
"Waduh! Si Amy dos, diketekin lakinya, Put," bisik Sasa melihat Alex memeteng leher istrinya yang tepat di ketiak pria tinggi itu.
Putra dan Sasa yang mencoba mengejar langkah Alex yang membawa Amy pergi dengan pandangan semua orang yang ada di cafe tampak heran.
Kedua sahabat Amy pun tidak nyaman berada di antara kelima pria tampan yang seakan-akan ingin menghakimi mereka.
Sedangkan Alex kini melajukan kendaraan roda duanya meninggalkan area cafe dengan wajah masih terlihat begitu merah. Amy yang melihatnya tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun.
Wanita itu bahkan meringkuk ke sudut pintu mobil dengan kepala menunduk takut, apalagi suaminya ini sejak tadi diam.
Amy mengangkat kepalanya, ketika merasa mobil berhenti dan benar saja mobil hitam milik suami besarnya itu, kini berhenti di jalan sunyi.
Amy menolehkan kepala keluar kaca mobil dan memperhatikan jalanan yang begitu asing buatnya.
"Ini di mana?" Tanyanya dengan suara pelan.
Gadis itu melupakan suami besarnya yang kini memandangnya dengan wajah penuh dendam. Kedua mata pria berwajah tampan itu begitu tajam.
"Kemarilah!" Titah si pria bule dengan intonasi suara berat nan tegas.
Amy memalingkan pandangan kepada suaminya, gadis itu mengerutkan kening bingung. "Aku harus mendekat kemana?" Pikir Amy kebingungan.
Memandangi suaminya yang juga menatap tajam ke arahnya. Membuat detak jantungnya semakin tidak karuan.
"Apa kau tidak mendengar perkataanku, bunny?" Alex sekali lagi mengeluarkan suara bariton nya yang berat nan tajam.
Amy tersentak, ia pun menggeser tubuhnya lebih mendekat kepada pria yang kini menatapnya dengan alis terangkat sebelah.
"Lebih dekat!" Pinta Alex, melihat istrinya kini berhenti tepat di samping rem tangan mobil.
Amy melirik bingung rem tangan di sampingnya lalu menatap wajah Alex penuh tanda tanya.
Alex mendengus kesal, melihat ekspresi kebingungan istri mungilnya ini. Sungguh ekspresi gadis kecilnya begitu menggemaskan.
"Pindah ke sini!" Perintah Alex, sambil menepuk-nepuk kedua pahanya sambil menekan sebuah tombol untuk mengatur letak kursi kemudi.
__ADS_1
Amy yang mendengar ucapan pun melihat instruksi suaminya, membuat gadis imut itu tercengang tidak percaya. Ia melihat kedua paha suaminya sudah terbuka lebar dan wajah pria itu begitu tidak terbantahkan.
"Apa yang kau lihat, girl. Kemarilah!" Pinta Alex yang begitu tidak sabar. Pria itu bahkan terlihat geregetan saat Amy ragu untuk mendekat.
"Amy di sini saja, bapak Mr," ujar Amy mencoba menolak dengan suara lirih juga takut-takut melihat ekspresi suaminya.
"Oh, s*hit. Come here, bunny!" Tanpa menunggu lama, Alex mendekatkan kedua tangan besarnya di bawah lengan istrinya, lantas pria itu dengan mudah mengangkat tubuh mungil sang istri.
"Eeeh … bapak Mr!" Amy hanya bisa berseru kaget, melihat posisinya kini duduk mengangkang di atas pangkuan suaminya.
"Sst … diamlah. Karena aku akan menghukummu!" Bisik Alex tepat di ceruk leher putih istrinya. Pria berkulit putih kemerahan akibat cuaca panas di Indonesia, terus mengecup leher istri mungilnya.
Ia pikir dengan memberikan tanda di leher istrinya, maka orang-orang yang melihat Amy dan dirinya berjalan bersama yakin kalau mereka adalah pasangan suami-istri.
"Bapak Mr, geli. Jangan di gigit, nanti merah," sela Amy yang mencoba menjauhkan lehernya dari jangkauan bibir penghisap suaminya yang dalam mode drakula plus vampir penghisap darah di siang bolong.
"Aww … bapak Mr sakit!" Gadis itu terpekik perih saat merasakan lehernya digigit kuat.
Gadis itu tidak bisa menghadiri dari kurungan kedua lengan kekar suaminya ini. Amy hanya bisa menggerakkan lehernya ke sana kemari agar sang suami drakulanya kesusahan untuk menghisap lehernya.
Setelah puas dan yakin mahakaryanya yang berbentuk benua kecil-kecil di leher istrinya, Alex pun melepaskan bibirnya dan pria itu tersenyum bangga melihat hasil karyanya yang lumayan menyakinkan semua orang bahwa gadis mungilnya adalah miliknya seorang.
Amy mengusap-usap lehernya dengan wajah cemberut. Ia merasa kebas dan perih.
Alex tersenyum, mengeratkan pelukan di kedua pinggang ramping istrinya sambil menatap wajah menggemaskan si gadis imutnya yang duduk di atas pangkuan.
"Ini hukuman karena kau membiarkan pria lain menyentuhmu disini, cup, cup." Alex meninggalkan kecupan di kedua pipi kenyal nan lembut Amy, di mana ia melihat pria tadi menyentuh kedua pipi menggemaskan sang istri.
"Tapi, Amy …."
"Cup." Kini Alex mengecup sudut bibir ranum istrinya itu di mana sosok pria muda dan tampan menyentuh bibir mungil istrinya, meskipun itu hanya sekilas, namun pria bule ini begitu tak rela.
"Dia juga menyentuhnya di sini bukan?" Tanya Alex pelan tepat di atas sudut bibir mungil istrinya itu.
Amy hanya bisa membeku dengan refleks mengangguk, mengiyakan ucapan suaminya.
__ADS_1
Alex kembali tersenyum, melihat wajah lugu gadis kecilnya ini. Ia pun kembali mengecup, bahkan menyesap lembut bibir bawah istrinya dan sedikit menggigit saat merasa begitu lembut dan manisnya bibir mungil gadis kecilnya ini.
Amy hanya mampu terdiam dengan ekspresi membeku dengan tubuh tegangnya. Entah apa yang harus ia lakukan. Hanya diam yang harus ia lakukan.
Gadis itu mendesis saat merasakan gigitan sedikit kuat yang di lakukan pria di bawahnya ini. Secara tidak sengaja, Amy membuka belahan bibirnya, hingga membuat lidah Alex kini mengekspos rongga mulutnya yang begitu hangat.
Amy memejamkan mata, mulai kembali terbawa suasana hangat yang diciptakan suaminya.
Alex tersenyum melihat istrinya mulai mengikuti arah tujuannya untuk membisa membuat istrinya diam dan berhenti bergerak gelisah.
Pria dewasa itu lebih intens mengabsen setiap deretan gigi rapi istrinya itu. Ia juga menuntun istrinya agar membalas setiap sesapan yang ia berikan.
Alex melepaskan tautan bibir mereka, kedua terdengar berlomba-lomba meraup banyak udara dengan dada naik-turun begitu kencang.
Alex membersihkan pinggiran bibir sang istri yang basah oleh saliva keduanya.
"Kau mulai pintar, dear," bisik Alex sambil merapikan rambut pendek istrinya itu. Ia juga kembali merapatkan tubuh mungil istrinya dan memeluk erat.
"Aku akan mengajarkan banyak hal tentang salah satu cara menyenangkan suami," tandas Alex sambil melepaskan pelukan.
Amy yang masih terlihat salah tingkah mendengar perkataan suaminya, menjadi bingung.
"Bagaimana caranya?" Tanya Amy penasaran. Entah mengapa ia begitu tertarik dengan ucapan suami besarnya.
"Kita akan melakukannya saat tiba di rumah, my beloved little wife," sahut Alex, yang masih betah meletakkan tubuh mungil gadis di atas pangkuan.
"Apa itu sangat penting?" Kembali Amy bertanya dengan raut penasaran. Tatapannya sungguh membuat Alex mengerang tertahan.
Tatapan istrinya begitu polos dan lugu, di tambah kedua kelopak mata indahnya yang berkedip-kedip menggemaskan.
"Of course," jawab Alex, yang kembali mengecup berulang kali bibir mungil Amy.
Alex bahkan menggigit gemas salah satu pipi chubby istrinya itu. Membuat sang empunya meringis tertahan dan mengadu manja.
Alex hanya terkekeh, melihat tingkah gadis yang menjadi hiburan menyenangkan untuk dirinya di saat lelah.
__ADS_1