SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
SUAMI MACAM APA AKU?


__ADS_3

Setelah telepon berakhir, Ajis juga meletakkan ponselnya di dadanya. Wajahnya tampak murung seketika.


Yaa Allah... Ampuni hamba... Hamba bahkan tidak bisa berbuat apa-apa untuk kebahagiaan istri hamba. Tetapi istri hamba begitu bahagia sekali hari ini Ya Allah. Dan menyakitkannya, di balik kebahagiaan istri hamba itu, ada lelaki lain yang membantu dirinya.


Sungguh, hamba berdosa karena hamba merasa cemburu Ya Allah... Tidak sepantasnya perasaan ini ada di dalam hati hamba, karena saat ini istri hamba sedang bahagia menikmati keberhasilannya atas kerja kerasnya selama ini untuk membantu hamba bangkit dari kesulitan. Hamba tahu, istri hamba melakukan itu semua demi hamba. Jangan biarkan hamba malah menyakiti istri hamba karena perasaan cemburu ini Yaa Allah...


Ajis terlihat melamun setelah menerima telepon dari Zahrana barusan. Dia menjadi tak bersemangat mendengar keberhasilan istrinya sendiri.


"Woi, Jis! Melamun saja... Ada masalah, heh?" Tanya seseorang membuyarkan lamunan Ajis.


"Eh, Ju-juragan... Tidak, juragan... Tadi istri saya menelepon, dia memberitahukan kepada saya kabar bahagia, juragan..." Tutur Ajis begitu akrab.


"Wah! Kabar bahagia apa tuh, Jis?. Itu pun kalau saya boleh tahu..." Tanya Juragannya juga tampak begitu akrab denga dirinya.


"Novel yang ditulis istri saya termasuk best seller, juragan... Baru sebulan ini ia menyerahkan naskahnya ke sebuah penerbit, tapi sudah lebih dari seribu eksemplar yang terjual." Tutur Ajis menjelaskannya.


"Waw... Hebat ya istrimu... Apa judul novel yang ditulis istrimu itu, Jis? Kebetulan saya juga suka baca... Nanti saya akan cari di toko-toko buku. Penasaran saya..." Juragan Ajis ikut senang, dan bahkan sampai mempertanyakan judul novel istrinya itu dengan antusias.


"Sa-saya tidak tahu, juragan... Saya bahkan belum sempat menanyainya..." Jawab Ajis gugup dan malu.


"Yah, bagaimana kamu ini, Jis? Seharusnya kamu tanyakan sedikit juga usaha istrimu itu, biar nampak kamu itu peduli dan menyemangatinya. Suami macam apa kamu ini?" Decak Juragan seolah kecewa ketika mendengar jawaban Ajis.


Deg.

__ADS_1


Hati Ajis tersinggung. Namun ia merasa bersalah juga setelah mendengar penuturan juragannya itu. Memang selama ini dia mengatakan kepada istrinya, bahwa ia sangat peduli, tapi bahkan dia tidak tahu apa-apa tentang usaha istrinya itu. Ya, suami macam apa dirinya? Masih pantaskah ia cemburu? Di sisi lain, ia bahkan seolah tidak tahu menahu akan usaha istrinya untuk sedikit pun juga.


Dia hanya sibuk dengan dirinya, keterpurukannya, dan memikirkan nasib kuliah adiknya. Sikap istrinya yang tidak banyak mau, membuat dirinya lupa bahwa istrinya itu juga butuh kesenangan materi yang harus ia perhatikan


Ajis menjadi menyesal karenanya. Wajar saja jika istrinya berhasil, namun orang lain di balik keberhasilan istrinya itu. Sementara dirinya, bahkan untuk mengetahui judul novel yang ditulis istrinya itu saja tidak. Karena dia bahkan sama sekali tidak menanyai apa pun kecuali hanya menikmati hasilnya saja semenjak dari Zahrananya memulai menulis novel online kala itu.


"Tahu tidak, Jis... Saya baru saja menamatkan baca sebuah buku novel semalam. Saya menjadi menyesal, kenapa saya bukan orang pertama yang membaca novelnya. Ceritanya bagus sekali, Jis. Judulnya 'BUKAN SALAH IBU MENYUSUI'." Juragan itu memperlihatkan sebuah buku novel dengan cover gambar perempuan berhijab membelakangi seorang lelaki.


Mata Ajis membulat ketika membaca nama pengarangnya. 'Ajis Habibah Marwan'.


Apa ini kah novelnya Zahrana? ~ Batin Ajis.


"Yaa Ampun, Jis... Ceritanya bagus sekali... Kisah sepasang kekasih yang terhalang hubungannya, dan berakhir begitu saja. Padahal mereka saling mencintai... Awalnya saya kira antara hubungan ibu dengan anak. Anak yang durhaka, atau apalah. Tetapi bukan..." Tutur juragan begitu bersemangat menceritakan sedikit sinopsis dalam novel yang ia perlihatkan kepada Ajis.


"Sudah, Jis. Saya menamatkannya dalam semalam. Sampai saya begadang karenanya." Sahut juragan itu dengan bangganya.


"Juragan belinya dimana?" Tanya Ajis begitu ingin tahu sekali.


"Di toko buku seberang... Kenapa? Kamu mau beli?"


"Iya, Juragan... Mana tahu saja, istri saya dapat referensi dari buku ini..." Ujar Ajis.


"Wah, bagus juga tuh, Jis... Nanti jangan lupa tanyakan istrimu judul novelnya. Saya mau baca..."

__ADS_1


"Baik, juragan... Oh ya, juragan... Istri saya sebelumnya juga penulis novel online. Mungkin saja juragan juga mau baca..." Tawar Ajis.


"Iya... Saya mau baca jika kamu sudah memberi tahu saya judul novelnya, atau setidaknya nama penanya. Dan di applikasi mana? Saya yakin kamu juga tidak tahu itu, kan?"


Ajis terdiam. Ucapan juragannya itu seakan terdengar mengejek bagi dirinya.


"Iya, juragan Besok saya tanyakan." Ajis menunduk malu.


"Ya, sudah... Sekarang kamu lanjut kerja. Saya juga mau baca novel online di hp saya. Ada satu penulis yang baru saya temui di applikasi novel online, yang menjadi favorit saya akhir-akhir ini."


"Baik, juragan..." Angguk Ajis.


Dia benar-benar malu dan merasa berdosa terhadap istrinya setelah mendengar penuturan juragannya itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2