SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
BISMILLAH, MULA JATUH CINTA


__ADS_3

Flashback on


"Main-mainlah ke sini, Jis... Mentang-mentang kamu sudah sukses sekarang, kamu tidak mau lagi berkawan dengan saya tampaknya..." Ujar seseorang di balik telepon genggam yang menempel di telinganya.


Siang itu ketika sedang bersantai di meja kasir, Ajis mendapat telepon dari teman lamanya.


"Hahaha... Iya, iya, San... Saya memang sudah memiliki usaha sendiri sekarang, tapi bukan berarti saya sesukses seperti yang ada dalam pikiranmu itu. Kampung istrimu sangat jauh dari sini, San. Mungkin lusa insya Allah bisa saya sempatkan untuk mampir ke sana, kebetulan saya akan pulang ke rumah orang tua saya besok sore..."


"Baiklah, saya tunggu ya, Jis. Assalamualaikum..."


"Oke, San... Waalaikumsalam..."


^^^^^


Sesuai rencana dan janjinya terhadap teman lamanya itu, Ajis akhirnya bisa menyempatkan diri untuk mampir ke rumah istrinya Ihsan, tempat temannya itu sekarang tinggal. Kedatangannya disana merupakan untuk pertama kalinya ke desa itu, meski Desa itu bertetangga dengan Desa tempat rumah orang tuanya berada.


"Ternyata desanya Elok juga ya, San..." Puji Ajis terhadap desa itu ketika ia dan Ihsan menikmati pemandangan di desa itu Sore harinya.


"Tidak hanya desanya yang elok, Jis... Tapi para perempuannya juga cantik-cantik. Kamu saja yang tidak mau datang ke desa ini ketika saya mengadakan acara di rumah Yuli waktu itu..."


"Hahaha... Iyalah, kalau tidak cantik, mana mungkin kamu kecantol Yuli. Dan sekarang sudah menjadi istrimu pula, San. Kamu bahkan sampai jauh-jauh mengejar Yuli ke sini...


Ya, saya 'kan waktu itu baru merintis, San. Itu juga sudah Sukur bisa menghadiri acara mu di rumah orang tuamu yang lebih dekat dari tempat tinggal saya di sana." Sambungnya lagi.


"Hehe... Iya deh, saya paham... kamu kan ingin mencari bidadari, jadi kamu harus siapkan syurga dulu untuknya, bukan?" Ujar Ihsan sembari menepuk pelan bahu Ajis.


"Kamu ada-ada saja, San... Sebenarnya itu juga sih keinginan saya, tapi di lain hal, saya juga ingin membantu meringankan beban orang tua saya. Apalagi Maira kan baru masuk kuliah juga waktu itu, San..."


"Iya lah... Terus, bagaimana dengan usahamu di kios itu, Jis?"


"Alhamdulillah, San... Mulai ada peningkatan, cuma saja belum rame betul..."


Mereka terus berjalan menikmati indahnya sore di desa itu, hingga Ajis tersentak ketika matanya melihat pemandangan yang indah di depan sana. Lama ia terpana melihat tingkah seorang gadis yang sedang berlarian di tepi pantai itu bersama seekor kucing berwarna abu-abu.

__ADS_1


Gadis itu begitu riang dan tertawa lepas menikmati kejahilan kucing yang melompat girang ke sana ke mari di atas pasir pantai itu.


"Hey, Jis... Bengong saja..." Tepukan kecil tangan Ihsan di bawahnya menguraikan pandangannya kepada gadis itu.


"Oh... Hem... I-iya, San?" Sahutnya gugup.


"Naksir?" Tuding Ihsan membuat tingkah Ajis semakin gelagapan.


"Siapa gadis itu, San?" Tanya-nya untuk menyembunyikan salah tingkah dalam dirinya saat itu.


"Kata Yuli, namanya Zahrana. Dia tinggal di ujung jalan sana, Jis... Dia sangat suka sekali dengan pantai tampaknya. Setiap kali saya ajak Yuli jalan-jalan sore, kami hampir selalu melihatnya di sini. Yuli juga bilang bahwa dia gadis rumahan... Kalau nggak di pantai, ya di rumah..." Tutur Ihsan.


"Kenapa? Mau kenalan? Kalau iya, yuk kita samperin ke sana..." Ajak Ihsan terkesan bergegas.


"Ah tidak, San... Jika dia jodoh saya, saya mau langsung ke walinya saja nanti. Entah kenapa, saya tertarik..."


*****


Flashback off


"Abang malu..." Ungkap Ajis.


"Heeemmm..." Zahrana berdehem, ia mencolek pinggang Ajis untuk menggoda suaminya itu. "Sekarang, apa Abang masih malu kah?"


Ajis menggeliat kegelian, lalu menarik lengan Zahrana agar wajah mereka saling bersitatap.


"Kalau Adik, bagaimana? Kenapa mau saja menerima lamaran Abang, tanpa meminta waktu sedikit pun? Sementara Adik sebelumnya tidak pernah mengenal Abang..." Tanya Ajis begitu serius mengharapkan jawaban yang menyenangkan dari Zahrana.


"Karena bismillah..." Jawab Zahrana begitu enteng. Ajis semakin menatap Zahrana dengan tetapan kebingungan.


"Bismillah, merupakan kalimat yang Zahra yakini betul keajaibannya. Allah pasti memberi yang terbaik untuk hamba-Nya, jika hamba-Nya itu selalu mengingat nama-Nya di saat sebelum atau sesudah melakukan sesuatu." Tutur Zahrana melanjutkan ucapannya.


"Zahra pernah mendengar sebuah cerita, bahwa ada seorang istri yang suka sekali mengucapkan kalimat bismillah setiap akan memulai pekerjaan. Dan suaminya sangat tidak menyukai itu. Suaminya itu bahkan sampai menegurnya dengan mencela kalimat bismillah yang diucapkannya itu.

__ADS_1


'Apa yang kau banggakan dari kalimat itu, huh?', Ujar suaminya begitu marah.


Singkat cerita, pada suatu hari suaminya itu berniat akan mengerjai istrinya, karena sang istri tidak mau mendengar omelannya. Suaminya itu meminta ia menyimpankan uang kepada sang istri.


Suaminya itu berkata dalam hatinya 'akan ku buat kau menyesal dengan membaca kalimat itu'. Suami melihat sang istri menyimpan uang yang diberikannya di bawah kasur mereka, dan tak pula lupa mengucapkan kalimat bismillah.


Diam-diam, suaminya mengambil uang itu dan membuangnya ke dalam sumur. Beberapa hari setelah itu, suami meminta kembali uang yang disimpankannya kepada sang istri. Dan alangkah terkejutnya ia, ternyata uang itu masih utuh di bawah kasur mereka.


Sejak saat itu, suaminya sadar. Dan kebiasaan istrinya mengucapkan kalimat bismillah, jadi kebiasaannya juga."


"Maa Syaa Allah..." Desir Ajis begitu terharu mendengar cerita Zahrana.


"Jadi, apa Abang masih butuh kejelasan dari jawaban Zahra? Allah itu, Maha pembolak-balik hati hamba-Nya... Abang tahu betul itu, kan?"


Ajis mengangguk, "Iya, Adik... Berarti Adik menerima Abang, jelas karena Allah,,, ya?"


"Setelah menikah hingga sekarang, Zahra tidak pernah tahu bagaimana caranya berterima kasih kepada Allah yang telah mengirimkan Abang untuk Zahra..." Ungkap Zahrana dengan matanya mulai berlinangan air di permukaannya.


Ajis mengecup lama dahi Zahrana, lalu menarik lembut tubuh istrinya itu ke dalam dekapannya. Ia memeluk erat penuh keserakahan.


"Abang pun juga, Dik... Jika Abang boleh egois, Abang ingin terus bersama Adik sepanjang hidup Abang... Teruslah membaca bismillah bersama Abang, agar cinta kita sampai ke jannah..." Ucap Ajis lirih.


Zahrana terdengar terisak di dalam dekapan Ajis. Hatinya begitu perih merasakan hal yang dia sendiri tidak tahu apa.


"Zahra ingin terus sama Abang... Zahra sudah tidak butuh apa-apa selain Abang..." Isaknya lirih.


"Iya, Adik... Abang akan terus bersama Adik..." Ikrar Ajis semakin mempererat dekapannya ke tubuh Zahrana.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2