Suamiku pria dewasa

Suamiku pria dewasa
bab 73


__ADS_3

Bibi Lilis dan emak Nani, memperhatikan Alex yangs


"Seger, amat, muka si bule jangkung," celetuk bibi Lilis pelan. Ia terus memperhatikan wajah Alex yang terus tersenyum.


Emak Nani bahkan tidak berkedip, melihat wajah tampan menantunya. Ia melirik putrinya yang masih terlihat cemberut.


"Jelas saja, dia kelihatan cerah. Wong, minum susu alami dulu," lanjutnya dengan tatapan sinis.


Sementara Alex mendudukkan bokongnya tepat di samping istrinya. Pria itu mengecup sebelah pipi sang istri di depan kedua wanita yang hanya terdiam.


"Buset nih, bule. Kagak tahu tata krama banget. Dai kagak tahu apa, kalau gue masih jomblo," cerotos bibi Lilis dengan suara pelan dan mulut yang bersungut-sungut.


"Apa sih! Malu tau, di liatin, emak mah bibi," bisik Amy, mendorong dada bidang suaminya yang terus merapat di tubuhnya.


Alex membawa tatapannya ke arah kedua wanita di depannya yang juga sedang menatap ke arahnya dengan wajah melongo.


Pria itu berdehem dan membenarkan raut wajahnya menjadi lebih berwibawa dan tegas.


"Selamat pagi, emak, bibi," sapa Alex dengan wajah datar, berbeda sebelumnya yang begitu kekanak-kanakan, yang selalu ingin menempel di tubuh istri kecilnya itu.


"Waalaikumsalam," celetuk bibi Lilis dengan tatapan mendelik tajam.


Emak Nani menginjak kaki adiknya itu, yang tidak begitu ramah kepada menantu bulenya.


"Apaan, sih Mpok," ucap wanita yang berwajah manis itu.


"Baek-baek, lu, sama menantu bule gue. Nanti dia ilfil mah kita," bisik emak Nani, memperingati adiknya itu.


"Habisnya, gue enek, liat muka bucin nih, bule kampret," sahut bibi Lilis, tentu saja dengan suara pelan.


Sedangkan pasangan di depan mereka masih melanjutkan kemesraan, lebih tepatnya, Alex yang tidak hentinya menempel di tubuh mungil istrinya itu.


"Apaan, sih. Jangan kayak gini!" Pinta Amy, melirik ke arah depan. Di mana emak dan bibinya terlihat berdebat.


"Habisnya, kamu ngangenin dan bikin nagih," bisik Alex dan pria itu menyempatkan diri untuk kembali mengecup pipi istrinya.


"Ist, mesum," ucap Amy sambil mengusap pipinya.


Alex hanya terkekeh gemas, melihat kedua pipi isterinya menggembung karena cemberut.


Keempatnya pun melakukan aktivitas sarapan pagi dengan kehangatan dan senyum juga tawa ceria. Alex bahkan terus berada di samping istrinya dan tidak ingin beranjak sebelum si mungil Amy bangkit terlebih dahulu.


"Geli gue, liat si bule bucin," komentar bibi Lilis melihat kepergian keponakannya bersama suaminya.


"Lah, napa emangnya," jawab emak yang membersihkan meja makan.

__ADS_1


"Kagak, gue cuma ilfil aja," timpal bibi Lilis, yang bertugas mencuci piring.


Emak hanya menggelengkan kepalanya, melihat perlakuan adik satu-satunya ini, yang masih betah hidup sendiri tanpa seorang pria di sisinya.


Terkadang emak merasa gelisah memikirkan sang adik yang terus menolak pinangan seorang pria yang datang kepadanya.


Emak hanya takut adiknya akan menjadi perawan tua dan dijuluki wanita tak laku-laku.


Sementara Amy dan Alex sudah tiba di depan salah satu kampus terkenal yang ada di Jakarta.


Amy menatap bangunan di depannya yang sudah di ramaikan oleh mahasiswa.


Amy terlihat gugup, sampai-sampai kedua tangannya basah dan tubuhnya menegang.


Alex yang merasakan itu, segar mengambil salah satu telapak tangan istrinya lalu menggenggamnya.


"Kau gugup?" Tanya Alex, mengusap keringat dingin yang ada di atas bibir istrinya.


Amy hanya mengangguk sambil menarik nafas. Hari ini adalah awal dirinya menjadi seorang mahasiswa.


Amy pun sudah di terima di kampus tersebut, yang sudah terdaftar jauh sebelumnya. Alex mengurus semua berkas milik sang istri untuk bisa diterima di kampus tersebut.


"Kau sudah siap?" Alex kembali bertanya dan masih menggenggam telapak mungil istrinya.


Lagi-lagi Amy hanya bisa membisu dan hanya mengangguk kepala.


Kampus yang terdapat banyak artis dan model kuliah di sana, membuat Amy merasa minder. Apalagi melihat penampilan para mahasiswa di sini begitu modis dan anggun.


Berbeda dengannya yang hanya berpenampilan sesehat, Amy menurunkan tatapannya untuk membandingkan penampilan sederhananya dengan para mahasiswa di sini.


"Ayo!" Ajak Alex, menarik lembut telapak tangan istri berjalan menuju ruangan staf penerima mahasiswa baru.


Amy dan Alex menjadi pusat perhatian para mahasiswa yang ada di sana. Lebih tepatnya Alex yang menjadi bulan-bulanan para gadis dan Amy menjadi santapan mata kagum para pemuda di kampus itu.


Mereka begitu gemas melihat wajah imut Amy dengan tubuh mungilnya yang menggemaskan.


"OMG! cakep banget, bokap nih cewek!" Seru seorang mahasiswa senior di sana yang begitu terpesona dengan ketampanan Alex.


"Buset, macho and seksi," celetuk yang lain, begitu terpesona dengan tubuh tegap Alex yang begitu seksi.


"Di peluk mah dia pasti begitu hangat, pengen," sahut gadis lainnya.


"Pasti dia punya senjata panjang dan besar," celetuk gadis yang berambut keriting dengan warna kulit khas.


"Ya Allah, mata'ke ternodai," timpal gadis yang mengenakan hijab.

__ADS_1


Keempat gadis itu tidak berkedip, saat Alex melintas di hadapan mereka.


Tatapan penuh pesona terlihat jelas di wajah keempat gadis itu.


Mata mereka terpejam dengan hidung mengendus, saat merasai aroma maskulin Alex setelah pria itu melintas di hadapan keempatnya.


"Wangi banget," salah satu dari keempat wanita itu berkata dengan suara pelan.


"Dari dekat terlihat bagaikan bidadara yang turun dari langit. Mata ane ampe picak, ngeliatnya," seloroh gadis yang berambut pirang pendek.


"Gusti Allah, ampuni mata saya yang tidak sengaja melihat keindahan ciptaanmu," gadis berjilbab hitam berkata sambil terus menatap punggung Alex.


Tinggal di gadis berambut kribo yang terlatih cuek dan menatap ketiga sahabatnya dengan jengah.


"Kamu orang, eey! kayak tidak pernah liat, laki-laki saja," ucapnya, menyadarkan ketiga sahabatnya.


"Aku tidak sanggup berkata-kata, kalau dia begitu tampan dan seksi," gadis bergaya tomboy mengeluarkan pendapat yang membuat ketiga gadis itu kini menatapnya.


"Lah, terus lu kira yang baru saja lu omongin bukan berkata-kata? Pe'a. Lu, berarti bisu, kalau tidak bisa berkata-kata," celetuk gadis yang berambut pirang, melangkah terlebih dahulu menyusul langkah, Alex dan Amy.


"Lah, marimar berambut pirang mau kemana?" Tanya gadis tomboy berjalan menyusul sahabatnya.


Disusul kedua gadis lainnya, keempatnya kini mengintip di di balik jendela ruangan staf.


Keempat gadis itu masih terus menatap wajah Alex yang berhasil membuat keempatnya begitu terpesona.


Kini tatapan beralih ke gadis yang berada di samping pria asing itu. Menatap lekat wajah Amy yang menurut mereka dalam hati, tidak memiliki kesamaan.


Keempatnya pun berasumsi, kalau Amy hanyalah anak tiri atau lebih mirip ke emaknya.


Apalagi melihat sikap lembut Alex kepada Amy, membuat mereka ikutan baper.


"Melonyot hati, aing," gumam gadis pirang.


🌹🌹🌹


"Mau langsung pulang?" Alex bertanya kepada sang istri, saat melihat gadis kesayangannya tampak lesu.


"Hum, Amy mau leha-leha di rumah saja," sahut Amy yang menyandarkan punggungnya ke belakang.


Seketika senyum Alex mengembang, mendengar ucapan istrinya ini.


"Ada apa? Kenapa tersenyum?" Tanya Amy heran.


"Itu karena aku akan puas hari ini. Anda berleha-leha, akupun turut kenyang," celetuk Alex dengan senyum miring.

__ADS_1


"Ish, bukannya tadi katanya mau ke kantor ya?" Timpal Amy dengan wajah cemberut, melihat tingkah suaminya yang mendadak menjadi mesum.


"Aku rela libur hari ini, demi mendaki gunung, apalagi melewati lembah dan berhasil memasuki gua eksklusif." Pria itu pun berkata dengan kedua alisnya ia mainkan dan melempar tatapan mesum ke arah sang istri.


__ADS_2