
Situasi memang sudah membaik, akan tetapi Zahrana masih saja merasa gusar. Hatinya begitu tidak tenang karena merindui suaminya. Sedari tadi ia uring-uringan di atas tempat tidur kamarnya, berusaha memejamkan mata lalu tidak sadar menemui alam mimpi, namun tetap tidak bisa.
Ia bahkan sudah telponan dengan Ajis tadinya, hanya saja kebiasaannya tidur dengan melihat wajah suaminya, merasa panggilan vidio tidak ada apa-apanya untuk menenangkan perasaannya saat itu.
Zahrana kembali duduk, ia menggaruk kepalanya dengan kasar karena dirinya merasa mulai jengah. Lalu ia meraih ponselnya yang terletak di samping bantalnya.
Ia membuka ponselnya itu, dan mengetik sesuatu di ruang pesan yang khusus akan dikirim kepada suaminya.
"Abang, Zahra tidak bisa tidur..." Tulisnya dengan wajah bersungut memandangi layar ponselnya itu.
Tidak lama, ponselnya bergetar. Ia begitu senang karena ia yakin suaminya membalas pesan darinya.
Namun kenyataan di luar harapannya.
"Arya?" Gumamnya dengan dahi mengerinyit tipis ketika membaca notifikasi pesan masuk di layar ponselnya itu. Dengan cepat, ia membuka pesan masuk yang merupakan kiriman dari artis sekaligus teman online-nya. Orang yang telah berjasa dalam hidupnya ketika ia dan keluarganya terpuruk akibat permasalahan-permasalahan ekonomi yang muncul dengan sekaligus kala itu.
"Hey, Penulis... Seminggu lagi akan diadakan konferensi pers untuk film kita... Kamu datang, kan?"
Setelah Zahrana membaca pesan dari Arya, ia jadi terlihat bingung sendiri.
"Ada keajaiban apa sehingga dia bicara sesopan ini? Apa perasaanku benar terhadap pandangannya?" Gumam Zahrana. Walau begitu, ia tetap menulis balasan.
"Insya Allah, aku sempatkan datang. Terima kasih..." Balasnya.
"Ok. Sampai ketemu disana..." Balas Arya lagi dengan waktu yang begitu cepat.
Zahrana hanya membacanya saja, ia tidak lagi membalas pesan dari Arya. Entah kenapa ia bergidik, lalu menonaktifkan ponselnya dengan buru-buru.
"Astaghfirullah hal Azhiim..." Ucapnya dengan bibir bergetar. Ia kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya, berharap dengan segera menemui alam mimpinya malam itu, meski pesan yang dikirimnya kepada Ajis tadi sama sekali belum mendapat balasan.
Sudah hampir setengah jam, Zahrana masih belum juga dapat tertidur. Ia bangkit lagi dari tidurnya, lalu cepat-cepat meraih ponselnya. Zahrana berniat hendak menekan tombol on ponsel itu, namun kembali urung. Ia menggeleng keras.
"Nanti Arya ngirim pesan lagi, 'kan nggak enak kalau nggak dibalas. Tapi kalau dibalas, aku jadi merasa berdosa sekali sama bang Ajis karena chattingan tengah malam begini sama lelaki lain." Ucapnya berkata-kata sendiri.
"Pinjam handphone Hidayat saja kali ya..." Pikirnya lagi.
Tanpa menunda-nunda, Zahrana bergegas bangkit dari tempat tidurnya menuju ke kamar adik bungsunya itu. Dengan mengetuk pelan pintu kamar Hidayat, Zahrana memanggil-manggil nama adiknya itu berulang kali.
Merasa tidak ada jawaban, Zahrana membuka sendiri pintu kamar yang tidak terkunci itu. Zahrana membangunkan Hidayat dengan mengguncang tubuh adiknya itu dengan paksa.
"Apa sih, Kak Zahra? Malam-malam begini ganggu saja..." Sungut Hidayat dengan malas dan mata masih terpejam.
"Pinjam Handphon kamu dong, Yat..." Pinta Zahrana memelas.
"Buat apa? Kok malam-malam masih main HP? Kakak tidur sana..."
"Pinjamin saja kenapa sih? Memangnya ada rahasia apa di dalam handphone kamu?" Sungut Zahrana mulai keletihan membangunkan Hidayat.
"Nggak ada, ambil saja... Tuh di atas meja..." Tunjuk Hidayat ke atas meja samping tempat tidurnya.
"Sandinya apa?"
__ADS_1
"Tanggal lahir Faiza..." Jawab Hidayat sembari mengelimuni diri kembali dengan selimutnya.
"Thank you, adekku sayang..." Ucap Zahrana kegirangan seraya keluar dari kamar Hidayat.
Sesampainya ia kembali di dalam kamarnya, ia langsung menelepon Ajis lewat panggilan vidio.
"Assalamu'alaikum, Adik..." Panggilan Zahrana terhubung. Wajahnya bersemu, sementara matanya berlinangan air di dalamnya. Perasaan rindu yang teramat dalam ia rasakan kepada suaminya itu, membuat ia pedih sendiri.
"Wa'alaikum salam..." Jawabnya terlihat bersungut.
"Handphone Adik kenapa tidak aktif?"
"Handphone Zahra mati, habis batrey..." Jawabnya berbohong.
"Owh... Tapi Adik kenapa belum tidur?" Tanya Ajis begitu khawatir.
"Nggak bisa... Bahkan kepala Zahra sudah terasa berat sekali malah, tapi mata Zahra nggak mau dipejamin. Zahra nggak bisa tidur, Abang..." Ia tersedu.
"Hey... Hey... Adik? Jangan menangis..." Bujuk Ajis.
"Zahra ngantuk, Abang... Zahra mau tidur... Tapi nggak bisa-bisa..." Sungutnya sembari mengusap air matanya dengan lengannya.
"Ambil baju Abang... Disana ada baju Abang yang Adik tinggal, kan?" Perintah Ajis.
"Ada... Abang tunggu ya..." Angguk Zahrana seraya bangkit dan berjalan kearah lemari pakaiannya.
Ia mengambil sehelai oblong yang biasa dikenakan Ajis di rumah itu setiap kali mereka pulang.
"Sudah..." Jawab Zahrana seraya menyodorkan oblong itu ke layar ponselnya.
"Sekarang Adik selimuti ke bantal guling, terus Adik berbaring sambil memeluk guling itu. Taruh HP di atas kepala, nanti Abang nyanyikan shalawat badar..." Ucap Ajis begitu lembut membujuk Zahrana.
"Baiklah, Zahra coba...Tapi kalau tidak bisa, Abang tunggu sampai Zahra tertidur ya..." Jawabnya.
"Iya, Adik... Abang janji..."
Zahra melakukan apa yang disuruhkan Ajis tadi. Ia berbaring sambil memeluk guling yang berselimutkan baju suaminya itu, lalu membaca do'a tidur.
Dia memejamkan matanya sambil menghayati lantunan shalawat badar yang begitu merdu dari Ajis.
"Shalaatullaah salaamullaah... alaa thooha rasuulillaah
Sholaatullaah salaamullaah... alaa Yaasin habiibillaah
Tawassalna bi Bismillaah... wabil Haaadi Rosulillaah
Wakulli mujaahidin lillaah... bi ahlil badri yaa Allaah
Ilaahi sallimi ummah... minal aafaati wanniqmah
wa min hammin wa min ghummah... bi ahlil badri yaa Allaah
__ADS_1
Ilaahi-ghfir wa akrimna binaili mathoolibin minna
wadafi masaa-ati 'anna... bi-ahlil badri yaa Allaah..."
Zahrana tertidur. Memang begitulah obatnya jika matanya sulit terpejam, sentuhan lembut dan dendangan halus suaminya yang membuat matanya bisa terkantuk-kantuk.
Tapi kali itu tidak ada sentuhan, hanya aroma khas tubuh suaminya yang masih melekat di oblong, dan nyanyian merdu suara suaminya di balik alat canggih pipih yang mampu membuat orang berjauhan jarak bisa terasa begitu dekat.
*****
Ajis.
Sejujurnya ia juga tidak dapat pisah untuk sesaat pun dengan Zahrana. Rasa rindu yang begitu dalam, membuat ia tidak dapat memejamkan mata lagi setelah tertidur dalam hitungan menit tadinya. Bahkan ia telah melaksanakan shalat tahajjud sekalipun, tetapi matanya tetap tidak mau terpejam lagi di kamar yang begitu asing bagi dirinya, tanpa Zahrananya.
Ia yang berpikir istrinya itu telah tertidur setelah mereka teleponan tadi, iseng membuka ponselnya kembali. Namun ia begitu khawatir ketika melihat pesan masuk dari istrinya itu.
"Sepertinya Adik mengirim pesan ketika aku ambil wudhu tadi... Ya Allah, kasihan istri hamba..."
Ajis menelepon Zahrana melalui panggilan video, namun ia berubah bingung ketika mendapati telepon istrinya sudah tidak aktif lagi.
"Kenapa tidak aktif, ya? Apa mati lampu disana?" Gumamnya semakin cemas.
Tak beberapa lama, ponselnya berdering.
"Hidayat?"
Takut terjadi sesuatu dengan istrinya, buru-buru ia menggeser tombol hijau di layar ponselnya itu.
Ia begitu bersyukur mendapati wajah Zahrana yang ada di layar itu. Istrinya ternyata juga tidak dapat tertidur. Hatinya begitu pedih melihat betapa kusutnya istrinya pada saat itu, namun ia terus berusaha tersenyum agar istrinya baik-baik saja.
Ia menyanyikan shalawat badar kesukaan istrinya agar istrinya benar-benar tenang dan dapat tertidur.
Belum habis ia menyanyikan shalawat badar, terdengar dengkuran halus dari Zahrana hingga ke tempatnya lewat handphone itu.
"Selamat tidur, Sayang... Semoga Allah mengirimkan banyak malaikat untuk melindungi Adik disana..." Ucapnya berdo'a. Kemudian ia mengakhiri panggilannya dan meletakkan ponselnya di atas nakas samping tempat tidurnya.
Sebelum tidur ia membuka ransel bawaannya, dan mengeluarkan pasmina yang biasa dipakai istrinya ketika di rumah. Ia diam-diam membawa pasmina itu tanpa sepengetahuan Zahrana sebelum berangkat kemarin.
Ia tersenyum, lalu menciumi aroma pasmina itu dalam-dalam. Ia mulai berbaring dengan berselimutkan pasmina istrinya itu di dadanya.
Ia juga dapat tertidur malam itu, seperti halnya Zahrana di rumah orang tuanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1