
"Assalamualaikum..." Ucap Ajis bersemangat ketika kakinya melangkah naik ke teras rumahnya. Spasang mata Ajis sudah menampaki sosok istrinya menunggu dengan kegirangan di balik pintu.
"Waalaikumussalam, Abang..." Sambut Zahrana dengan menyalami tangan Ajis. Seperti biasanya, jika mendengar suara mesin motor Ajis memasuki pekarangan rumah, Zahrana akan berlarian ke pintu rumah untuk menyambut kedatangan suaminya itu pulang bekerja.
"Abang kok tumben baru pulang? Kios juragan Abang ramai ya?" tanya Zahrana heran.
"Tidak, Adik... Tadi Abang ada urusan sebentar, makanya Abang lama pulangnya..." Sahut Ajis sembari mengelus lembut kepala Zahrana.
"Urusan ap..." Tiba-tiba, pandangan Zahrana tertumpu pada tangan suaminya yang tak kunjung keluar dari punggungnya.
"Abang... Kenapa tangan kiri Abang bersembunyi Terus? Abang bawa sesuatu kah?" Tanya Zahrana begitu Ingin tahu. Dia penasaran melihat tangan kiri suaminya itu selalu berada di belakang punggung.
"Iya, Dik... Abang bawa sesuatu untuk Adik. Semoga saja Adik senang dan suka..." sahut Ajis tanpa terlebih dahulu mengeluarkan Apa yang tengah disembunyikannya dari Zahrana.
"Abang bawa apa memangnya? Zahra kan sudah bilang, Abang tidak usah bawa apa-apa buat Zahra..." Ujar Zahrana merasa tidak enak hati.
"Kita duduk dulu ya..." Ajak Ajis sembari menggiring istrinya itu ke sofa.
"Apa sih, Abang? Zahra penasaran sekali nih..." Rengek Zahrana. Dia berusaha sedikit mengintip.
"Tunggu... Tunggu... Adik merem dulu dong?" Perintah Ajis mempertahankan barang bawaannya agar tidak dilihat dulu oleh istrinya itu.
"Merem?" Tanya Zahrana dengan dahi berkerut heran.
"Iya, merem... Adik merem dulu..." Ulang Ajis lagi.
"Tapi jangan kerjain Zahra ya... Zahra nggak mau dikejutkan..." Ucap Zahrana Seraya mengacungkan telunjuknya ke hadapan Ajis.
__ADS_1
"Iya..."
"Janji?"
"Iya, Adik... Abang janji..."
"Nggak biasa loh, Abang suruh Zahra tutup mata gini kalau mau kasih sesuatu..." Sungut Zahrana manja.
"Pengecualian untuk kali ini..." Ucap Ajis.
"Ya udah deh, Zahra merem..." Zahrana memejamkan matanya menunggu dengan tidak sabaran.
Ajis mengeluarkan tangan kirinya, lalu memperlihatkan sebuah benda berbentuk buku di hadapan Zahrana yang masih memejamkan mata pada saat itu. Ternyata Ajis membawakan istrinya itu novel yang sama dengan novel yang diperlihatkan juragannya tadi sewaktu di kios.
Setelah mengetahui siapa nama penulis novel itu, Ajis begitu yakin bahwa novel itu adalah karangan istrinya yang terkenal di pasaran. Maka dari itulah Ajis mati-matian mencari buku novel yang sama.
"Sekarang, Adik sudah boleh buka mata..." Perintah Ajis. Jantungnya ikut berdegup kencang, berharap istrinya itu akan senang menerima kejutan dari dirinya.
"I-ini?" Mata Zahrana berkaca-kaca seketika. Senyum pun mulai merekah di bibirnya itu.
"Ini kan novel Zahra, Abang... Abang dapat dari mana? Kok Abang bisa memiliki buku ini?" Tanyanya dengan banyak dan perasaan yang membuncah.
"Adik kenapa menangis?" Tanya Ajis seraya mengusap lembut pipi Zahrana yang sudah basah oleh air mata haru.
"Zahra senang, Abang... Zahra tidak percaya Abang bisa membawakan buku ini untuk Zahra..." Ujar Zahrana seraya memeluk Ajis, kemudian tersedu-sedu di dalam dada suaminya itu.
"Adik senang, tapi kok malah menangis? Sudah ya, Abang paling tidak bisa melihat air mata istrinya Abang... Adik kan tahu, Abang begitu lemah jika sudah melihat air mata bidadari Abang keluar..." Bujuk Ajis sembari mengelus punggung Zahrana. Menenangkan perasaan istrinya, yang ia yakini begitu pedih saat itu.
__ADS_1
"Zahra cuma terharu. Ternyata Abang begitu peduli pada karya Zahra. Zahra sangat senang, karena Abang bahkan tahu tentang novel Zahra..." Tutur Zahrana dengan air mata masih berjatuhan.
Deg.
Jantung Ajis berdegup. Dia sungguh malu mendengar perkataan istrinya itu. Sungguh, kalau bukan karena juragannya tadi, mungkin ia tidak akan tahu menahu soal novel yang ditulis Zahrana.
"Maafkan Abang ya, Adik... Abang tadi siang diperlihatkan oleh juragan Abang buku ini. Beliau suka baca novel juga. Terus Abang lihat penulisnya, dan Abang yakin ini adalah novelnya Adik. Abang terlambat pulang karena Abang mampir dulu ke toko buku buat cari buku ini. Ternyata banyak sekali yang ingin membelinya, sampai-sampai Abang harus mengantri terlebih dahulu." Tutur Ajis.
"Meskipun begitu, Zahra tetap berterima kasih sama Abang... Zahra merasa, bahwa Abang benar-benar mendukung Zahra sepenuhya." Ucap Zahrana mulai menyeka air matanya itu.
"Oh ya, Adik. Tadi juragan Abang tanya, Adik nulis novel online di applikasi apa? Terus apa nama pena Adik?" Tanya Ajis menyampaikan pesan dari juragannya tadi.
"Oh... Zahra nulis di applikasi XX, Abang... Nama pena Zahra, 'Abang_Adik'..." Ujar Zahrana begitu bersemangat.
"Besok Abang beri tahu juragan Abang. Maaf ya Adik, Abang belum sempat membaca dan mengetahui tulisan Adik..."
"Tidak mengapa, Abang... Zahra tahu Abang sibuk, dan pulang kerja, Abang juga sudah kelelahan."
"Terima kasih, Adik sudah mengerti Abang..." Ucap Ajis. Zahrana mengangguk, lalu Ajis mengecup dahi Zahrana begitu lama.
Entah suami semacam apa Abang ini, Dik? Abang sampai merasakan kecemburuan segala terhadap bidadari Abang yang padahal selalu menjaga kepercayaan Abang. Bahkan nama pena dan nama penulis di novel karangan Adik, tidak terlepas dari Abang...
.
.
.
__ADS_1
.
.