
Seperti sebelum-sebelumnya, Amy akan bangun pagi untuk melakukan pekerjaan rumah layaknya seorang istri yang sebenarnya, 'meskipun ya … emang dia istri sebenarnya, masa istri boongan' siapa lagi coba yang memberikan Amy perintah kalau bukan suami bule-nya. Alex memberikan jadwal kegiatan pagi untuk istrinya itu, pria itu ingin mendidik sang istri agar lebih dewasa dan mandiri. Juga lebih disiplin pun bertanggung jawab.
Seperti yang terlihat sekarang ini, Amy membersihkan ruangan tv menggunakan mesin penyedot debu. Meskipun ada bibi Sum. Alex tetap memberikan istrinya itu perintah bagian pembersihan.
Sedangkan bibi Sum, menyiapkan sarapan pagi untuk para majikan. Neda sendiri sedang berada di balkon menyirami tanaman estetik kesukaannya. Wanita paruh baya itu begitu terlihat antusias menyirami tanaman kesayangannya itu.
Sementara Alex, masih berlabuh di alam mimpi. Semalam suntuk pria itu tidak bisa tidur. Berhadapan langsung dengan tubuh istrinya yang sukses membangkitkan antenanya yang begitu on fire semalam. Hanya melihat wajah polos pun paha mulus istrinya, mampu memberikan koneksi sangat signifikan terhadap benda kebanggaannya.
Alex pun begitu tersiksa dengan wajah frustasi, telanjur basah menyuruh sang istri tidur di sofa. Seandainya Amy tidur di sampingnya, kemungkinan besar Alex bisa sedikit merasa kulit mulus istrinya itu.
🌹🌹🌹🌹
"Bapak Mr, bangun!" Di saat mimpi indahnya yang sedang menikmati belahan bibir sang istri, tiba-tiba ia merasakan sesuatu mengganggu, suara itu yang terdengar samar-samar dan jauh.
"Bapak Mr, tidak bekerja hari ini? Ini sudah jam 07.00 pagi," ucap gadis yang kini duduk di samping ranjang sambil mengguncang lengan kekar suaminya itu.
"Bapak Mr, bangun!" Sekali lagi Amy berusaha membangunkan suami bulenya itu.
Gagal, sudah ketiga kalinya Amy mencoba untuk membangun suaminya yang tidak terusik sedikitpun.
"Masya Allah, ini bule tidur apa apa ya' susah bener, banguninnya," gumam gadis itu dengan bibir mencebik kesal.
"Amy kan, jadi serba salah kalau gini, kagak di bangunin nanti nyalahin Amy, di bangunin kagak bangun-bangun. Terus Amy kudu apa?" Amy terus bersungut-sungut sambil memikirkan sesuatu untuk membangun suaminya ini.
__ADS_1
Karena nantinya dia juga yang akan mendapat omelan pedas dari sang suami. Kalau komelan mah, Amy udah biasa. Nah kalau suaminya mengomel plus kedua mata melotot hingga wajah bule itu merah darah, nah … itu yang buat si Amy ketakutan. Entahlah, mungkin dia sawan liat muka suaminya yang sedang murka malam itu.
Amy menggaruk kepala yang tidak gatal, bingung harus melakukan apa agar suaminya yang bertubuh tinggi besar ini bangun. Amy berdiri tepat di samping ranjang sambil berkacak pinggang. Wajah mengkerut memikirkan cara, bibir mungil yang tidak perawan lagi mengerucut lucu.
Amy pun memperhatikan wajah suaminya saat pria itu mengubah posisi menjadi telentang, hingga wajah tampan pria itu terekspos sempurna di kedua bola mata Amy yang sangat mengagumi sosok pria tampan, apalagi model suaminya ini.
"Masya Allah, cakep benar ya' suami akoh," seru Amy memuji ketampanan suaminya itu.
"Ya Allah, brewokan suami gue. Bikin dada Amy berdebar-debar," gumam Amy sambil mendudukkan bokong montoknya di sisi ranjang, tepat di dekat dada suaminya.
Amy menyingkirkan rambut yang menutupi kedua pipi ke belakang telinga saat menunduk wajah, agar lebih leluasa untuk menatap wajah tampan Alex — suaminya itu. Amy memajukan lebih dekat wajahnya hingga ia bisa merasakan nafas suaminya yang keluar dari hidung. Amy ingin mencari kekurangan dari wajah suami tampannya itu. Namun tidak ia dapati sedikitpun jerawat di wajah Alex, apalagi komedo. Ia mengintip kedua lubang hidung mancung suaminya, "bersih, tidak ada satupun upil nih bule. Heran akoh," gumam Amy. Kembali menatap wajah suaminya yang sekarang tatapannya tertuju ke arah bibir seksi Alex.
"Bukankah, ini yang mengambil keperawanan bibir Amy? Astaga, bibir nih pria merah amat ya' pantas rasanya begitu lembut dan manis," celetuk gadis itu yang tiba-tiba menjadi malu mengingat kejadian semalam.
Jarak wajah mereka begitu sangat dekat, hingga Amy begitu merasakan nafas hangat Alex. "ya Allah, Amy kagak yakin betah lama-lama dekat mah ini bule. bisa-bisa Amy khilaf nanti," ucap gadis itu lirih dan menjauhkan wajahnya dari atas wajah sang suami.
Alex bahkan menggigit kecil bibir yang sejak tadi mengomel dan menggodanya. Alex ******* begitu lihai kedua belahan bibir ranum istrinya itu bahkan kini lidahnya mulai mengabsen rongga mulut Amy.
Amy hanya bisa memejamkan mata, merasakan sesapan pun ******* suaminya yang begitu memabukkan.
Alex mengangkat tubuh mungil gadis kecilnya itu ke atas dada kekarnya. Memeluk erat pinggang ramping istrinya sambil terus menyesap bibir ranum kesukaannya.
Amy pun sedikit demi sedikit bisa mengendalikan diri dan bisa menikmati cumbuan suaminya ini.
__ADS_1
Suara cumbuan pria itu terdengar nyaring mengisi keheningan di dalam kamar luas tersebut.
Amy pun mulai bisa membalas ciuman suaminya yang sudah terbawa suasana. Meskipun masih begitu kaku, namun Alex berusaha mengimbangi gerakan bibir Amy yang kini menyesap bibir bawahnya.
"Kau mulai nakal, bunny," bisik Alex, melepaskan ciuman mereka. Sambil mengusap sela-sela bibir istrinya menggunakan jari jempol.
Amy menjadi malu dan ia meletakkan salah satu pipinya di atas dada kekar sang suami. "Ini sungguh nyaman dan hangat. Mana wangi lagi," ucap Amy dalam hati, menikmati berada di posisi sekarang.
"Apa kau menyukainya, hum?" Alex kembali berbisik sambil mengeratkan pelukannya. Pria itu juga mengecup puncak kepala istrinya.
Tanpa sadar Amy mengangguk mengiyakan pertanyaan Alex. Pria bule itu terkekeh, merasakan angkukan istrinya. Amy segera mengangkat kepala dan sekali lagi Alex mengambil kesempatan untuk mengecup bibir istrinya yang tampak bengkak.
"Tidak, i-itu … a-anu …." Amy terlihat salah tingkah dan mencoba mengelak dari jawabannya tadi.
"Anu apa hum? Katakan saja, kalau kau begitu menikmati bibir ini," sela Alex, membawa jari telunjuk Amy ke bibir bawahnya.
Amy pun terbawa suasana ia kini mengusap bibir Alex dengan wajah terpesona. "Akh!" Pekiknya saat Alex menggigit jari telunjuknya itu.
"Dasar bule sinting," gerutut Amy yang berusaha untuk menjauh dari atas tubuh Alex. Tapi sepertinya, pria itu begitu nyaman dengan tubuh mungil sintal Amy.
"Bapak Mr, lepas!" Pinta Amy yang terus bergerak untuk lepas dari genggaman kedua tangan kekar suaminya.
Alex hanya bisa mengerang tertahan, merasa gesekan tubuh Amy mampu membangkitkan sesuatu yang mulai terbangun di bawah sana.
__ADS_1
"Berhentilah, sweetie. Kau akan membangunnya dan itu akan membuatku tersiksa!" Ucap Alex penuh peringatan.
Ia tidak mungkin membuat sesuatu di pagi hari, apalagi saat ini ia sedang terburu-buru. Namun ia masih ingin memeluk istrinya.