
Amy masih bergeming dengan wajah syok melihat sosok suami bule-nya itu duduk tepat di meja mereka. Wajah gadis itu sungguh tidak percaya kenapa suaminya itu berada di sini.
Amy melirik kedua sahabat yang masih setia memandangi suaminya dengan tatapan kagum.
Sasa dan Putra begitu terpesona oleh aura ketampan Alex yang tampak begitu hot.
"Ini mah hot Daddy." Seloroh Putra tanpa sadar terus memandangi Alex.
"Astaga cakep benar ya," sahut Sasa.
Amy menyentuh tangan kedua sahabatnya itu. Membuat Sasa dan Putra menoleh ke arahnya.
Amy melirik suaminya yang juga menatap ke arahnya dengan tajam, membuat Amy hanya bisa menelan ludah. Wajahnya bahkan terlihat panik.
"Lu, kenapa?" Tanya Sasa yang memperhatikan mimik sahabatnya itu.
Putra pun menatap lekat wajah Amy yang sesekali melirik ke depan, di mana Alex berada dengan wajah tidak nyaman.
Sasa dan Putra bersamaan menoleh ke belakang di mana keduanya bisa melihat Alex yang tatapannya terus terarah ke Amy.
Keduanya sontak saling menatap penuh arti, saat menangkap keganjilan antara Amy dan pria bule tampan itu.
"Dia …."
"Suamiku!" Seru Amy cepat dengan suara berbisik.
Membuat kedua sahabatnya itu menganga dengan wajah melongo. Putra dan Sasa sekali lagi mengalihkan pandangan ke belakang.
"Jangan diliatin terus," Amy menegur kedua sahabatnya yang terus memperhatikan — Alex.
"Serius, dia laki lu?" Tanya Sasa yang masih tidak percaya.
"Hu'um," jawab gadis imut itu yang terus membuang pandangannya saat bertemu tatapan dengan Alex.
"Gila! Cakep banget." Sentak Sasa yang begitu terkesima dengan sosok suami sahabatnya itu.
"Lu, benar-benar dapat suami modelan hot daddy. Pasti anget tuh dipeluk, dada lebar dan bidang kayak gitu," celetuk Sasa yang membayangkan tubuh Alex yang begitu kekar.
Amy hanya tersenyum masam, namun tidak bisa di pungkiri apa yang dikatakan Sasa benar, kalau pelukan suaminya itu sangatlah nyaman.
"Sumpah, cakep banget, My," Putra menimpalin dengan wajah begitu kagum.
"Laki lu, selera gua banget," lanjut pemuda itu yang sungguh ingin memeluk Alex.
"Sinting, dia lakik. Masa burung lu mau makan pisang," sela Sasa sambil menoyor kepala Putra.
"Gua cuma berangan-angan Sa, siapa tahu laki si oneng khilaf ke gua," celetuk Putra.
__ADS_1
"Pe'a lu," balas Sasa, mencibir ke arah sahabatnya itu
Sementara Amy masih menundukkan kepala, ia tidak tahan saat merasakan kalau Alex terus menatap ke arahnya.
"Laki lu, liatin di mari mulu, My," bisik Sasa, melirik ke arah Alex.
Amy mengangkat kepalanya dan mengarahkan kepada suaminya itu. dan benar saja Alex masih terus melihatnya.
"Gue pulang aja kali, ya? Kagak enak gue," tandas Amy yang merasa tidak nyaman terus dipantau suaminya.
"Enak lah, dapat laki bule kayak gitu. Mana cakep banget lagi," seloroh Sasa sambil terkekeh pelan.
"Apaan sih," sahut Amy yang bersiap untuk berdiri. Namun tiba-tiba datang seorang pria tampan mendekati meja mereka sambil berseru.
"Hey, manis!" Seru pria berwajah oriental itu, yang langsung duduk di samping Amy.
Amy yang ingin bangkit urung ia lakukan saat mendengar juga mendapati sosok pria tampan, kini duduk di sebelahnya. Jelas saja Amy begitu tercengang dengan mulut menganga. Kedua kelopak mata Amy kedap-kedip menatap pria di sebelahnya.
"Ihhh, imut banget sih kamu." Ucap pria tersebut sambil mencubit kedua pipi Amy.
Perlakuan manis pria itu tidak luput dari perhatian orang-orang yang ada di cafe, termaksud kedua sahabat Amy yang tidak bisa berkata-kata melihat sosok yang kedua gilai kini berada di depan mata.
Apalagi Alex yang sejak tadi memantau sang istri dengan tatapan intimidasi, begitu geram melihat pria asing menyentuh gadis kecil itu.
"Kurang ajar," ucapnya begitu geram. Salah satu tangannya kini terkepal erat. Dengan kedua sisi rahang yang mulai mengeras.
"Gawat nih," Amy berkata dalam hati.
"Boleh kami bergabung?" Kembali semua orang dibuat tercengang, saat kelima pria tampan kini duduk di meja Amy. Mereka mengambil posisi duduk di dekat gadis itu.
"Astaghfirullah, baru kali ini gua akui si oneng sahabat mumpung," celetuk Putra. Bagaimana tidak, kini pria-pria pujaan mereka ada didepan mata.
Amy semakin bergerak gelisah, melihat dikelilingi pemuda pemuda tampan.
Jangan tanyakan wajah Alex yang sangat ingin memporandakan cafe ini, karena terlalu emosi melihat gadis mungilnya di dekati pria muda.
"Put, laki Amy ngelirik ke sini, ngeri," bisik Sasa sambil menoleh ke belakang.
Putra pun mengikuti arah pandang sahabat dan benar saja, Alex begitu mengerikan.
"Nama lu siapa, manis?" Kini pertanyaan berasal dari salah satu pria tampan yang duduk paling ujung. Wajah pria itu ia maju kan ke arah Amy.
Membuat sang gadis tersenyum kikuk dan mencoba menghindar.
"Lu, jauhan. Dia kagak nyaman ma, lu," seru pria yang lain yang lebih terlihat humble.
Pria itu pun memundurkan wajahnya sambil berdecak lidah.
__ADS_1
"Nama kamu siapa?" Kali ini si pria dingin yang bertanya yang terus memandangi wajah imut Amy.
Amy meraih minumannya dan menyesapnya dengan gerakan tidak nyaman dan wajah gugup.
"Siapa?" Sekali lagi pria itu bertanya, membuat Amy tersedak dan jus sedikit mengotori pakaiannya karena terlalu gugup.
"Astaga!" Sentaknya sambil berusaha membersihkan pakaiannya di bantu oleh Sasa.
Namun tiba-tiba Amy membeku dengan wajah semakin tegang, saat merasakan sebuah jari mengusap pinggiran bibirnya.
Gadis itu menoleh dengan kedua mata terbuka sempurna.
"Lembut," ucap pria dingin itu berbisik tepat di wajah Amy.
Alex yang melihat aksi pria yang terlihat paling dominan di antara keempat pria lainnya, semakin terbakar emosi.
"PELAYAN!" Teriak Alex begitu nyaring. Membuat Amy terkejut dan semua perhatian kini tertuju padanya.
Termaksud ke-lima pria di sekitar Amy yang menyadari keberadaan Alex.
"Waduh, Put, bakalan ada yang terpanggang nih," Sasa berbisik lirih saat memperhatikan raut wajah Alex.
Putra hanya mengangguk kepala sambil menatap Amy dengan senyum aneh.
Amy pun memohon kepada kedua sahabatnya itu, agar menolongnya keluar dari lingkaran para pria tampan.
"Bukannya dia bapak lu, ya?" Sentak pria yang duduk tepat di samping kanan Amy.
Amy masih diam, tidak berani membuka mulutnya apalagi menatap ke arah sang suami.
"I-iya, dia bapaknya si Amy. Bapak gula," Sasa segera menimpali pertanyaan pria itu.
"Bapak gula?! Sahut yang lain yang berwajah blasteran Eropa, dengan kening terlipat heran.
"Ah, maksudnya, dia bapak yang manis kepada anaknya," jawab Sasa sekenanya sambil tersenyum aneh. Menatap Amy yang begitu ingin segera menghilang saja.
"Jadi nama kamu Amy?" Timpal pria dingin yang wajahnya terlihat begitu tampan. Pria itu kini lebih mendekat wajahnya kepada Amy sambil menatap lekat gadis itu yang semakin menciut tidak nyaman.
Sedangkan Alex semakin tidak tahan melihat pemandangan di depannya, dimana gadis mungilnya dikerumuni para pria tampan dan tentu saja masih muda.
Apalagi melihat salah satu diantara pria itu yang sejak tadi memperhatikan wajah Amy. Tidak tahan dengan pemandangan di depannya yang semakin membuat dadanya panas. Alex segera bangkit, menggeser kursi yang ia duduk dengan kasar hingga menghasilkan bunyi gesekan nyaring.
Alex berjalan menuju istrinya dengan wajah begitu mencekam, kedua mata begitu terlihat menakutkan dengan wajah merah padam.
Alex tidak memperdulikan tatapan semua orang yang ada di sana, ia segera meraih pergelangan tangan kecil, Amy. Lalu menariknya berjalan menuju arah pintu cafe.
Kelima pria itu hanya bisa menatap heran Alex yang mereka pikir begitu posesif kepada putrinya.
__ADS_1