
"Napa tuh muka kusut amat?" Bibi Lilis menegur keponakannya saat gadis yang wajahnya di tekuk sejak tadi duduk di kursi makan.
"Amy lagi sebel," sahut gadis itu sambil meraih potongan roti yang sudah di panggang.
"Ati-ati, tuh roti masih panas," seloroh bibi Lilis, ketika Amy terlihat kepanasan saat menggigit kecil roti di tangannya.
"Laper amat, lu," celetuk bibi Lilis, mencebikkan bibirnya ke arah sang keponakan.
Emak Nani muncul dari arah dapur, seketika langkah wanita itu cepat, saat melihat putrinya.
Emak Nani sudah tidak sabar mendengarkan cerita tentang pembelajaran lato-lato dari mulut mungil putrinya itu.
Amy menoleh ke samping, saat mendengar kursi bergeser. Amy malah semakin cemberut saat melihat emak kesayangannya.
"Gimana? Jadi lato-latoan kagak kalian?" Tanya emak, langsung ke intinya. Wanita berwajah cantik itu begitu penasaran mendengar cerita blak-blakan sang putri.
"Lato-lato?" Sahut Amy dengan suara lirih, keningnya bahkan mengkerut bingung.
Bibi Lilis hanya bisa menggelengkan kepala melihat antusias sang kakak yang ingin mendengar cerita hal pribadi putrinya sendiri.
__ADS_1
"Kagak boleh Mpok, terlalu kepo dengan urusan intim si ketek. Ingat dosa Napa, Mpok," timpal bibi Lilis yang begitu gemas melihat tingkah laku kakak perempuan satu-satunya.
"Gua, penasaran, Tin," jawab emak dengan wajah cuek. Kembali menatap wajah putrinya yang kembali asyik menggigit roti di tangannya.
Emak Nani kini mencoba memindai penampilan putrinya yang pagi ini akan mendatangi kampus, tempat Amy untuk menyambung pendidikan ke lebih tinggi lagi.
Hingga kedua mata emak menyipit, saat melihat hal aneh di sekitar leher putih putrinya, emak menyingkirkan rambut Amy, melihat lebih lekat bekas merah di leher putrinya itu.
"Apaan, sih, Mak," ucap Amy yang begitu kebingungan dengan tingkah sang emak.
Emak terus memeriksa seluruh tubuh bagian depan putrinya, tatapannya kini melihat pemandangan luar biasa, saat bagian dada atas Amy terekspos bekas merah.
"Itukan, ******, Mpok," seloroh bibi Lilis yang secepat kilat mengomentari leher keponakannya.
"******?! Sahut Amy dengan nada mencicit.
"Hum, ****** bekas mulut lagi, lu," tandas bibi Lilis yang kini sibuk menyiapkan kopi untuk keponakan menantunya.
"Di sini juga penuh, Amy kira serangga beracun," timpal gadis itu dengan polosnya, sambil menunjuk dadanya.
__ADS_1
"Tadi pagi, Abang juga periksa dada Amy dengan mulutnya," lanjut si gadis lugu itu.
Membuat sang emak dan bibi Lilis hanya tepuk jidat, mendengar kisah polos si Amy.
"Iya itu baru sengatan serangganya. Lu, belum liat pasti serangga sesungguhnya milik laki, lu," pungkas bibi Lilis yang diikuti kekehan kecil.
"Emang, Abang bule punya serangga?" Kembali Amy bertanya dengan lugunya.
Emak tidak bisa lagi berkata-kata, melihat tingkah putrinya yang seakan kurang pergaulan.
Akibat penjagaan ketat yang ia terapkan kepada putrinya itu.
Seharusnya ia membiarkan putrinya bergaul dengan sewajarnya saja, melakukan hal positif bersama temannya,
"Punya, mungkin serangga dia berukuran jumbo dan bisa membuatmu buncit, apabila terkena racunnya," tandas bibi Lilis, yang terus menghela nafas panjang.
"Ngerti amat, bi. Kalau gitu, Amy kagak mau dekat-dekat dia, ha," pungkas Amy atas ucapan bibirnya.
"Kagak gitu juga ketek. Bagaimanapun, kau harus melayani suamimu. Mau lu, laki tampan lu, di embat mah, pelakor nekat," celetuk bibi Lilis. Sambil menghentikan tangan Amy yang menjulur untuk mengambil sepotong roti lagi.
__ADS_1