SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
BERCERITA


__ADS_3

Zahrana dan Ajis bersiap untuk makan malam. Hari itu, suami Zahrana begitu lambat pulang dari kios, bahkan iya salat Maghrib di luar, katanya. Dikarenakan kios begitu ramai dari pagi ia buka, hingga sore ia tutup.


Barang kelontongan yang digeluti Ajis di kiosnya, tidak hanya melayani pembeli grosiran semata, melainkan juga untuk pembeli eceran.


"Bagaimana hari terakhir di lokasi syuting, Dik? Apa semuanya lancar?" Tanya Ajis memulai obrolan mereka di meja makan pada malam itu.


"Alhamdulillah, Abang... Semuanya lancar. Zahra jadi tidak sabar menunggu film-nya rilis..." Jawab Zahrana


"Abang minta maaf, ya... Abang nggak sempat baca novel Adik. Tapi Abang janji, Abang bakal sempatin nonton filmnya nanti..." Ucap Ajis berikrar.


Zahrana tersenyum untuk sesaat, lalu kembali menuangkan nasi untuk Ajis beserta lauknya. "Nggak apa-apa kok, Abang... Abang tidak Usah paksakan buat melakukan hal yang tidak Abang sukai, Abang 'kan tidak hobi menonton drama Romance begitu..."


"Kalau karangan dari Adik, pasti Abang suka..."


"Ya sudah, sekarang kita makan dulu ya, Abang... Pasti Abang sudah lapar..." Ajis mengangguk, lalu bersiap hendak menyantap nasi di hadapannya Seraya mengucap Bismillah. Namun suapannya terhenti seketika saat melihat porsi makanan di piring Zahrana.


"Kok nasi Adik sedikit sekali? Kayak makanan kucing saja..." Tukas Ajis keheranan.


"Huuss, Abang... Kok nasi Zahra disamain sama makanan kucing?" Sungut Zahrana protes.


"Habis, sedikit sekali, Dik... Memang bisa kenyang dengan makan segitu?"


"Tadi Zahra banyak ngemil barang Hidayat, jadi sekarang nggak terlalu lapar, Abang... Sebenarnya Zahra makan sekarang, hanya buat nemenin Abang makan saja. Sudah, ah... Gih, Abang makan... Nanti nasinya keburu dingin, nggak enak..." Ketus Zahrana masih terlihat bersungut kecil.


Ajis kemudian melanjutkan untuk menyantap makanan yang tadi sempat tertunda dan Zahrana pun menghembuskan napas lega. Iya Ikut menyuapi makanan di hadapannya dengan sedikit demi sedikit. Perutnya tiba-tiba merasa cepat kenyang, rasa mual juga ia tahankan agar tidak mengganggu suaminya yang sedang makan bersama nya dengan lahap.


"Abang pikir tidak ada masakan yang lezat selain masakan ibu Abang sendiri. Tapi alhamdulillah, masakan istri Abang juga sangat lezat. Sesuai dengan selera Abang.." Puji Ajis ketika nasi di piringnya hampir habis.


"Benarkah?"


"Hu-um... Adik tidak bisa belanja ke pasar, tapi kenapa bisa masak dengan selezat ini?"


"Walau tidak suka ke pasar buat bantu ibu belanja, bukan berarti Zahra tidak suka masak ketika di rumah ya, Abang... Zahra tidak suka ke pasar karena Zahra tidak suka keramaian. Zahra mendadak linglung kalau sudah berada di tengah-tengah kebisingan begitu..." Tukas Zahrana menjelaskan mengapa ia tidak suka berada di pasar.


"Hehehe... Pantas saja Adik tidak betah berlama-lama di kios ya..."


"Di lokasi syuting juga... Serasa stres jadinya, dan Alhamdulillah besok-besok sudah terbebas..." Tambahnya begitu lega usai membayangkan selama sebulan terakhir ia berada di lokasi syuting yang begitu hiruk oleh banyak suara-suara.

__ADS_1


"Pantai saja Adik suka, padahal 'kan ombaknya serta kicauan burung-burung di sana juga sangat bising..." Cetus Ajis blak-blakan


Sontak, Zahrana yang tadinya sudah mulai beberes, segera berjalan mendekati suaminya itu lagi. "Abang kok tahu Zahra suka ke pantai? Zahra, kan tidak pernah cerita sama Abang..." Tanyanya terlihat begitu terkejut mendengar ucapan suaminya itu.


Ajis tersenyum kecil, lalu memegangi lengan Zahrana. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Zahrana yang berdiri di sampingnya itu.


"Biasa saja, Adik... Kok wajah Adik tegang begitu?" Goda Ajis tak memberi jawaban atas pertanyaan Zahrana tadi.


"Iiih... Jawab dulu, Abang..."Desak Zahrana sambil mencubit pelan pipi Ajis.


Azis tergelak, lalu bangkit dari duduknya. "Ayo Abang bantu bereskan ini semua. Nanti abang cerita di kamar..." Ajak Ajis.


Zahrana mendengus, namun ia sama sekali tidak menolak ajakan suaminya itu.


*****


"Jadi gimana ceritanya, Abang bisa tahu Zahra suka pantai?" Kali itu Zahrana mendesak Ajis setelah ia membereskan tempat tidurnya, agar siap mereka tempati.


"Nggak bisa lupa, ya? Masih saja ditanya..." Dengus Ajis seraya ikut menyandarkan punggungnya ke kepala tempat tidur itu.


"Ayo, Abang... Ceritakan ke Zahra..." Rengek Zahrana lagi.


"Abang mau tanya apa, emang?"


"Adik tidak pernah kah bertemu Abang sebelum kita menikah?"


"Pernah..."


"Kapan?" Ajis begitu tercengang mendengar jawaban enteng dari Zahrana.


"Waktu Abang datang untuk melamar Zahra ke rumah bersama ayah dan ibu-nya Abang, serta bang Ihsan kala itu..." Celoteh Zahrana polos.


"Yaa Allah... Abang kira..."


"Abang kira, Bagaimana?" Potong Zahrana cepat.


"Sebelum itu, nggak pernah kah?" tanya Ajis lagi.

__ADS_1


Zahrana menggeleng pelan. "Enggak..."


"Kalau Abang, udah malah... Bahkan Abang sampai jatuh cinta dengan Adik, untuk pertama kali melihat wajah Adik pada waktu itu..."


"Kapan? Kok Zahra nggak tahu?" tanya Zahrana mulai berambisi mendengar cerita suaminya itu.


"Dulu waktu Abang masih bujangan, kios nggak terlalu ramai seperti saat setelah Abang menikah... Ya, mungkin karena keajaiban dari doa Adik lah Rezeki itu mengalir bagai air di Muara. Usia Abang sudah tiga puluh tahun, tapi tidak satupun perempuan yang membuat jantung Abang berdesir seperti setiap kali Abang melihat Adik..."


Zahrana tersenyum malu, wajahnya memerah mendengar pengakuan perasaan suaminya itu. "Sekarang masih begitukah?" Tanya Zarana malu-malu.


"Sekarang sudah tidak..."


Wajah Zahrana yang semula sumringah, kini berganti merengut. Tapi dengan cepat Ajis menggamit pipi Zahrana, dan bersiap hendak melanjutkan ceritanya.


"Getaran itu berubah jadi kerinduan setiap kali kita tak saling bersama. Walau Abanga hanya berada di kios..."


Zahrana kembali tersenyum, ia mencubit kecil pinggang Ajis, sehingga suaminya itu sedikit menggeliat karenanya.


"Adik malu?"


Zahrana mengangguk.


"Abang juga..." Ucap Ajis mengakui.


"Lanjutin..." Pinta Zahrana merengek tak sabaran.


"Jadi, karena kios tidak terlalu ramai waktu itu, Abang menerima tawaran Ihsan untuk main ke rumahnya. Abang kan kawan Setiduran dengan Ihsan waktu ngekos dulu. Sebelum ada modal, Abang juga sempat jadi karyawan di toko orang buat cari pengalaman dagang. Ihsan juga jadi karyawan di toko lain, tapi tempat kos kami sama.


Setelah Abang buka usaha sendiri, Abang dan Ihsan tetap berteman baik. Kami tetap sering main bareng, walau dia akhirnya memutuskan untuk menikah lebih dahulu dari Abang." Lanjut Ajis lagi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2