Suamiku pria dewasa

Suamiku pria dewasa
bab 16


__ADS_3

"Assalamualaikum." Seorang pria paruh baya memasuki mushola kantor polisi, yang mana akan dilaksanakan ijab kabul sekarang juga.


Membuat sang pria yang kini terheran-heran saat melihat kedua calon pengantin dadakan itu.


Pemuka agama pun duduk di lantai yang di depannya tersedia meja pendek, di depannya sudah duduk dua insan yang begitu banyak perbedaan.


Pak ustad kini menurunkan sedikit kacamatanya, saat melihat wajah Amy yang tampak begitu mungil dari sudut kacamatanya.


Ia kini menatap sosok pria asing dengan raut wajah bak kepiting rebus, begitu merah hingga kedua telinga.


Tatapan pak ustad begitu lekat menatap Alexander, dari puncak kepala hingga ujung kaki yang semuanya terlihat begitu jauh berbeda dengan calon pengantin wanita.


"Pengantin pria-nya mana?" Tanya pak penghulu sibuk mencari calon pengantin pria.


Keluarga Amy yang sudah menunggu ijab kabul di mulai bingung dengan pertanyaan, pria paruh baya tersebut.


Baba dan abah yang duduk di sisi meja saling berpandangan dan menatap sang kepala penghulu.


"Kenapa kalian pada liatin saya?" Tanya pak penghulu yang ikut keheranan.


"Bapak cari siapa?" Baba bertanya dengan wajahnya masih terlihat bingung.


"Yang mau ngucapin ijab kabul nya mana?" Tanya pak penghulu mengulang pertanyaan.


"Ini," semua orang di dalam sana menunjukkan kepada Alexander.


Pak penghulu pun menatap wajah Alexander sekali lagi dengan kening terlipat.

__ADS_1


"Tak pikir dia bapaknya, kenapa kalian ingin menikahkan kedua orang ini?" Penghulu bertanya agar tidak terjadi kesalahpahaman nantinya.


"Mereka sedang digerebek warga, pak," sahut salah satu saksi, yang menjadi saksi di penggerebekan dan kini mereka akan menjadi saksi untuk pernikahan sang pelaku pengerebekan warga.


"Kasian, masih Kecil udah pintar main anak kecilnya?" Seloroh pak penghulu.


"Udah pak, lebih baik segera lakukan ijab kabul, kami sudah begitu lelah mengurusi ini semua," timpal seorang saksi dengan wajah mulai jengah.


Semuanya pun ikut mengiyakan, sementara Amy dan Alexander tampak enggan melakukan ini semua.


"Emak!" Panggil Amy sambil merengek, menengok ke belakang di mana sang emak duduk dengan wajah bahagia.


"Hum," emak hanya bergumam, menjawab panggilan putrinya yang akan menikah.


"Amy tidak mau menikah Mak. Masa Amy nikahnya sama bapak-bapak dan hanya pakai seragam," tandas Amy dengan nada protes.


Bagaimanapun, beranikah adalah momen membahagiakan dan penuh suka cita, harus membutuhkan persiapan lengkap, salah satunya baju pengantin dan gadis itu begitu sedih dengan penampilannya yang harus mengenakan seragam sekolah.


"Sst, lebih baik lu diam!" Bisik emak dengan nada tertekan.


"Tapi, emak, Amy kagak mau kawin!" Seru Amy yang kini terlihat ingin menangis.


"Yang nyuruh lu kawin sape, nikah dulu baru nanti kawin-kawinnya," celetuk emak.


Amy pun hanya bisa menampilkan wajah kusut dan kesal, tidak ada raut bahagia, yang ada wajah enggan dan seandainya ada jalan lain, kedua pasti akan melahirkan diri.


"Kalau lu, kagak mau, biar bibi yang gantiin, lumayan dapat bule kece," sela sang bibi yang duduk sebelah emak.

__ADS_1


Mendengar sahutan sang adik, emak hanya mencibir, wanita itu begitu bahagia akan melihat putrinya menikah dengan seorang pria bule.


"Semuanya sudah siap?" Penghulu bertanya kepada kedua calon pengantin dadakan malam ini.


Tidak ada yang menjawab, membuat semuanya pun hanya menghela nafas, "udah pak, mulai aja!" Pinta Abah Mahmud.


Penghulu pun mengangguk dan mulai untuk melakukan ijab kabul malam ini, pria itu memulainya dengan mengucap doa terlebih dahulu.


Setelah itu melirik ke arah Alexander yang tampak begitu muak juga jengah.


"Nih, bule muslim, kagak?" Tanya penghulu lagi, menyakinkan keyakinan si bule.


"Islam pak," sahut baba dengan suara tegas.


Pak penghulu pun mengangguk, lalu bertanya lagi deh tatapan kali ini begitu lekat.


"Udah sun …."


"Udah pak, pokoknya nih bule ready and free," sekat si bibi Lilis, yang begitu kesal melihat pak penghulu sejak tadi bertanya.


"Alhamdulillah, kalau gitu," ucap sang penghulu bisa bernafas lega.


"Baiklah, kita mulai sekarang," sela penghulu itu lagi sambil memerintahkan kepada Alexander untuk memegang tangannya.


Abah mengambil paksa tangan kekar pria bule itu dan diarahkan kepada sang penghulu.


Alexander mengikuti semua jalannya acara nikah mendadak itu dengan begitu sulit, ia harus melakukannya tiga kali , hanya karena salah menyebut nama binti Amy, yang harusnya, Asraf, jadi asrah. Pria itu juga harus dengan hati-hati mengucapkan ijab kabul, yang hanya bermaharkan uang dollar sepuluh lembar.

__ADS_1


"SAH!" suara sah pun serse dengan nafas plong para saksi, menyaksikan begitu sulit untuk membimbing seorang pria asing untuk mengatakan sesuatu. Beruntung Alexander sudah lama tinggal di Indonesia yang membuatnya tidak asing lagi dengan ungkapan para orang-orang Indonesia.


"Emak! Amy tidak mau menikah, ahk!"


__ADS_2