
Sejak hari itu, Zahrana enggan ikut Ajis ke kios. Dia lebih betah di rumah dan menyelesaikan novel-novelnya. Namun sesekali bila ia suntuk, ia akan merengek ikut untuk setengah hari saja.
Hari itu Zahrana terlihat memberengut memandangi bukunya. Stuck ide, sehingga bermalas-malasan lebih menyenangkan baginya.
Zahrana mencoba membaca novel online di aplikasi yang baru saja di downloadnya.
"Yaa Ampun, kok ceritanya bagus-bagus ya? Pembacanya juga banyak lagi... Pengen deh novel aku dibaca orang-orang juga..." Ucap Zahrana. Dia begitu kagum setelah membaca novel yang memang lagi booming di kalangan pembaca pada saat itu.
"Aku mau coba juga lah, mana tahu pembaca suka..."
Zahrana mengambil buku-bukunya yang telah dipenuhi novel-novel tulisannya sendiri, lalu menyalinnya ke dalam Hp-nya untuk dikirim ke platform itu.
"Kalau yang ini nggak usah deh, nanti Ari malah membacanya. Kan nggak enak... Ini benar-benar kisah nyata antara aku dan dia..." Zahrana kembali menutup sebuah buku dan menyimpannya lagi ke dalam laci.
Zahrana hanya mengirimkan beberapa episode untuk hari itu, dan sisanya akan dicicil nya esok-esoknya lagi.
"Pengen jajan..." Gumamnya.
Dia menelpon Ajis untuk meminta izin kepada suaminya itu hendak keluar rumah. Kebiasaannya yang selalu izin kepada suaminya apabila hendak keluar, meski hanya ke rumah bu Yanti sekalipun.
Assalamu'alaikum, Adik... ~Terdengar sahutan dari seberang.
"Wa'alaikum salam, Abang... Abang, Zahra mau keluar sebentar ya..." Ucapnya.
Iya. Hati-hati, Adik...
"Iya Hati-hati, iya hati-hati... Tanya juga lah mau kemana nya? Kalau Zahra cari suami baru, gimana?" Celoteh Zahrana berlagak kesal.
Hehe... Memang Adik mau kemana, hmm?~ Ajis malah terkekeh mendengar omelan Zahrana.
"Mau ke warung sebentar... Zahra mau jajan..." Ketusnya masih terdengar kesal.
Iya... Hati-hati, Adik... Jangan lupa baca do'a ya...
"Iya, Abang..."
__ADS_1
Lagian kalau Adik mau cari suami baru pun, Abang tidak akan percaya...
"kenapa?" Tanyanya heran.
Habis... Adik kan Sayang sama Abang...
"Hehe.. Iya, Zahra sayang sama Abang... Ya sudah, Zahra keluar sebentar ya, Abang... Assalamu'alaikum..." Pamitnya.
Wa'alaikum salam...
Zahrana memutuskan sambungan telponnya dengan Ajis, lalu bangkit hendak keluar rumah untuk memenuhi keinginannya tadi.
"Aaa..." Zahrana meringis kesakitan sambil memegangi bagian perutnya. "Kok tiba-tiba sakit gini ya? Apa aku mau halangan?" Gumamnya sambil memaksakan untuk berdiri.
"Hufhh... Alhamdulillah, udah hilang lagi sakitnya... Mungkin kualat habis marah-marah sama suami... Hehehe" Cengir nya seraya melanjutkan langkahnya.
Zahrana sampai di warung yang terletak hanya beberapa meter saja dari rumahnya. Ia membeli beberapa makanan seribuan dan minuman kaleng, hal itu sudah membuatnya senang alang kepalang.
Baru saja Zahrana hendak keluar dari warung itu, matanya dengan jeli melihat seorang perempuan muda berjalan dengan perut buncit.
"Wah... Sudah berapa bulan ini, Shin?" Tanya orang itu sambil mengelus pelan perut perempuan yang buncit tadi.
"Masuk tujuh bulan, Kak." Sahut perempuan hamil yang bernama Shinta.
"Berarti kamu cepat dikasih momongan ya?"
"Alhamdulillah, Kak... Satu bulan kosong setelah menikah..."
Zahrana menelan kasar saliva nya lalu matanya beralih memandangi perutnya yang masih datar.
Kenapa aku belum hamil?~ Gumam Zahrana. Wajahnya berubah murung seketika.
"Kak Zahra..." Panggil perempuan hamil itu membangunkan Zahrana dari lamunannya.
"Eh... Shi-Shinta?" Sahutnya gugup.
__ADS_1
"Kak Zahra dari mana?" Tanya Shinta lagi seraya mendekati posisi Zahrana berdiri.
"Ini Shin, dari warung... Habis belanja, pengen ngemil rasanya..." Jawab Zahrana berusaha sesantai mungkin.
"Owh... Kak Zahra kok jarang kelihatan sih? Sesekali main ke rumah Shinta kenapa?" Ujar Shinta tampak memberengut.
"Hehehe... Iya, Shin... Kakak coba-coba nulis novel online, lain kali kakak main ke rumah. Kalau Shinta butuh apa-apa, panggil saja kak Zahra... Kak Zahra ada di dalam rumah kok..." Ujar Zahrana beralasan.
"Iya, Kak Zahra... Kadang Shinta segan, nanti ada suami Kak Zahra. Kan nggak enak..." Celoteh Shinta.
"Bang Ajis setiap hari ke kios, Shin... Palingan habis Zuhur pulang sebentar buat makan, setelah itu bang Ajis balik lagi ke kios, dan pulangnya juga udah sore..." Tutur Zahra.
"Owh gitu ya, Kak..."
"Iya, Shin... Shinta mau ke rumah sekarang?" Tawar Zahrana.
"Nggak usah, Kak... Lain kali saja..." Elaknya.
"Ya sudah, kalau gitu Kak Zahra pamit dulu ya, Shin..."
"Iya, Kak Zahra..."
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam, Kak..."
Zahrana berlalu meninggalkan perempuan hamil itu yang merupakan tetangganya di perumahan dekat-dekat sana. Sejak pertemuannya dengan Shinta, Zahrana terlihat banyak murung. Ada rasa iri di hatinya, mengapa sampai saat itu ia belum kunjung memperoleh keturunan.
.
.
.
.
__ADS_1
.