
Amy pun kembali melihat ponsel, melihat jam sudah memasuki waktu sore, tapi belum ada kabar dari suaminya itu.
Gadis itu terus menunggu dengan sabar, ia bahkan menahan ngantuk hingga kepalanya terkadang terhuyung ke belakang dan depan.
Amy berdiri, melihat kiri dan kanan untuk melihat tanda-tanda keberadaan mobil suaminya.
Amy pun kembali duduk dengan wajah lelah dan menahan lapar sejak tadi.
Ia juga berulang kali memeriksa ponselnya, siapa tahu ada nomor yang masuk menelponnya.
"Kenapa Amy lupa minta nomor, bapak Mr?" Gumamnya lirih.
"Mau balik sendiri, Amy belum terlalu paham jalur dan alamatnya di mana," lanjut gadis itu yang menyandarkan punggung mungilnya ke belakang dengan tampilan lesu.
🌹🌹🌹
Sedangkan pria yang ditunggu sedang menikmati kebersamaan dengan kliennya di sebuah cafe. Alex dan Erika kini saling mengobrol dengan santai, yang sebelumnya membahas tentang pekerjaan.
Begitu asyiknya berbincang-bincang dengan Erika yang ternyata wanita humble dan lucu, Alex melupakan tentang istri kecilnya yang sejak tadi menunggu.
Alex tertawa lepas, tanpa memiliki firasat tentang istri kecil yang masih setia menunggunya.
Pria itu begitu senang bisa berbicara dengan kliennya ini. Hingga membuat Erika lebih leluasa menyentuh pria pujaannya dan bangga bisa dekat dengan, Alex.
"Aku baru tahu ternyata kamu begitu lucu." Alex memuji Erika dan hubungan mereka terlihat begitu akrab, panggilan pun terlihat santai dan tidak seformal sebelumnya.
Erika tersenyum, mendengar pujian Alex. Diam-diam wanita itu mengaitkan telapak tangannya di pundak kekar Alex.
"Kamu belum tahu kehebatanku di ranjang, Alex," sahut Erika dengan blak-blakan.
Namun di respon tawa oleh Alex. Membuat Erika hanya mencibir kesal.
Ia pun meletakkan tangannya di atas paha Alex dan mengusapnya dengan lembut.
Alex membeku saat merasakan telapak tangan Erika di atas pahanya, pria itu menatap wajah wanita di sampingnya yang terlihat aneh di mata Alex.
__ADS_1
Alex tersenyum terpaksa sambil menghindari tangan Erika, Alex meraih gelas berisi air putih di depannya dan meneguk isinya.
Alex begitu ilfil dengan sikap wanita yang baru saja ia puji.
Sedangkan Erika semakin gentar menggoda Alex dengan wajah mesum juga gayanya.
Alex pun semakin tidak nyaman dan lebih memilih bangkit dari duduknya.
"Oke, Erika, sepertinya pertemuan kita harus sampai disini. Tidak ada lagi yang perlu dibahas kan? Jadi … selamat bertemu lain waktu." Setelah mengucap kata-kata tersebut, Alex pun segera meninggalkan Erika yang hanya melongo melihatnya pergi begitu saja.
"Cih, ternyata dia sama saja dengan wanita penggoda, sungguh menggelikan," Alex bersungut-sungut sambil memasuki mobilnya.
Seketika ia mengingat gadis kecilnya saat menghirup wangi parfum Amy yang tertinggal di ruangan mobil.
"Ha, aku merindukan gadis kecilku itu," gumam Alex dengan helaan nafas.
"Baiklah, mari kita pulang dan bermain dengan gadis mungilku? Bersiaplah, bunny, aku pulang." Alex pun kembali bersemangat untuk kembali ke apartemen, tanpa ia sadari kalau hari ini istrinya masuk sekolah dan memerintahkan kepada Amy untuk menunggu.
Alex kini berhenti saat lampu merah, ia melihat keluar yang cuaca terlihat mendung.
"Cuaca yang sangat mendukung untuk memeluk gadis kecilku," celetuk Alex yang semakin bersemangat.
Alex kembali melanjutkan mobil mewahnya itu saat lampu hijau dan benar saja, hujan pun mulai turun dan membasahi jalan dan kendaraan yang ada di sana.
Alex turun dari mobil saat tiba di parkiran apartemen. Pria tinggi itu berjalan menuju lift sambil bersiul senang.
Ia belum sadar dengan keberadaan istrinya itu yang entah apa yang terjadi dengannya.
"Sweetie … aku pulang!" Alex berteriak saat memasuki apartemen.
Pria itu tampak mengerutkan kening saat melihat suasana di dalam apartemennya sunyi dan gelap.
"Ke mana dia?" Tanyanya pelan sambil berjalan menuju kamar mereka.
"Bunny, kau …." Alex tidak dapat meneruskan ucapannya saat melihat keadaan kamar masih seperti tadi pagi.
__ADS_1
Pria itu terdiam sesaat dan ia merasa hal yang ia lupakan.
"Oh, s*hit." Pria itu mengumpat kasar saat baru tersadar istrinya ada dimana.
Alex melihat ponselnya yang sudah menunjukkan angka 6 sero.
"Sial." Sekali lagi pria itu mengumpat kasar saat baru sadar tidak memiliki nomor sang istri.
Alex pun segera berlari menuju pintu untuk menjemput istrinya itu. Wajah pria itu terlihat begitu panik.
"Oh, baby, maafkan aku melupakanmu," ucap pria itu lirih sambil melajukan kembali mobilnya.
Sementara Amy kini terlihat kedinginan, sebagai pakaiannya basah karena terkena terpaan hujan yang dibarengi angin kencang. Gadis itu duduk dengan kedua kakinya ia peluk. Tubuh mungilnya terlihat bergerak karena menggigil.
"Emak, baba, bapak Mr, Amy takut," gumam gadis itu saat melihat kilatan di atas langit disertai petir menghantam begitu menakutkan.
Amy hanya bisa meringkuk dengan tubuh menggigil, ia bahkan terlihat begitu lemas dan pucat.
Hingga tanpa sadar gadis itu tertidur di sana dengan kondisi yang begitu lemah.
Tidak lama kemudian, terlihat sebuah mobil berhenti di dekat gadis itu. Sebuah kaki panjang keluar, sosok pria tinggi berjalan mendekati gadis yang terlihat meringkuk di bangku halte.
Pria berwajah rupawan itu tersenyum sinis, ia menyerahkan payung yang ia pegang kepada supirnya, lalu mengangkat tubuh mungil itu di atas gendongannya.
Pria yang terlihat masih muda itu, berjalan menuju mobil dengan sopir yang setia melindunginya dari hujan dengan menggunakan payung.
"Apa dia istrinya?" Ternyata di dalam mobil terlihat juga sosok pria yang sudah berusia setengah abad. Pria itu menatap wajah Amy yang ada di pangkuan pria muda di sebelahnya dengan lekat.
Helaan nafas pun terdengar berat dari mulut sang pria dewasa itu.
"Kembali ke rumah!" Perintah sang tuan besar kepada supir dan masih menatap wajah Amy yang begitu lelap.
Pria itu membuka jas yang ia kenakan dan memakaikannya di tubuh Amy yang kedinginan
"Anak itu tidak pernah berubah, selalu saja ceroboh," ucap pria itu dengan wajah tampak kasihan melihat Amy.
__ADS_1
Sementara pria muda itu terus menatap lekat wajah pucat Amy yang ada di pangkuannya.