
Enam tahun berlalu sejak ikrar di antara mereka terjalin. Aridiansyah kembali menemui Zahrana untuk mengatakan bahwa dirinya telah mendapat pekerjaan tetap di sebuah perusahaan besar. Dia begitu bersemangat untuk niatnya yang hendak mengutarakan perasaannya kepada Gadis itu.
Aridiansyah sendiri tidak pernah tahu kapan perasaan cintanya mulai tumbuh. Tetapi baginya, perasaan itu sudah ada ketika ia baru mengenal makna cinta, kebersamaan dan sebuah hubungan.
Mereka masih bisu setelah beberapa saat Aridiansyah kembali mencoba merangkai kata-kata di dalam hatinya. Sementara Zahrana, ia masih menunggu penjelasan lebih dari Ari.
"Aku tidak pernah tahu kapan aku merasakan perasaan ini, Zahra. Aku pikir, dulu aku hanya membual tanpa alasan. Mencoba mengikuti kata hati yang pada saat itu aku rasakan bergemuruh bagai ombak sana. Tapi perasaan itu semakin lama semakin membesar di dalam dadaku. Banyak perempuan yang aku temui di luaran sana, tapi hanya kamu yang ada dalam pikiranku.
Zahrana tercenung, dia masih gadis yang sama, polos dan tidak mengerti apa itu perasaan cinta yang sesungguhnya. Dia juga tidak menyahuti ucapan demi ucapan yang diutarakan Ari terhadapnya. Dia lebih memilih diam dan terus menunggu sambungan kata indah dari Aridiansyah yang juga mampu membuat hatinya merasakan sesuatu yang beda.
Zahrana tersanjung. Perasaannya itu ada, karena ia tidak pernah mendengar kata-kata seperti itu sebelumnya dari siapa pun, dan lelaki mana pun. Dia terlalu menutup diri sebagai gadis di tempat tinggalnya.
"Lambat laun aku menyadari ini bukan hanya sebatas rindu, tapi karena aku mencintaimu, Zahra... Empat tahun aku mencoba memahami perasaanku. Akan tetapi tetap saja kamu adalah jawaban dari setiap pertanyaan yang aku coba pahami itu, hingga akhirnya aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengan seorang mahasiswi di kampusku.
Yang ada, aku hanya terus menyakitinya. Setiap kali pertemuan kami, aku hanya akan terus membandingkan antara kamu dengan dirinya. Mengaturnya agar dia terlihat seperti kamu. Setiap kali kami bicara, aku hanya bercerita tentang kamu kepadanya..." Ari tertawa kecil mengenang hal itu sebelum ia melanjutkan kembali ceritanya.
__ADS_1
"Konyol, bukan? Tapi aku pikir dia cukup sabar. Hubungan kami bertahan selama dua tahun lebih malah, dan kurang ajar nya aku, aku tidak juga menyadari kesalahanku sebagai kekasihnya. Dia perempuan biasa yang juga punya perasaan.
Hubungan kami berakhir tanpa ada momen ataupun kenangan yang berarti. Tapi aku salut dengan dirinya. Dia gadis baik, meski dia tidak seperti kamu. Dia Iklaskan aku dan mau memaafkan aku setelah hubungan kami berakhir. Dia juga mendo'akan aku, agar aku selalu bahagia.
Aku berpikir, mungkin aku tidak akan pernah bahagia jika aku masih mencoba menjalin hubungan dengan gadis lain. Karena aku yakin kamulah cerita jalan hidupku, Zahra... Maka Karena itulah aku menemuimu, dan memintamu untuk menerimaku. Kita akan membuat cerita-cerita yang baru sebagai sambungan cerita-cerita kita yang lama..." Tutur Aridiansyah panjang lebar mengutarakan perasaannya.
"Maksud kamu?" Zahrana bertingkah seperti gadis yang benar-benar tidak mengerti. Lebih tepatnya, dia pura-pura tidak mengerti.
Dia sendiri tahu Aridiansyah masih tetap bisa berteman dengannya karena keras kepalanya lelaki itu. Berulang kali ibunya wanti-wanti untuk tidak terus bersama zahrana, hanya saja ancamannya sebagai anak membuat ibunya bergeming dan pasrah.
Zahrana masih ingat betul ketika ibu Ari marah besar kala itu. Ibu Ari melihat mereka bersama sepulang dari sekolah. Masa dimana mereka masih berpakaian putih biru pada saat itu.
Zahrana yang menyaksikan itu sendiri, tidak mampu berbuat apa-apa selain mendengar banyak kata-kata makian yang keluar dari mulut Ibu Ari tentang keluarganya.
"Jika Ibu tidak izinkan Ari bermain bersama Zahra, maka ibu harus berhenti bekerja dan temani Ari di rumah..." Tegas Ari dengan wajahnya memerah karena marah.
__ADS_1
Sebenarnya Ari bukanlah anak yang pembangkang, hanya saja Aridiansyah kurang kasih sayang dari orang tuanya, sehingga ia berkata begitu keras kepada ibunya.
Selama itu ia hanya mengenal Zahrana dan keluarganya yang menyayangi dirinya dengan penuh cinta dan kasih. Dari keluarga Zahrana lah ia menemukan ketulusan.
Pada saat usianya baru satu bulan, Ari sudah dititipkan kepada Bu Zainab, ibunya Zahrana. Yang pada saat itu bu Zainab juga baru semingguan melahirkan Zahrana.
Ardiansyah diasuh oleh bu Zainab hingga ia berumur dua tahun, dan selama itu ibu kandungnya hanya melihat dirinya sesekali. Bahkan terkadang dalam sebulan hanya sekali.
Orang tua Ari merupakan orang yang sangat sibuk. Ibunya perempuan berkarir dan bergaul dengan wanita-wanita Elite. Hal itu membuat Ari kurang kasih sayang dan mengartikan perasaannya kepada Zahrana adalah sebuah perasaan yang berbeda.
.
.
.
__ADS_1
.
.