
Amy dan kedua sahabatnya masih asyik mengobrol sambil menikmati pesanan mereka. Hari ini Amy dengan bangga mentraktir kedua sahabatnya itu. Amy membebaskan kedua sahabatnya untuk bebas memesan makanan apapun. Karena ia mendapat uang jajan dari suaminya cukup untuk memesan menu andalannya di cafe.
"Lu beruntung banget dapat suami banyak duitnya," celetuk putra sambil menikmati menu andalan di cafe tersebut.
Amy hanya tersenyum pongah, membanggakan diri kepada kedua sahabat baiknya.
"Tapi … lu kagak takut apa? Punya laki tuir," timpal Sasa sambil menatap wajah Amy yang terlihat biasa saja.
"Awalnya sih ia, tapi sejauh ini udah nggak kok. Dia ternyata sangat manis, cuma rada tensian," ucap Amy sambil berbisik.
Sasa dan putra menatap Amy dengan serius. Kedua pun tidak bisa membayangkan sahabat mereka yang mungil ini sudah menikah.
"Emang lakik lu orang mana sih?" Tanya putra penasaran, sejak tadi Amy tidak menjelaskan profil bentuk suaminya itu.
Amy yang sedang menyuapkan ayam penyet kesukaannya, kini melirik kedua sahabatnya ragu.
"Gue kasih tau aja kali ya, kalau laki gue bule," Amy berkata dengan bermonolog sambil memperhatikan wajah kedua sahabatnya yang begitu penasaran.
"Lah, si bogel malah bengong," Putra menoyor kening Amy, membuat gadis itu tersadar dari lamunannya
"Laki gue bukan asli sini," jawab Amy dengan suara lirih.
Putra dan Sasa bahkan harus memajukan wajah keduanya kedepan Amy, agar ucapan gadis itu terdengar.
"Laki gue bule," lanjutnya yang seketika membuat kedua sahabatnya itu membelalakkan mata.
"Bule!" Pekik Putra dan Sasa bersamaan, suara mereka pun terdengar nyaring. Membuat para pengunjung cafe menatap ke arah meja mereka heran.
"Berisik, kecilin suara lu pada, kagak malu apa kelihatan mah orang," sergah Amy yang begitu malu diperhatikan oleh pengunjung.
"Lu serius? Lakik lu bule?" Cerca Sasa antusias, ia bahkan berpindah duduk di samping Amy.
Amy pun sekali lagi menganggukkan kepala yakin, membuat kedua sahabatnya itu tercengang.
Sasa dan Putra saling pandang dengan wajah tidak percaya, kalau sahabat mereka yang paling kerdil di antara ketiganya memiliki suami bule.
"Lu, dapat di mana oneng?" Celetuk Putra.
"Di jalan," sahut Amy santai.
__ADS_1
Lagi-lagi membuat Sasa dan Putra tercengang, dalam pikiran keduanya kini berpikir hal-hal lain.
"Lu, ngejar ayah gula ya? Dan lu bayinya?" Tandas Sasa dengan kedua mata menyelidik ke arah Amy yang tampak kebingungan.
"Ayah gula? Bayi?" Sahut Amy dengan wajah lugu tidak memahami ucapan Sasa.
"Oneng, dia mah mana ngerti yang begituan. Lah … dia hanya jadi putri house terus," celetuk Putra, menampik kecurigaan Sasa. Karena besar kemungkinan itu semua adalah hoax.
"Dia kata dapat di jalan Put. Lu kira kang cinlok dapat di pinggir jalan," sahut Sasa yang merasa kesal.
Amy tampak kedap-kedip melihat perdebatan kedua sahabatnya ini. Wajah gadis itu bahkan tidak mengerti keadaan.
"Noh, liat, mukanya si oneng kelihatan oon kayak gitu dibilang miliara ayah gula," timpal Putra, menatap ke arah Amy yang begitu kebingungan.
"Kalian kepada sih?" Tanya gadis itu polos.
"Nah kan, oon-nya kambuh," celetuk Putra, melirik Amy dengan wajah mencibir.
Kembali ketiganya diam, dengan Amy yang mengingatkan momen saat di dalam mobil. Tiba-tiba wajah gadis itu merona merah dan tampak tersenyum-senyum sendiri.
Mimik wajah Amy tidak luput dari tatapan tajam kedua sahabatnya yang sejak tadi memperhatikan Amy.
"Singkong bule?" Cicit putra yang sejak tadi mendengar ucapan Sasa.
"Hum, laki dia kan, bule? Otomasi alat tempur dia kayak singkong. Entah singkongnya berkulit coklat, pink, hitam, cream," seloroh Sasa sekenanya.
"Lu kata singkong keju," sahut Putra muak.
Amy pun tidak memperdulikan kedua sahabatnya yang terdengar berdebat hal sesuatu.
Hingga tiba-tiba seruan para gadis-gadis yang ada di dalam cafe membuat ketiganya memalingkan wajah ke arah sumber suara keramaian.
Amy menengok ke arah depan sana, di mana para gadis-gadis sepertinya sedang mengerumuni artis.
"Ada apa dengan mereka?" Tanya Amy bingung, menoleh ke arah sahabatnya yang sudah menghilang.
"Kemana tuh anak dua?" Tanya Amy melihat ke arah lain dan ia pun melihat dua sahabatnya itu kini sedang mendekati kerumunan gadis-gadis
"Ada apa sih di depan sana?" Amy bertanya pada dirinya sendiri sambil terus celingukan ke depan.
__ADS_1
"Ada artis kali ya?" Tanya lagi lirih, lalu kembali menikmati makanan pesanannya sambil sesekali melirik ke arah depan.
Gadis itu pun menajamkan penglihatan saat melihat lima pria tampan berjalan di tengah-tengah cafe dengan diikuti teriakan histeris para gadis-gadis termaksud kedua sahabatnya.
"Kayaknya pernah liat?" Ujar Amy lirih.
Terus menatap kelima pria-pria tampan itu dengan pikiran mencoba mengingat dimana kira-kira ia bertemu dengan para pria ini.
Amy terus menatap salah satu di antara pria tampan, lantas ia pun mengingat saat berada di dalam lift.
"Pantas kayak kenal, mereka kan satu lift dengan Amy," ujar gadis itu dalam hati sambil terus menatap kelima pria tampan yang duduk tidak jauh dari kursi mereka.
"Ya Allah, mereka ternyata sangat tampan!" Seru Putra tiba-tiba sambil menatap ponselnya dan kembali berjalan ke arah meja di mana Amy tampak kebingungan.
"Astaga Austin, cakep banget ya!" Timpal Sasa merebut ponsel Putra. Kedua sahabat Amy kini duduk di kursi mereka sambil memperebutkan ponsel.
"Memangnya mereka siapa? Artis ya?" Amy menimpali, membuat kedua sahabatnya yang sedang berdebat berpaling ke arah Amy.
Putra dan Sasa saling bertatapan dan kembali menatap Amy yang kedua matanya kedap-kedip.
"Lu serius kagak tahu?" Tanya Putra.
Dan di angkukin kepala oleh Amy, bertanda gadis imut itu tidak mengenal mereka.
"Oh iya, lu kan, kagak masuk kemarin," sahut Sasa yang memaklumi sahabat oon-nya ini tidak tahu dengan kelima pria tampan itu.
"Mereka kemarin datang ke sekolah kita, untuk menjadi bintang tamu. Mereka idola banget di salah satu kampus terkemuka di kota ini. Kelimanya juga adalah artis dan model." Sasa menjelaskan kepada Amy dengan wajah antusias, begitu juga Putra yang sesekali menimpali perkataan sahabatnya itu.
Sementara Amy hanya bisa terbengong-bengong melihat kedua sahabatnya sambil menghisap sedotan berwarna hitam yang ada di dalam gelas berisi jus kesukaannya.
Saat Sasa dan Putra begitu antusias menceritakan kelima pemuda tampan, tiba-tiba keduanya terdiam dengan kedua mata berbinar takjub.
Amy yang melihat ekspresi wajah kedua sahabatnya itu kembali bingung. Apalagi mendengar bisikan para gadis di sebelahnya.
Amy mengarahkan pandangannya menuju pintu cafe sambil menyeruput minuman pesanan dengan sedotan. Seketika gadis itu tersedak hingga air jus yang sudah berada di mulutnya kembali ke luar, saking terkejutnya. Amy pun terbatuk-batuk sambil melirik sosok pria tinggi gagah yang berjalan ke arahnya.
Reaksinya membuat kedua sahabatnya melirik ke arahnya, begitu juga kelima pria itu yang melihat keberadaan Amy. Bahkan salah satu diantara mereka segera ingin menemui Amy.
Amy bahkan terus menatap pria tinggi itu sambil meneguk ludahnya kasar.
__ADS_1
"Bapak Mr?" Gumamnya pelan.