
"Hei, jangkung. Kalau di ajak ngomong tuh, liat orangnya! Jangan nunduk! Kayak ayam kebelet kawin aja, lu." Sergah bibi Lilis yang kini duduk di sofa dan menatap pria tinggi di hadapannya.
Kini mereka sudah kembali ke aperteman dan Alvin kini siap untuk di interogasi oleh sang bibi juga Alex, sebagai atasannya.
Pria berwajah oriental khas Chinese itu, hanya bisa menghela nafas pasrah berulang kali. Apalagi menghadapi bibi Lilis yang begitu galak dan ketus.
"Yaelah, dia-nya malah merem, benar-benar yah, nih orang minta di getuk kepalanya," tukas bibi Lilis dengan segala emosi yang begitu terlihat.
"Hey, Raju. Kalau ditanyain jangan tidur, kagak sopan banget jadi orang." Bibi Lilis kembali berkomentar sambil membentak, pria di hadapannya.
Padahal pria itu jelas memiliki kelopak mata sipit, yang apabila sekilas saat menunduk, akan terlihat sedang terpejam.
Semua orang yang berada di sana ikut gemas mendengar suara bibi Lilis yang sejak tadi membentak sosok pria tinggi.
"Hei, Mahima!" Sentak bibi yang sejak tadi gatal ingin menegur adiknya ini.
"Emang dari sono nya, mata dia merem terus. pan, dia Chinese, matanya sipit." Sela emak yang kini mendelik kesal ke arah sang adik.
Koko Alvin mengangkat kepalanya, pria itu sedikit lega saat di bela oleh emak. Sejak tadi Alvin ingin pergi dari hadapan bibi Lilis. Namun ia melihat sorotan mata tajam, atasannya.
__ADS_1
Bibi Lilis hanya bisa mencibir dan melotot kedua matanya ke arah koko Alvin, membuat pria berusia 27 tahun itu kembali menunduk.
"Serem amat," pria itu membeo.
Amy dan Alex tampak asik dengan kegiatan masing-masing, tapi sejak tadi Alex terlihat terus menggenggam tangan istri mungilnya itu.
Sedangkan emak melipat pakaian putri dan menantunya. Dan bibi Lilis yang masih menolak untuk melupakan kejadian tadi siang di mall.
"Udah tin, mending lu, maafin dia. Kasian, pasti dia juga kagak sengaja," emak menimpali dan memberi saran kepada adiknya.
Koko Alvin kembali mengangkat kepalanya, ia melirik takut-takut ke arah bibi Lilis.
"Makanya, lain kali kalau jalan pake mata." Sentak bibi Lilis emosi.
"Jalan pake kaki, Mpok," sahut koko Alvin dengan dahi mengkerut.
"Kaki lu, kan, pake mata," sergah bibi Lilis dengan bibir mungilnya terus saja mencibir ke arah koko Alvin.
Amy, emak dan koko Alvin, refleks menatap kedua kaki mereka, bingung dengan ucapan bibi Lilis.
__ADS_1
"Mata apa, bi?" Tanya Amy penasaran yang terus memperhatikan kedua kakinya.
Emak yang paham pun, hanya bisa mendelik ke arah adiknya dan meneruskan pekerjaannya.
"Mata kaki," sahut bibi ketus, bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju dapur.
Sementara koko Alvin terlihat menghela nafas lega, melihat bibi Lilis sudah menghilang dari hadapannya.
Pria berwajah tampan itu segera meminta izin untuk pamit pulang, setelah di acuhkan oleh atasannya hang sejak tadi sibuk dengan tablet-nya.
Padahal pria itu memiliki beberapa berkas proyek yang harus diperiksa lebih lanjut.
"Emak sama bibi, serius? Amy pake baju ginian?" Amy menatap baju lingerie yang diberikan emak Nani.
"Yah, kagak napa-napa, neng. Make baju ginian di depan suami," seloroh emak. Memberikan motivasi kepada putrinya itu.
"Lagian, udah saatnya lu, jalanin kewajiban, lu sebagai istri diatas ranjang," timpal bibi Lilis.
Amy diam sembari menatap kain tipis berwarna merah menyala di depannya. Ia juga meneguk ludahnya sendiri dengan perasaan gugup.
__ADS_1