mengeluarkan perkataan ancamnya.
__ADS_1
Mendengar itu, Alex hanya bisa menghela nafas panjang, sudah bosan dirinya mendengar ancaman sang neda.
"Neda sudah melakukan perjanjian dengan sahabat lama neda dan hari ini kami ingin membicarakan soal perjodohan," sela neda, sukses membuat Alex menganga tidak percaya.
"A-apa maksud neda? Kalau neda melakukannya, terus nasib gadis itu bagaimana?" Alexander merebahkan punggungnya di sandaran ranjang, menghempaskan nafas frustasi.
Neda sendiri kini menatap cucunya dengan lekat, "apa maksud kamu?" Tanya neda penasaran, ia bahkan menarik telinga cucunya untuk lebih serius.
"Gadis yang di kamar sana adalah istriku." Ucap Alex akhirnya jujur kepada sang neda.
Sang neda, hanya bisa memperlihatkan wajah terkejut, mendengar penuturan cucunya ini.
"Menikah? Dengan gadis mungil di dalam sana?" Tanyanya dengan wajah yang begitu tidak percaya.
Alexander hanya bisa mengangguk lemah, sedang neda terlihat meradang.
"Bocah nakal! Di mana pikiran kamu Alek …! Dia itu masih bocah ingusan dan kamu bilang dia istri kamu, dia pantas menjadi cicit neda, dasar bule mesum. Kamu apakan anak perawan orang, Alek!" Neda sungguh tidak percaya, cucu satu-satunya melakukan kesalahan besar dengan memperkosa seorang anak gadis seseorang.
Alex pun bingung harus menjelaskan kepada sang neda, apalagi melihat raut wajah kecewa sosok kesayangannya ini.
"Alex terpaksa neda, karena ini semua kesalahpahaman. Ini juga salah gadis itu yang masuk tanpa izin ke dalam mobil Alex, hingga kami bertengkar membuat mobil bergoyang dan para pengendara lain menjadi salah paham." Alex pun menjelaskan kronologis kejadian atas pernikahan mendadak itu.
Neda begitu terkejut, mendengar cerita cucunya itu. Namun bagaimanapun ia tidak terima sikap cucunya yang tidak mengabarinya.
"Kenapa kamu tidak mengabari neda!" Ujar sang neda dan lagi-lagi menarik telinga cucunya itu.
"Aku pikir itu tidak penting, karena pernikahan juga dilakukan kemarin malam," terang Alex, membuat neda kembali terkejut.
"Kemarin malam!" Pekik neda syok.
Alex hanya bisa menganggukkan kepala, mengiyakan pekikan neda-nya itu.
"Iya, kami menikah di kantor polisi," sahut Alex lagi.
"Astaghfirullah, ya Allah!" Ucap neda tidak hentinya beristighfar, atas apa yang cucunya lakukan.
🌹🌹🌹🌹
Alex dan neda kini berdiri di depan ranjang yang ada di kamar pria tinggi itu.
Alex terpaksa membawa Amy ke dalam kamarnya, itupun di paksa oleh neda dengan ancaman tentang warisan.
Pria itu pun kini menatap jengah kepada istri kecilnya yang wajahnya begitu pucat.
Ada terbesit penyesalan dalam hati, melihat wajah Amy yang tampak tertekan.
Neda duduk di sebelah Amy, menatap lekat wajah gadis mungil di hadapannya, bergantian dengan sang cucu yang begini enggan mendekati — Amy
"Kemarilah, bodoh," sentak neda geram melihat reaksi juga simpati cucunya yang begitu minim.
Alex pun duduk di sebelah sisi lain tubuh Amy, menetap lebih lekat wajah tanpa makeup istri kecilnya ini.
__ADS_1