
"Kak Zahra..." Panggil Hidayat dengan mengurangi kecepatan laju motornya saat itu.
"Iya... Kenapa, Dek?" Tanya Zahrana dari balik helm yang dipakainya.
"Kak Zahra nggak pernah bilang ke kami kalau kios Bang Azis terbakar..." Tanya Hidayat begitu kecewa.
"Oh itu... Hemm, nggak apa-apa, Dek... Untuk apa kak Zahra harus bilang? Yang penting sekkarang, semua sudah baik-baik saja, kan?" Zahrana gugup. Ia berusaha menyikapi pertanyaan adiknya itu dengan santai. Sebenarnya, dia merasa tidak enak karena Hidayat bisa mengetahui perihal itu bukan dari dirinya secara langsung.
"Kenapa begitu, Kak? Tidak baik untuk kesehatan Kak Zahra, jika Kak Zahra memendam sendiri beban perasaan Kak Zahra... Kalau tahu begini, Hidayat Jadi menyesal sudah menceritakan permasalahan yang terjadi di rumah. Sementara Kak Zahra sendiri tidak mau berbagi kepada kami, tentang permasalahan yang kak Zahra alami bersama suami Kakak..." Ucap Hidayat terdengar kecewa.
"Jangan begitu, Dek... Maafin Kakak... Kakak bukan bermaksud menyembunyikannya dari kalian semua, tapi apa untungnya jika Kakak menceritakannya? Bukankah hanya akan menambah beban ayah dan ibu saja?" Tutur Zahrana menyesal. Dia takut, ucapan Hidayat begitu mengancam baginya.
"Iya, Kak... Tapi Kak Zahra menyimpan semuanya sendiri. Bahkan tentang masalah kita, Kak Zahra sama sekali tidak membaginya kepada Bang AJis, suami kakak sendiri loh..." Keluh Hidayat masih belum terima dengan sikap kakaknya itu.
"Dek... Kakak mohon, mengertilah... Adek kan tahu kios bang Ajis kebakaran. Awalnya Kakak berniat hendak mengadukan permasalahan kak Rianur kepada Bang Ajis, tapi malah kabar buruk itu yang Kakak terima siangnya. Dan nggak mungkin kan, jika Kak Zahra cerita sama Bang Ajis apa yang terjadi. Kak Zahra malah akan menambah beban bang Ajis, dan Bang Ajis juga akan merasa bersalah karena tidak bisa membantu ayah dan ibu untuk menebus rumah kita yang tergadai ulah kak Rianur..." Ujar Zahrana.
Hidayat terdiam. Apapun alasan kakaknya, yang dia tahu kakaknya itu manusia terbaik. Selalu berkorban untuk siapapun, terlebih untuk orang-orang yang disayangi oleh kakaknya itu.
"Kak Zahra..." Panggil Hidayat lagi. Namun panggilannya kini mulai melunak.
"Hmm?"
"Kemarin pas Hidayat telepon ke rumah, ayah dan ibu sangat bersyukur sekali lho kak... Ayah dan ibu sangat senang Kak Zahra memberi uang untuk penebusan rumah kita. Hiadayat sampai nangis dengarnya."
"Iya, Kak Zahra tahu... Entah kenapa, Kak Zahra jadi merasa Dewi penyelamat, Dek... Kak Zahra takut bakalan menjadi orang yang riya dan sombong..." Ujar Zahrana.
"Jadi karena itu Kak Zahra cepat-cepat mematikan telepon setelah memberitahukan kepada ayah dan ibu kalau kakak habis mengirimkan uang?" Hidayat mulai paham, mengapa kakaknya itu tidak mendengarkan apa pun ucapan orang tua mereka setelah memberitahukan kalau ia mengirim uang ke rekening Ayahnya, dan hal itu yang diceritakan ibunya kemarin kepada dirinya.
"Ya, begitulah..." Sahut Zahrana berlagak santai.
"Kak Zahra..." Panggil Hidayat lagi.
"Hmmm?"
__ADS_1
"Hidayat pengen juga jadi anak kebanggaan ayah dan ibu seperti Kak Zahra... Bisa nggak ya, Kak?" Tanyanya.
"Apa sih, dek? Nggak segitunya kok... Kamu nggak ingat? Dulu Kakak pernah jadi pembangkang hanya karena cinta-cintaan..." Ujar Zahrana tampak mengenang, namun ia seperti merasa bersalah akan hal itu.
"Itu kan dulu, Kak... Pada akhirnya Kakak menyerah demi ayah dan ibu, kan? Kak Zahra paling tidak bisa melihat ayah dan ibu bersedih. Kak Zahra selalu mengorbankan kebahagiaan Kakak demi kebaikan bersama..."
"Jangan terlalu memuji... Kakak ini manusia biasa yang bisa saja menjadi keras kepala. Nanti Kak Zahra bisa-bisa jadi pongah loh..." Ucap Zahrana merasa risih mendengar pujian Hidayat terhadap dirinya.
"Hehehe... Nggak yakin Hidayat... Tapi, Kak Zahra... Emangnya Bang Ajis tidak tahu kalau Kakak ngirimin uang ke ayah kemarin?" Tanya Hidayat lagi.
"Nggak, Dek... Kakak belum siap memberi tahu Bang Ajis. Dan kakak rasa, kakak tidak akan pernah siap untuk itu..." Jawab Zahrana.
"Berarti banyak ya Kak, penghasilan Kak Zahra dari novel ini?" Tanya Hidayat ingin tahu.
"Alhamdulillah, Dek... Cukup buat tebus rumah kita, dan juga buat modal usaha Bang Azis lagi..." Jawab Zahrana.
"Kak Zahra..."
"Apa lagi sih, Dek?" Ketus Zahrana berpura-pura jengah.
"Ih... Apaan sih, Dek? Jangan bilang-bilang ya..." Dengus Zahrana.
"Bilang apa?"
"Apa pun... Pokoknya kamu nggak boleh bilang apa-apa tentang kegilaan Kakak di masa lalu..." Tekan Zahrana.
"Kenapa Kak?" Tanya Hidayat berlagak tak tahu.
"Pokoknya enggak boleh..."
"Jadi Kak Zahra nggak bilang yang sebenarnya kepada Arya Irawan itu?" Tanya Hidayat terlihat tidak percaya.
"Udah nggak penting..."
__ADS_1
"Kok nggak penting? Memangnya Kakak udah lupa?"
"Sudah..."
"Hidayat buang ya, barang-barang Kak Zahra waktu gadis?" Tantang Hidayat menguji keyakinan kakaknya itu.
"Buang saja..."
"Beneran, Kak?"
"Iya, Dek... Beneran lah..."
"Dulu aja nangis-nangis... Sampai Kak Zahra mohon-mohon sama Hidayat, agar menyimpannya baik-baik." Ujar Hidayat mencandai Zahrana
"Itu kan dulu. Sekarang nggak... Kakak sudah punya Bang Ajis, suami Dunia Akhirat Kakak..." Ujar Zahrana membangga.
"Ya lah... Mentang-mentang sudah punya suami yang baik, yang ganteng dilupakan saja..." Goda Hidayat terdengar mengejek.
"Apaan sih, Dek? Semua sudah Kakak lupakan semenjak kakak telah sah menjadi istri Bang Ajis..." Celutuk Zahrana yakin.
"Beneran?"
"Iya...Sekarang fokus bawa motornya. Dari Google Map, sepertinya sedikit lagi kita sampai di sana... janji ya, jangan bilang-bilang..." Ulang Zahrana meminta adiknya untuk tidak bicara apa-apa ketika mereka sampai di lokasi syuting.
"Iya-iya, Kak Zahra yang baik..." Cengir Hidayat mulai melajukan motornya dengan kecepatan lebih tinggi.
.
.
.
.
__ADS_1
.