SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
KISAH MUSLIM DAN SI KUCING TENGKU


__ADS_3

Zahrana merengut ketika ia sedang bercakap-cakap Dengan Ajis pada malam itu. Sementara Ajis, ia berusaha membujuk Zahrana dan meminta pengertian.


Ajis berencana hendak belanja secara langsung keluar kota. Dan itu berkemungkinan membutuhkan waktu sampai dua hari. Zahrana yang tidak terbiasa pisah semalam pun dengan Ajis selama pernikahannya, hanya merengut seperti tak rela.


"Kalau Adik tidak izinkan, Abang tidak akan pergi..." Ucap Ajis mengalah.


"Zahra tahu itu... Abang pasti akan membatalkan nya demi Zahra. Tapi bukan karena berharap begitu Zahra bertingkah seperti ini, Abang... Zahra Cuma tidak siap buat pisah sama Abang..." Ucapnya manja.


"Iya, maka dari itu Abang putuskan untuk tidak jadi pergi..." Putus Ajis menenangkan Zahrana


"Jangan, Abang... Abang pergi saja... Ini 'kan buat masa depan kita juga. Dagangan Abang bisa bertambah luas, dan Abang juga bisa menambah lapangan pekerjaan nantinya. Zahra nggak apa-apa, kok... Lagian ini 'kan penting buat Abang untuk lebih mengenal bos di tempat Abang berbelanja. semoga dengan ini, kehidupan kita bisa lebih baik kedepannya. Kita bisa membantu orang-orang kesusahan, terutama keluarga kita sendiri..." Tutur Zahrana sembari menyeka air matanya yang sempat lolos.


"Beneran, Adik tidak mengapa Abang tinggal?" Tanya Ajis mencoba membuat Zahrana ragu kembali dengan keputusannya. Sebenarnya ia juga tampak tidak rela meninggalkan istrinya itu selama ia keluar kota nantinya.


"Benar, Abang..." Tegas Zahrana.


"Tapi, kok Adik nangis begitu?" Goda Ajis sembari mencolek lembut dagu Zahrana.


"Masa Zahra nggak boleh nangis? Ini pertama kali loh, Zahra bakal pisah sama suami Zahra sendiri..." Sungutnya manja.


Ajis tergelak, ia kemudian meraih tubuh Zahrana dan membenamkan kepala istrinya itu ke dalam dadanya.


"Abang..." Panggil Zahrana lirih.


"Hmmm?"


"Sementara Abang keluar kota, Zahra boleh ikut Hidayat pulang ke rumah ayah dan ibu? Zahra kangen rumah..." Ucap Zahrana meminta.


"Memang Hidayat pulang?"


"Iya..."


"Kapan?"


"Besok pagi, katanya..."

__ADS_1


"Hmmm... Jadi bukan Abang yang ninggalin Adik ya, ceritanya... tapi Adik lah yang ninggalin Abang nih..." Rengut Ajis dibuat-buat-nya.


"Sama saja..." Ucap Zahrana berlagak Ketus.


"Hehehe... Ya sudah, kita sama-sama berangkat saja besok pagi, ya..."


"Yeeeyyy... Terima kasih ya, Bang..." Sorak Zahrana seraya bangkit dari dekapan Ajis. "Zahra telepon Hidayat dulu ya, Bang..."


"Iya, nanti kasih teleponnya ke Abang juga ya... Abang mau bicara dengan Hidayat..."


Zahrana mengangguk, ia menelepon Hidayat lewat panggilan video. Ketika sudah tersambung, ia mengatakan kepada adiknya itu, bahwa ia akan ikut pulang bersamanya besok pagi.


"Kenapa kak Zahra minta pulang, Bang? Apa kak Zahra sudah tidak lagi betah hidup bersama Abang?" Gurau Hidayat dari seberang ketika layar ponsel Zahrana beralih ke wajah Ajis.


"Husshhh... Ngomong apa kamu, Yat? Kakakmu ini katanya kangen Tengku... Ya sudah, Abang izinkan saja pulang jika bersamamu..."


"Hahaha... Hidayat pikir Kak Zahra sudah bosan dengan Abang." Ledek Hidayat sambil terbahak-bahak.


"Tidak-lah, Yat... Mana mungkin itu... Kakakmu ini saja tidak bisa hidup, jika tidak bersama Abang..."


"Tuh, kan... Kamu lihat sendiri kakakmu sampai malu begitu..." Tambah Ajis lagi.


"Abaaang..." Pekik Zahrana yang benar-benar malu.


"Alaaah... Palingan Abang yang tidak akan kuat ditinggal Kak Zahra, nantinya. Hidayat berani bertaruh untuk itu..." Tantang Hidayat merasa yakin.


"Hahaha... Kalau ucapanmu benar, kamu mau apa, hah?" Tanya Ajis balas menantang.


"Bujuk Tengku buat pisah sama bang Muslim..." Seru Hidayat cepat memberi tantangan sambil tertawa terbahak-bahak.


"Hah?" Ajis ternganga. "Kembalikan saja istriku sesegera mungkin..." Ketus Ajis seolah tak berani menerima tantangan Hidayat.


Sontak, Zahrana dan Hidayat terbahak mendengarnya. Sementara Ajis, menatap mereka dengan tatapan jengkel. Usai telepon berakhir pun, Ajis masih saja menggerutu mengingat tantangan yang diberikan Hidayat tadi.


"Ada-ada saja..." Gelengnya. "Sama saja Abang memisahkan Tengku dengan induknya..." Gerutu Ajis semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Zahrana hanya menutup mulutnya untuk menyembunyikan tawanya yang sejak tadi masih ia tahan.


"Tapi, Dik... Kok bisa ya, Tengku yang sering berantem sama Muslim, malah tidak mau pisah sama dia? Kan aneh..." Tanya Ajis mulai tampak bingung memikirkan hal itu.


Zahrana berdehem berupaya menghentikan paksa tawanya untuk menjawab pertanyaan suaminya itu.


"Begini, Abang... Jadi, dulunya itu Muslim lah yang menemukan Tengku di dekat tumpukan sampah Desa. Muslim waktu itu masih kelas tiga SMA. Ia anak yang begitu penyayang meskipun mulutnya asal ceplos, dan terkadang suka pedas membuat orang-orang mudah tersinggung karenanya. Muslim merawat Tengku dengan penuh cinta dan kasih, sampai tidak boleh ada seorang pun yang memarahi Tengku selain dirinya sendiri. Padahal Tengku hanyalah kucing biasa yang kadang juga nakal suka curi-curi makanan rumah. Tengku itu juga nama pemberian dari Muslim loh, Bang..."


"Begitu kah?"


"Iya... Pernah suatu hari, Muslim berangkat berkemah selama tiga hari lamanya. Tengku sampai tidak mau makan dan cari-cari Muslim kemanapun. Kami yang di rumah tak sengaja lengah, Tengku hilang. Ketika hari kepulangan Muslim, Tengku juga tidak kunjung bertemu. Muslim yang menyadari bahwa kucing kesayangannya itu hilang, ia menangis sejadi-jadinya. Hahaha... Padahal dia udah besar waktu itu. Tapi cuma gara-gara kucing, dia sampai jadi cengeng loh, Bang..."


"Terus, Tengku ketemu di mana jadinya?" Tanya Ajis begitu antusias mendengar kisah Muslim, adik iparnya dan si kucing Tengku.


"Di tempat Muslim sering ngajak ia main. Di belakang sekolahnya. Tengku ditemukan dalam keadaan kurus karena berhari-hari tidak makan. Muslim bahkan sampai rela terus-terusan berada di samping Tengku sampai Tengku sembuh."


"Terus, waktu Abang pertama kali melihat Adik, kenapa Tengku bisa bermain bersama Adik di pantai itu?" Tanya Ajis lagi semakin dibuat penasaran dengan kisah Muslim dan si Tengku.


"Owh... Hehehe... Itu... Zahra jahilin Tengku..." Cengirnya seperti sedang mengingat sesuatu hal yang lucu.


"Jahilin bagaimana?" Tanya Ajis lagi semakin serius mendengarkan cerita Zahrana.


"Waktu itu Muslim sekolah sore. Nah, si Tengku malah nakal mencuri makanan di dapur. Jadi, Zahra diam-diam bawa Tengku ke pantai dan mengancam akan meninggalkannya disana. Nah, si Tengku yang mengerti maksud Zahra, ia malah tidak terima dan mengejar Zahra terus. Ia seperti takut jika Zahra benar-benar meninggalkannya waktu itu." Tutur Zahrana di sela-sela tawanya.


"Hahaha... Jadi begitu ceritanya. Ternyata Adik jahil juga, ya..." Ucap Ajis seraya mengapit erat tubuh zahrana ke dalam dekapannya. Zahrana hanya tertawa mengingat kekonyolan dirinya terhadap Tengku kala itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2