
"Nak Akbar, apa benar? Amy tadi siang ikut bersama kamu?" Baba kini bertanya kepada anak tetangganya juga merupakan teman sekolah putrinya itu.
Wajah baba begitu tenang dan ucapan tegasnya mendadak membuat para tetangga yang berkumpul di halaman rumah emak, terdiam.
Sebagai pria yang menjadi sosok panutan di sekitar kompleks, baba begitu di segani para warga. Termaksud tetangga mereka.
Pemuda yang di tanyain kini menundukkan kepalanya sambil melirik sang ibu yang sedang melayangkan tatapan nyalang ke emak.
Bibi dan sang abang ikut diam, mereka tahu kalau baba dalam mode serius tidak boleh diganggu.
"Bibi, kayak nunggu antrian pemberian uang BLT," gumam bibi Lilis lirih. Gumamnya bisa didengar oleh sang keponakan juga rivalnya, yang ia dijuluki pelakor kompleks.
"Uang buat lajang tak laku yah, bi?" Celetuk abang Alif, yang melirik sang bibi.
Bibi Lilis segera mengeplak belakang kepala keponakannya itu, wanita yang sampai sekarang belum menikah, tidak terima dengan ucapan abang Alif. Meskipun fakta mengatakan hal benar.
"Kalau ngomong jangan suka benar. Bohong dikit napa, kan, buat hati bibi bahagia dan kamu dapat pahala," tandas bibi yang masih berkata pelan.
"Makanya, langsing dikit, jadi cepat laku," sela si Nisa. Pelakor kompleks yang menjadi rival bibi Lilis dan emak Nina.
Bibi Lilis pun, melototi sang rival yang berpenampilan begitu dramatis juga beberapa aksesoris perhiasan yang memenuhi kedua jari tangannya, wanita itu sengaja memamerkan kepada — para tetangga sekitar.
Sedangkan sang pelakor kompleks kini tersenyum sinis ke arah bibi, wajahnya begitu mengejek bibi Lilis.
"Pengen gue cabein nih perempuan satu, biar tahu rasanya tempe di cabein," gerutu bibi Hanum.
"Tahu rasa tempe dicabein, gimana rasanya bi?" Timpal abang Alif, yang ucapan sang bibi begitu ambigu di telinga pemuda tampan itu.
Bibi Lilis menatap keponakannya yang begitu memiliki jiwa kepo yang tinggi. "Lo nikah dulu, baru lo tahu, rasa tahu tempe dicabein tuh, kayak gimana rasanya," seloroh bibi Hanum yang mulutnya mulai komat-kamit kayak ****** ayam.
Abang Alif terlihat berpikir sambil menggaruk kepalanya yang kebetulan sedang gatal.
"Jangan garuk-garuk rambut lo di sini pea' nanti kutu lo, pada terbang!" Sela bibi Lilis, yang lagi-lagi menapok kepala keponakannya itu.
Keponakan dan bibi itu kini masih berdebat dengan suara berbisik, tanpa memperdulikan ketegangan di sekitar keduanya itu.
____
"Amy yang pengen ikut, bab. Aku udah …." Ucapan pemuda itu terhenti, ketika di potong oleh suara nyinyiran dari wanita di sebelahnya.
"Nah kan, anak gua nggak salah, ini semua salah anak gadis lo yang keganjenan ikut mah anak laki. Makanya anak itu dididik baik-baik, jangan terlalu dibiarkan bergaul bebas. Mana ada anak gadis bergaul mah laki semua?" Sela ibu Akbar yang sejak tadi menantang emak, membuat tanduk emosi di kepala emak Nani semakin tinggi.
"Hey, Cicak di dinding, kalau ngomong jangan sembarangan!" Gertak emak yang begitu terbakar emosi jiwa.
"Woy, Nina bobo! Nama gua Chica," sahut ibu Akbar yang tidak terima emak menyebut namanya asal.
"Lo emang pantas di panggil cicak, karena lo perempuan tidak tau diri. Tiap hari nempel di dinding pintu ngintipin laki orang, dasar ganjeng!" Teriak emak dengan wajah merah.
"Dek udah, malu di liatin orang," bisik baba yang kini menahan tubuh mungil istrinya itu.
"Kenapa emak harus malu bab, yang seharusnya malu tuh dia, perempuan yang sering ngintipin baba," emak kembali berteriak, menjadi tontonan para tetangga.
Sang tetangga yang bernama Chica kini hanya bisa mencibir ke arah emak dan tatapannya begitu berbinar saat bersitatap dengan baba.
__ADS_1
"Ya Allah, ini mah namanya, kisah lama terulang kembali," batin bibi Lilis. Melihat perdebatan Mpok-nya dengan sang tetangga yang dahulu menjadi rival emak untuk mendapatkan cinta dari baba.
"Ingat, abang Asraf laki gue, jadi jangan coba-coba rayu laki gue, kalau punya lo kagak mau di terongin pakai cabe," emak begitu emosi, mengingat masa mudanya yang sering dihantui sosok saingannya itu untuk menjalin kasih dengan baba Asraf.
"Enak tuh, terong di cabein," celetuk Alif dengan wajah oon-nya.
"Pletak." Tiba-tiba bibi Lilis kembali menggeplak kepala keponakannya itu.
"Bu!" Seru seorang pria yang baru muncul dan turun dari motornya.
"Sesar, anak aku yang paling tampan!" Sahut ibu Chica.
Emak hanya bisa mencibir dengan wajah jengah, melihat ekspresi mengesalkan tetangganya itu.
"Ada apa ini, Bu?" Tanya pria berwajah tampan itu. Yang seusia bang Alif.
"Tahu nih, tetangga berisik," jawab ibu Chica ketus.
Pemuda itu menatap orang tua Amy bergantian, kini pandangan pemuda itu beralih kepada baba.
"Tidak apa-apa nak, cuma kesalahpahaman saja," ujar baba yang tahu maksud tatapan pria bernama, Sesar itu.
"Gak usah sok lembut sama anak mantan," sela emak yang tidak suka suaminya begitu lembut kepada anak musuhnya itu.
"Begitulah, bang, anak saya ini begitu mengkhawatirkan ibunya. Maklum, sejak kecil saya mendidiknya lembut juga dengan kata kasih sayang. Tidak teriak-teriak kepada anak," tandas ibu Chica sok lembut di hadapan baba.
"Apa maksud lo, hah!" Bentak emak yang merasa tersinggung dengan ucapan tetangganya itu.
Baba pun kini membawa emak memasuki rumah dengan wajah emak yang masih marah dan emosi.
"Kalian, para warga kepo!" Bibi Lilis kini berteriak di hadapan para tetangga.
"Bubar, pulang ke rumah kalian masing-masing. Jangan suka kepo dengan urusan orang lain, noh, kepoin si pelakor, takut laki lo pada di embat." Pungkas bibi Lilis dengan wajah sinis ke arah perempuan bernama Nisa.
Mendengar teriak bibi yang melengking di telinga, para tetangga di sekitar rumah emak pun membubarkan diri. Masing-masing kembali ke rumah mereka.
______
Di ruang tamu. Kini baba mencoba meminta bantuan kepada temannya untuk mencari tahu keberadaan putrinya.
Jarum jam kini menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, membuat keadaan di ruangan itu semakin panik.
Emak bahkan sudah menghabiskan satu kotak tissue, karena wanita itu terus menerus menangis.
"Mpok, jangan menangis terus napa!" Seru bibi Lilis. Wajahnya terlihat antara ikut prihatin dan jengah. Apalagi saat sang kakak menggunakan pakaiannya untuk mengelap ingus dan air mata.
"Aih … Mpok jorok!" Seru bibi Lilis.
"Tissue habis Lis," sahut emak di sela tangisnya.
Bibi Lilis yang sedang merangkul pundak sang kakak terlihat memutar bola matanya.
"Akbar, tissue, tissue mana," teriak bibi Lilis.
__ADS_1
Akbar yang sedang mencari tahu keberadaan adiknya dengan menelpon teman Amy satu persatu dengan bantuan kedua sahabat adiknya.
"Put!" Panggil abang Alif.
Sahabat Amy yang laki-laki menoleh dan menatap wajah tampan kakak sahabatnya itu.
"Iya bang," sahut si putra yang nada ucapannya pengen di tabok, sok imut menggemaskan.
Abang Alif menoleh dan melirik tajam sahabat adiknya itu yang terlihat bersikap malu-malu.
"Teman lo, kenapa? Kesambet?" Tanya abang Alif kepada sahabat adiknya yang perempuan.
Gadis yang di tanyain mengangkat pandangannya dan menatap wajah tampan abang sahabatnya itu.
Lalu menoleh ke arah wajah sahabat yang terlihat memalukan.
"Kesambet hantu kuntilanak kali, bang," sahut Sasa.
Putra mendesis, mendengar jawaban sahabatnya itu yang membuatnya malu.
"Lo, ambilan tissue gih!" Pinta abang Alif kepada Sasa.
Gadis itu pun bangkit dan sebelum melangkah, ia menanyakan letak tissue yang diinginkan oleh pemuda tampan itu.
"Gimana, bab?" Emak kini kembali bertanya kepada suaminya itu.
"Sabar dek, kita harus menunggu kabar terlebih dahulu," jawab baba. Pria itu juga mengusap punggung tangan istrinya yang tampak begitu tidak berdaya.
"Ya Allah, putriku ke mana? Semoga dia tidak kenapa-napa, hanya dia harapan hamba untuk mendapat keturunan bule ya Allah," tutur emak yang membuat bibi Lilis menepuk jidatnya dan sang baba hanya bisa menghela nafas.
"Assalamualaikum!" Terdengar suara nyaring mengucapkan salam dan tanpa dipersilahkan masuk, pria yang terlihat sudah berusia lanjut itu kini menerobos masuk ke dalam ruang tamu.
"Waalaikumsalam," balas orang-orang yang berada di ruang tamu.
"Abah!" Seru emak, segera bangkit dan menyambut mertuanya itu dengan wajah berkeluh-kesah.
Baba ikut menyalami pria yang sudah berusia, 70 tahun. Namun masih terlihat kuat dan lincah.
"Lo napa Nia?" Tanya abah sebelum menjatuhkan bokongnya di sofa.
Tangis emak semakin menjadi, membuat abah yang baru datang tampak kebingungan. Pria itu kini menatap putranya yang terlihat khawatir.
"Ada apa, Raf?" Kali ini abah bertanya kepada putra semata wayangnya.
"Amy, bah," potong emak, saat baba ingin berucap.
"Amy? Emang ada apa dengan cucu gua?" Tanya abah semakin penasaran.
"Ngomong-ngomong, kemana tuh anak?" Abah kini mencari keberadaan cucu perempuannya.
Emak kembali menangis histeris dan baba terlihat wajahnya tampak begitu panik. Sementara bibi ke dapur membuat kopi khusus Abah.
"Kenapa lo nangis?" Abah begitu penasaran dengan keadaan rumah putranya itu yang tampak terlihat berbeda.
__ADS_1