SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
MASA LALU 7


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu sejak saat Ari membawa Zahrana ke rumahnya untuk meminta restu atas hubungan mereka, namun ditolak mentah-mentah oleh ibunya itu.


Aridiansyah menatap sengit kepada ibunya yang memaksa masuk ke dalam kamarnya pada hari itu. Memang sejak kejadian itu, Ari mengurung diri di kamarnya. Ia tidak mau keluar dari tempat peraduannya, bahkan ia sampai mengancam akan resign dari pekerjaannya jika kedua orang tuanya tidak juga menyetujui hubungannya dengan Zahrana.


"Ada apa lagi sih, Bu? Ari kan sudah bilang, Ari tidak mau mendengar apapun kecuali jika Ibu merestui Ari menikah dengan Zahrana..." Ketusnya seraya berjalan Kembali ke tempat tidurnya.


"Tapi kenapa harus Zahrana, putrinya bu Zainab itu, nak?" tanya ibunya terdengar mengiba. Suara Ibu Ari berubah lunak kali itu. Beliau melangkah masuk mendekati Ari.


"Salahnya dimana dengan Zahrana Jika ia adalah putrinya Bu Zainab, Bu? Dia gadis baik... Dia mampu membuat Ari merasa bahagia dalam hidup Ari. Dia juga membuat Ari melupakan semua kepedihan yang Ari rasakan..." Jelas Ari tampak habis pikir dengan ketidaksukaan ibunya terhadap Zahrana ataupun Bu Zainab.


"Ibu tidak suka saja..." Jawab ibunya terdengar lirih.


"Tapi alasannya apa, Bu? Setidaknya beri Ari penjelasan mengapa ibu tidak menyukai keluarga bu Zainab..." Desak Ari mulai menatap ibunya.


"Pokoknya Ibu tidak mau berbesan dengan perempuan yang Ibu gaji untuk menjadi pengasuh kamu dulu..." Ujar Ibu Ari semakin kekeh pada pendiriannya.


Ari menggeleng kecewa, "Ibu aneh..." Ucapnya dengan raut mengejek.


"Terserah, kamu! Yang penting Ibu tidak setuju dengan keputusan kamu itu. Kamu sebagai anak harus patuh kepada orang tua, Ari..." Dengus ibu hendak berlalu keluar dari kamar Ari.


"Baiklah, Bu... kalau memang itu keputusan Ibu, biar Ari sekalian pergi dari hidup ibu dan ayah... Mungkin selama ini kita bisa bertemu dan berkumpul sekali sebulan, tapi setelah ini, Ibu tidak akan pernah melihat Ari lagi..." Ucapan Ari tidak hanya sekedar ancaman, ia menunjukkan kenekatannya dengan bergegas mengemasi barang-barangnya ke dalam koper.

__ADS_1


Ibu Ari berbalik. Wajahnya panik penuh ketakutan. Ia mengejar posisi Ari dan berusaha mencegah kepergian anak semata wayangnya itu dari rumah.


"Ari... Ibu mohon, Nak... Tolong jangan mempersulit Ibu... Tolong..." Pinta Ibu Ari memelas. Matanya memerah dan berkaca-kaca.


"Ibu yang selama ini mempersulit Ari... Selain dari urusan Zahrana dan keluarganya, apa Ibu pernah mengurusi Ari? Apa Ibu pernah menanyai keadaan Ari?" Ari menatap Ibunya dengan lekat tanpa mengharapkan jawaban, karena ia memang sudah memiliki jawabannya.


Ibu Ari terdiam. Beliau tak mampu lagi berkata-kata, bahkan untuk membalas tatapan putranya saja beliau tampak tak sanggup.


"Ibu tidak pernah melakukannya untuk Ari, Bu... Selama ini Ari sendiri... Di rumah besar ini sendiri, belajar sendiri, makan sendiri, bermain sendiri, semuanya sendiri... Ibu dan Ayah bahkan tidak pernah menyempatkan hadir setiap kali ada undangan sekolah... Hanya Ari yang tidak punya orang tua meski orang tua Ari masih hidup..." Ucap Ari lirih seakan menjawab pertanyaannya sendiri kepada ibunya itu.


Ari menjatuhkan dirinya bersimpuh di kaki ibunya itu. Dia menangis sambil memegangi betis ibunya. "Ari mohon, Bu... Tidak lebih pinta Ari selain Ibu restui Ari dengan Zahrana..." Ucapnya lagi dengan memohon.


Ibu Ari mencoba menahan tangisnya meski air matanya telah berjatuhan bebas di pipinya itu.


Ari perlahan tersenyum sembari menengadah ke wajah ibunya. "Benarkah, Ibu?" Tanya Ari seolah masih ragu untuk percaya.


"Tapi ada syaratnya..." Cetus Ibu Ari.


"Sya-syarat?" Ari mengusap kasar pipinya yang sempat basah, lalu bangkit untuk menatap ibunya itu.


"Iya... Syarat yang harus kamu penuhi jika kamu bersikeras ingin menikahi putrinya bu Zainab..." Ucap Ibu Ari memperlihatkan keangkuhan dirinya.

__ADS_1


"Syarat apa, Bu?" Tanya Ari kembali ragu.


"Setelah kalian menikah, kalian harus tinggal di rumah yang ibu pilihkan. Kalian tidak boleh tinggal bersama keluarga mereka..." Ujar Ibu Ari.


"Hanya itu, Bu?" Tanya Ari tampak senang kembali setelah mendengar persyaratan dari ibunya yang begitu mudah, meski ia sendiri tidak tahu apa alasan ibunya meminta hal yang demikian.


"Iya, hanya itu..." Angguk ibu Ari. "Itu pun kalau dia bersedia setelah menjadi istrimu nanti..." Sahut Ibunya masih terlihat angkuh.


"Baiklah, Bu... Apa pun persyaratan dari Ibu, pasti Ari turuti. Yang penting Ibu merestui Ari menikah dengan Zahrana..." Ujar Ari kesenangan. Ia langsung memeluk ibunya itu.


Untuk kali itu Ari tidak pernah berpikir, entah kapan terakhir kali ia memeluk sosok wanita yang menjadi ibunya itu.


Ibu Ari tersentak, ia merasakan kehangatan yang begitu lama tidak pernah ia rasakan. Beliau juga ragu, kapan terakhir kali putranya itu memeluk dirinya, dan itu juga demi Zahrana kala itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2