SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
TENTANG CINTA PERTAMA


__ADS_3

Zahrana mengerjapkan matanya dengan perlahan. Pandangannya masih saja kabur. Tiba-tiba ingatannya kembali pada saat dirinya ditatar habis oleh suaminya kemarin sore sebelum ia tak sadarkan diri.


"A-bang..." Panggilnya lirih dengan suara berbisik nyaris tak terdengar. Ia terlihat begitu panik.


Ajis tersentak. Dengan segera ia mengangkat wajahnya dan melihat kearah istrinya.


"Abang..." Ulang Zahrana. Tiba-tiba wajahnya kembali tenang ketika ia menyadari tangan suaminya itu tengah menggenggam tangannya. Ia malah semakin menguatkan genggaman tangannya ke jemari Ajis.


"Sa-sayang? Adik sudah bangun?"


Ajis tersenyum bahagia. Ia mengusap matanya yang basah dengan segera, lalu bangkit dari duduknya dan mengecup dahi Zahrana.


Zahrana tersenyum, air matanya mengalir dari ruas tepi matanya. Ia terlihat menyedihkan untuk sesaat.


"Zahra mendengar suara Abang dengan jelas, tapi kenapa Zahra tidak bisa melihat wajah Abang dengan jelas juga ya?" Tanya Zahrana begitu polosnya.


"Eh?" Ajis termangu. Ia teringat akan ucapan dokter tentang kondisi istrinya yang semakin memburuk.


"Huh... Mungkin karena Zahra kelamaan tidur kali ya, Bang? Akan Zahra ulangi..." Ucap Zahrana sembari mengedipkan matanya berulang-ulang kali.


"Sayang, tidak apa-apa... Jangan dipaksakan ya..." Cegah Ajis. Suami Zahrana itu semakin menahan air matanya.


Zahrana menggeleng, ia seolah tidak terima dengan kondisinya saat itu. Kedua tangannya meraba-raba ke sekelilingnya, lalu bertumpu pada tempat tidurnya itu untuk bangkit.


"Abang, Zahra kok tidak bisa melihat dengan jelas? Ini mata Zahra kenapa?" Tanya Zahrana begitu panik. Ia mengucek kedua bola matanya dengan kasar.


"Tidak apa-apa, Sayang... Tidak apa-apa... Jangan dipaksakan ya..." Bujuk Ajis lagi sambil menahan kedua tangan Zahrana.


"Nggak mau... Zahra takut, Zahra bakal nggak bisa melihat lagi..." Isak Zahrana dengan tersedu-sedu. "Pasti ini gara-gara Zahra keseringan main HP... Besok-besok Zahra nggak bakal main HP lagi..." Ketusnya merutuki dirinya sendiri.


"Iya... Besok-besok sayang nggak bakal Abang ijinin buat main HP lagi. Kecuali buat telponan sama chat dengan Abang saja. Sayang bakal nurut, Kan?" Ucap Ajis dengan suara serak menahan tangis.


"Iya, Zahra janji... Nanti Zahra minum jus wortel banyak-banyak. Zahra mau makan rimbang juga... Itu kan bagus buat mata... Nanti Abang belikan ya..." Pinta Zahrana manja.

__ADS_1


Ajis mendekap Zahra dengan erat. Ia mengangguk keras. "Iya, Sayang... Abang nanti belikan buat Adik..."


"Apa kita sekarang ada di kamar? Hmm Pasti Abang lihat kamar kita berantakan ya? Maaf ya, Bang... Zahra nggak sempat bereskan... Zahra buru-buru mau pergi ke tempat Arya..." Zahrana terdiam. Tiba-tiba wajahnya tampak dipenuhi oleh rasa bersalah.


"Abang... Maaf... Zahra bisa jelasin semuanya tentang pertemuan Zahra dengan Arya... Itu tidak seperti yang Abang lihat... Zahra sama Arya…"


"Sst..." Potong Ajis cepat. "Adik tidak perlu jelasin apa-apa lagi... Abang yang salah... Abang yang terlalu cepat menyimpulkan tanpa mendengar penjelasan Adik terlebih dahulu... Maafin Abang ya, Sayang... Maafin Abang yang sudah menyakiti perasaan Adik terlalu dalam."


Zahrana meraba pipi Ajis dengan kedua tangannya. Ia menggamit pipi Ajis lalu mengecup bibir suaminya itu dengan sekejap.


"Abang tahu semuanya?"


"Iya, Sayang... Hidayat yang membuktikan kepada Abang tentang apa yang terjadi disana kemarin siang..."


"Kemarin siang? Kejadiannya sudah kemarin ya, Bang?" Tanya Zahrana tampak kebingungan.


"Iya, Sayang... Kemarin siang..." Jawab Ajis ikut bingung.


"Jam setengah tujuh pagi, Dik..."


"Astaghfirullahal'azhiim... Sudah berapa waktu shalat yang Zahra lewatkan? Zahra sungguh berdosa... Maafin Zahra Abang, Zahra sudah buat Abang berdosa juga..." Ucapnya panik.


Napas Ajis tersengal. Ia berusaha menahan isak tangisnya. Dalam kondisi begitu, istrinya masih saja mengkhawatirkan dirinya.


"Adik... Kita hari ini kedatangan tamu loh..." Ucap Ajis dengan berusaha membuat suaranya terdengar bersemangat.


"Oh, Ya? Siapa, Bang?" Tanya Zahrana terlihat begitu bergembira.


"Sebentar ya... Abang panggilkan dulu. Adik pasti senang atas kedatangan mereka..." Ucap Ajis.


"Iya, Abang... Tapi cepat ya, Zahra penasaran..."


Ajis turun dari tempat tidur Zahrana lalu berjalan keluar ruangan. Ia membuka pintu seperti orang yang tak bertenaga, lalu memandangi keluarganya itu satu per satu.

__ADS_1


Ibunya segera mendekatinya lalu menggenggam tangannya dengan kuat.


"Ibu..." Panggil Ajis lirih. Ia melepaskan tangisan yang sedari tadi ia tahankan di hadapan perempuan yang telah melahirkannya itu tanpa rasa malu.


"Sabar ya, Nak... Nak Zahra pasti sembuh..." Ucap Ibunya sembari mengelus-elus lembut lengannya.


Ajis perlahan bergerak kearah kursi panjang disana. Ia sudah tidak kuat membiarkan tubuhnya yang lemas berdiri terlalu lama.


"Dik Zahra cinta pertama dan terakhir Ajis, Bu... Ajis takut kehilangan dik Zahra... Tolong, Bu... Ajis tidak kuat... Ajis bahkan tidak sanggup hanya untuk membayangkannya..." Rintih Ajis. Ia merengek sambil bergelayut dan menangkupkan wajahnya yang basah pada jemari ibunya itu.


Semua keluarganya ikut terisak melihat kepedihan yang dirasakan Ajis, karena mereka juga merasakan hal yang sama, yaitu takut kehilangan Zahrana.


Umayyah Marwan, ayah mertuanya pun ikut duduk di sampingnya. Tangan Umayyah bergerak mengusap bahunya.


"Tapi sayangnya, Nak... Zahrana mengaku pada Ayah bahwa bukan kamu cinta pertamanya, apa kamu kecewa?" Tanya Umayyah.


Ajis terdiam sejenak. Lalu ia menggeleng keras. "Tidak, Yah... Kenapa Ajis harus kecewa jika cinta pertama dik Zahra adalah ayahnya sendiri?" Ucapnya begitu yakin.


"Kamu tahu itu?" Tanya Umayyah begitu terkejut.


"Dik Zahra menuliskannya dalam buku pribadinya, Yah... Dan Ajis dari semalam membaca buku itu. Ajis jadi senang ketika dik Zahra mengatakan dalam buku itu, bahwa Ayah adalah cinta pertama dalam hidupnya yang mengajarkan ia tentang arti kesetiaan yang sesungguhnya. Sehingga dik Zahra tahu bahwa pada akhirnya Ajis adalah cinta syurganya yang ingin ia pertahankan seumur hidupnya. Ia ingin cinta kami bersambung sampai Jannah, Yah..." Tutur Ajis sembari tersenyum membangga walau air matanya tak berhenti berjatuhan.


"Zahrana kami memang begitu, Nak..." Angguk Umayyah begitu terharu mendengar penjelasan Ajis.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2