
Dengan tangan gemetar, Zahrana memegang handel pintu rumahnya. Pandangannya menunduk berusaha menguatkan jiwanya, agar ia mampu menatap suaminya nanti di dalam. Ia seolah baru saja tertangkap basah melakukan perbuatan dosa, dan siap disidang siang itu juga.
Ingatannya tiba-tiba tertuju pada obat-obatan yang berserakan di lantai kamarnya tadi.
Astaghfirullah... Apa bang Ajis sudah menemukannya? Yaa Allah, bagaimana ini?
Rasa cemas mendorongnya bersegera. Ia menekan handel pintu itu dengan kuat, sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.
"Assalamu'alaikum..." Ucapnya dengan tubuh yang sebagian telah terjerembab ke dalam rumah.
"Wa'alaikum salam..." Suara Ajis terdengar menyahut. Suaminya itu ternyata tengah duduk di sofa ruang utama, jelas sekali sedang menunggui dirinya.
"A-abang?" Zahrana gugup. Ia perlahan mendekat kearah suaminya itu.
"Abang sudah pulang?" Tanya Zahrana berusaha bersikap sesantai mungkin.
"Bagaimana pertemuan Adik dengan artis terkenal itu?" Tanya berbalas tanya. Tatapan Ajis begitu kuat. Rautnya pun garang seolah dipenuhi amarah besar.
"Eh? I-itu... Emmm ternyata tidak terlalu penting, Abang..." Jawab Zahrana penuh ketakutan.
Ajis bangkit dari duduknya. "Hidayat mana? Apa Adik jadi pergi bersama dia?" Ajis terus menanyai Zahrana dengan pertanyaan yang memojokkan. Ia berjalan perlahan mendekati istrinya itu.
"Hidayat? Owh... Hidayat tadi ada, Bang... Dia kan tidak bisa menjemput Zahra, karena motornya masih di bengkel. Jadi, dia kesananya naik taxi, sedangkan Zahra naik ojek pak Dullah... Cuman..."
"Bohooong..." Potong Ajis cepat.
Zahrana terkejut. Tubuhnya semakin bergetar hebat mendengar bentakan Ajis untuk pertama kalinya kepada dirinya, karena selama pernikahan mereka, Ajis selalu berkata dan memeperlakukannya dengan lembut.
__ADS_1
"Za-Zahra tidak bo-bohong, Abang..." Jawab Zahrana terbata-bata.
"Tidak ada Hidayat disana... Adik hanya berdua dengan lelaki itu." Kecam Ajis. Ia membuang muka lalu mengusap kasar kepalanya.
"Apa ini, Dik? Kenapa Adik melakukan ini kepada Abang? Kenapa Adik berkhianat?" Ajis bertanya tanpa berani menatap Zahrana. Hatinya begitu sakit menyimpulkan itu semua yang hanya sesuai dengan penglihatannya semata.
Zahrana menggeleng. Air matanya berjatuhan ketika mendengar suaminya itu menuduh dirinya telah berkhianat.
"Adik tidak jadi mengajak Hidayat, kan? Adik sengaja meminta Abang untuk ikut hanya demi menyembunyikan kebohongan Adik, kan? Adik kan seorang novelis, ya memang pintar pula mengarang keadaan..." Ketus Ajis dengan nada menyindir.
"Ya, ya... Dia lebih muda... Dia lebih tampan... Dia lebih kaya... Bersamanya Adik tidak susah, sementara bersama Abang? Bahkan Adik harus menanggung semuanya, termasuk membelanjai keluarga Abang... Bersamanya Adik menemukan segalanya... Adik juga bisa memiliki keturunan dengannya, tidak seperti Abang yang lemah... Dia kelihatannya cukup perkasa... Pantas saja Adik melarang Abang meminum pil itu..." Ucap Ajis lagi semakin membabi buta. Rasa cemburunya yang membuat ia berkata seperti itu, sehingga tanpa sadar ia telah menyakiti perasaan Zahrana terlalu dalam.
Kata-kata yang keluar dari mulutnya jelas seolah menuduh Zahrana sebagai perempuan matrealistis dan terlalu rendahan. Ia bahkan seolah menutup kesempatan untuk Zahrana berbicara dan menjelaskan semua yang telah terjadi.
Bagi Ajis, apa yang dilihat dan didengarnya tadi, sudah cukup menyimpulkan bahwa Zahrana memang telah berkhianat darinya.
Zahrana menggigil, rasa sakit di perutnya tiba-tiba datang kembali, namun belum mampu mengalahkan rasa sakit di hatinya. Pandangannya kabur, semua hanya terlihat membayang oleh matanya.
Ia memegang bahu Zahrana lalu mengecup dahi Zahrana begitu lama. Setelah itu ia malah membuang ludah seolah Zahrana sudah begitu menjijikkan baginya.
"Zahrana Habibah Marwan, Hari ini aku jatuhkan..." Ucapan Ajis tiba-tiba terpotong. Tangan Zahrana telah terlebih dahulu membekap mulutnya, menghentikan ucapannya yang hanya akan membuat ia menyesal seumur hidupnya.
"Demi Allah dan Rasulullah, Abang... Di dalam hati Zahra masih ada Tuhan kita, sehingga tidak mudah bagi Zara untuk meruntuhkan puing-puing cinta dalam bismillah yang telah Zahra bangun dari sejak awal pernikahan kita. Zahra merasakan surga dalam cinta ini, Abang... Zahra hanya mencintai abang seorang... Zahra rela bersumpah demi cinta ini..." Air mata Zahrana dengan deras berjatuhan membasahi sebagian wajahnya.
Rasa sakit yang ditanggungnya saat itu, sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan merasakan sakit saat melihat kemurkaan di wajah suaminya. Tangannya masih membekap mulut Ajis yang hampir menjatuhkan talak untuknya.
Air mata Ajis tak kalah banyak keluar ketika melihat istri tercintanya itu menangis pilu dan tersedu-sedu di hadapannya. Rasa berdosa seketika menggerayang perasaannya.
__ADS_1
"Zahra rela Abang menikah lagi, mencari kebahagiaan dengan memiliki keturunan bersama perempuan lain, asal jangan talak Zahra... Sungguh, abang... Zahra hanya mencintai Abang... Tolong biarkan Zahra bersama abang hingga akhir hidup Zahra..."
Napas Zahrana tersengal. Rasa sakit yang ditanggungnya semakin besar. Zahrana perlahan melepas tangannya dari bibir Ajis. Tubuhnya hampir ambruk, beruntung Ajis dengan tanggap menahan, hingga Zahrana terjatuh ke dalam dekapan Ajis sendiri.
"Adik..." Panggil Ajis sembari menggoyang-goyangkan bahu Zahrana. "Adik, jangan bercanda... Bangunlah, Adik..." Ulangnya lagi.
BRUUUK...
Seseorang menghentakkan pintu dengan keras dari luar.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam... Hidayat?" Ajis begitu tercengang mendapati adik iparnya yang datang begitu tiba-tiba.
"Bang Ajis, tunggu apa lagi? Kak Zahra sakit, ayo bawa kak Zahra ke rumah sakit, Bang..." Bentak Hidayat dengan keras. Air mata Hidayat telah menggenang di pelupuk matanya. Ia menarik kakaknya ke dalam dekapannya dan menunjukkan sikap marah kepada Ajis.
"Carikan taxi segera, Bang..." Perintah Hidayat lagi.
Ajis yang tidak mengerti apa-apa, hanya menurut. Ia membiarkan Zahrana di gendong oleh Hidayat keluar dari rumahnya.
Ketika mereka telah menemukan taxi, Hidayat meminta Ajis untuk merangkul Zahrana di bangku belakang, sementara Hidayat duduk di sebelah sopir.
.
.
.
__ADS_1
.
.